
Kehadiran Sania sebagai anak pak Aris, membuat keluarga besar Atma Wijaya gerah dan juga kesal.
"Anakmu itu mas,sungguh keterlaluan.
Sekian lama menghilang, tiba-tiba muncul sebagai orang asing dan pura-pura tidak mengenali kita.
Jangan sampai Sania mempermalukan Keluarga kita, mas". Aku ngak terima, ujar Saras adik Surya dengan wajah merah setelah meluapkan unek-uneknya yang sejak semalam ia tahan.
Kalau tante Saras dan om Hartono tidak terima dengan Kehadiran Sania, bicara saja dengan Keluarga Pak Aris dan jelaskan kepada mereka apa hubungan Sania dengan keluarga kita.
"Firman..jaga bicara mu", Surya memperingati Firman agar tidak menambah masalah lagi.
"Kenapa, ayah juga tidak terima.
Burukkah dia dimata kalian. .engapa harus marah pada Sania?.
Apakah kalian marah Karena Sania tidak memperkenalkan kalian sebagai Keluarganya?", tanya Firman dengan tersenyum sinis.
"Firman..... cukup,teriak Surya.
Aku keluar ingin menemui adikku.
Brraak...
Firman membanting pintu kamar sangat keras membuat yang ada didalam menjadi kaget.
Setelah keluar dari kamar Firman menuju taman di hotel tempat keluarga mereka menginap.
__ADS_1
Firman tidak sengaja melihat Sania berdiri ditengah taman.
"Sania....!
Sania sangat terkejut,karena pundaknya disentuh seseorang. Saat berbalik, ia melihat Firman sudah berdiri dihadapannya.
"Kak Firman", panggil Sania dalam hati.
"Apa kabar,kak?". Sania menatap bola mata yang sama mirip dengannya. Ada kerinduan disana.
Firman memeluk Sania dan menangis. "Kabar kakak jelek, setelah kepergianmu. Kau menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Kakak merindukanmu,Sania",ucap Firman diselah tangisnya.
Sania hanya diam mendengar ungkapan kerinduan kakak laki-lakinya. Sejak dulu yang selalu melindunginya.
"Maaf,kak. Aku pergi karena tidak ingin mendengar ayah, ibu dan kakak tidak akur karena kehadiranku.
Seandainya kita bertemu kembali, anggap saja kita tidak saling kenal. Kakak tahu bagaimana sifat tante Saras dan om Hartono", ujar Sania.
"Baiklah kalau itu menjadi keinginanmu", ucap Firman pasrah dengan keputusan Sania.
Membiarkannya berlalu pergi, hanya kehampaan yang tertinggal.
Sania selalu pergi keatas atap hotel,jika ada masalah. Tempat yang nyaman untuk mencari ketenangan.
"Hai, malam aku datang,sudah lama kita tidak bertemu. Lukaku masih mengangga lebar.Masih adakah waktu untuk menutupinya,jika ada berilah kesempatan,aku untuk menikmatinya.
__ADS_1
"Ungkap Sania di dalam hati sebagai gambaran kalau dirinya tengah resah.
"Aku rasa malam ini,akan terasa lebih panjang. Kau kembali dengan tampilan yang berbeda.
Hotel Dream Phoenix,ternyata milikmu.
Aku berusaha mengajukkan kerjasama,tetapi proposalku selalu ditolak.
"Mengapa Sania?. Aku mencarimu sampai saat ini,tetapi dirimu menghilang seperti lenyap ditelan bumi.
Sania terkejut mendengar suara yang tidak asing ditelinganya. Orang yang ingin ia lupakan bertahun-tahun yang lalu.
Diky.
Sania..
Diky menarik tangan Sania dan memeluk erat tubuhnya.
Sania terlena merasakan hangatnya pelukan pria yang dicintainya sampai saat ini.
Sehingga kesadarannya kembali mengingat kalau ini tidak pantas lagi ia lakukan karena ada batasannya tidak boleh ia langgar.
Sania mendorong dada Diky menjauh darinya. "Aku bukan milikmu lagi. Kisah kita sudah berakhir beberapa tahun yang lalu", ucap Sania.
"Itu menurutmu, tidak denganku. Aku tidak akan melepaskanmu lagi,Sania". Bantah Diky tidak terima dengan penolakan Sania dan berlalu pergi.
Setelah Diky pergi. Sania memukul dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
"Maafkan aku Diky", Sania memeluk kedua kakinya menangis pilu diantara rindu.
Kalista yang mendengar rintihan hati Sania, merasa pilu dan miris,sampai-sampai tangannya gemetaran.