
Melihat Sania untuk pertama kalinya membuatku jatuh cinta. Sania mengingatkan aku dengan ibu angkatku.
Warna rambut dan mata yang sama, yang membedakan keduanya hanya poster tubuh. Sania memiliki tinggi gadis Asia.
Sudah satu bulan kami menikah,Sania tidak berubah. Ia memintaku agar para pelayan tidak menyentuh kamar utama dan area dapur adalah miliknya.
"Aku merasa dihargai sebagai suami, sekarang aku mempunyai koki pribadi",ucap Sean.
*/*/*/*/*
"Hi,honey. Good morning", ucap Sania mencium bibir Sean dengan lembut.
Kebiasaan seperti ini,yang paling Sean suka dari Sania, kecupan pagi hari.
Sean bisa merasakan kenyalnya bibir Sania. Rasanya tidak bosan setiap Sania melakukannya.
"Honey,what is your favorite food?", tanya Sania kepada Sean.
"Is that very important?", tanya Sean.
"Yes,because I want to be the best wife for you", ucap Sania.
"Mengapa dirimu sangat memperhatikanku?" tanya Sean kepada Sania dengan meletakan dagunya dipundak Sania yang terbuka.
" Kau istimewa Sean. Terutama disini". Sania menyentuh dadanya.
"Thank you my love,my best husband", ucap Sania dengan kecupan bibir yang hangat.
"Kemarilah", Pinta Sean.
"I'don't cry anymore,Sean", ucap Sania.
"Really I don't like it,Sania", ucap Sean dengan menghapus jejak airmata Sania.
"Aku alergi dengan makanan laut,jadi jangan hidangkan itu", ucap Sean.
"Okay,my love", ujar Sania
"Kau bisa memasak ini,omelet ala Italia?",tanya Sean.
"Iya, kau suka",tanya Sania.
"Lain kali,buatkan yang lebih banyak. Terutama keju dan sayur,karena aku sangat menyukainya, tanpa sosis", Sean request.
"Aku juga sangat suka sandwich telur dan tidak suka sosis", Sania tertawa mendengar makanan favorit Sean.
"I know honey,okay?", ucap Sania.
Sean mencium kedua pipi Sania yang putih. Aku akan memberikan senyuman ini setiap pagi.
"Para pelayan sudah datang,aku harus pergi kekantor", ujar Sania.
"Bukankah hari ini jadwalmu mengunjungi Phoenix", Sean mengingatkan Sania dengan kunjungannya.
"Iya, sayang. Terima kasih telah mengingatkanku. Jaga dirimu, jangan terlalu lelah", pesan Sania.
__ADS_1
"Selamat bekerja,sayang". Sania melambaikan tangannya sampai mobil Sean tidak terlihat.
Setelah mobil Sean menghilang dari pandangan,Sania baru mau masuk kerumah.
"Bi..?".
"Iya, Nya".
"Masaklah apa yang kalian suka", ucap Sania.
"Ny.Sania tidak memasak untuk makan siang", tanya bibi.
"Tuan tidak pulang dan saya juga mau keluar", ucap Sania.
"Iya,Ny.Sania".Para pelayan menutup pagar setelah Sania pergi.
*/*/*/*/*/*/*/*
"Halo, Alan. Apakah dirimu sibuk hari ini?",tanya Sean.
"What's up, Sean?",tanya Alan.
"Ada hal penting yang harus ku bicarakan padamu", ujar Sean.
"Sebaiknya dirimu kerumah sakit,karena aku tidak bisa keluar hari ini", balas Alan.
"Baiklah, sekarang aku akan keluar", jawab Sean
"Ms. Siska", panggil Sean.
"Immediately my room",ucap sean melalui telpon.
"Yes, sir".
tok... tok... tok...
"Come in,Ms.Siska", ucap Sean dari dalam.
"What's wrong sir called me?",tanya Siska.
"I want to go out, cancel all my meetings this morning", perintah Sean.
"Yes, sir".
Siska beranjak pergi meninggalkan ruangan direktur.
Sean keluar dari kantornya dan melajukkan mobilnya membelah jalan raya.
Kurang lebih tiga jam, baru ia sampai kerumah sakit.Tidak lama ponselnya berbunyi.
"Naik kelantai dua, Sean".
"Oke!!".
Sean memasuki life menuju lantai dua.
__ADS_1
"Hai, Alan?", sapa Sean.
"Hai, brother?", balas Alan berdiri menyambut kedatangan Sean.
"Apa kabarmu, Sean?", tanya Alan.
"I am fine, Alan", ucap Sean.
"Aku sudah menikah Alan", Sean memberi kejutan.
"what!", Alan tak percaya.
"How long has it been?",tanya Alan.
"It's been a month",ucap Sean.
"Mengapa kau rahasiakan ini?",tanya Alan.
"Aku tidak pernah merahasiakannya darimu, tetapi salah dirimu susah untuk dihubungi, jawab Sean.
"Entah mengapa aku sangat menyukai dirinya dan memutuskan menikah". Sean tersenyum mengenang awal ia bertemu Sania.
"Alan, adakah wanita yang selalu perawan, Walaupun ia sudah berhubungan berkali-berkali dengan suaminya", tanya Sean.
"Tentu saja tidak ada, Sean". Jawab Alan lugas.
"Lalu mengapa hal ini bisa terjadi pada Sania, yang sudah pernah memiliki anak", ujar Sean.
"Itu, tidak mungkin, Sean. Pada umumnya, wanita hanya satu kali memiliki keperawananan", ujar Alan.
"Tapi, Sania berbeda Alan". Sudah satu bulan kami menikah,tetapi ia tetap saja masih perawan, seperti tidak pernah disentuh oleh siapa pun".
Jelas Sean kebingungan, ia bisa merasakan sempitnya milik Sania. Saat ia melakukan penyatuan.
"Kau tahu Alan?".
"Apa..?",jawab Alan lagi.
"Sania sangat menjadi lebih agresif dan anehnya,aku seperti singa kelaparan yang sedang menikmati mangsa.
Terkadang aku kasihan melihatnya.
Dalam satu malam kami bisa berhubungan sampai empat kali bahkan lebih.
Dan aku tidak merasa lelah,malah Sania yang kelelahan. Apakah aku berubah menjadi pria yang hipersexs?", tanya Sean.
"Aku tidak pernah mengalami ini bersama Leticia. Aku takut saat berhubungan dengan Leticia,aku berubah menjadi pria gila ****.
"Apakah dirimu pernah menceritakan ini pada Sania?",tanya Alan.
"Tidak.
"Cobalah Kau bicarakan tentang hal ini bersama Sania, setelah selesai olahraga ditempat tidur",saran Alan kepada Sean.
"Hahah...?. Kamu bercanda Alan, ngak lucu", ucap Sean.
__ADS_1