PAHIT

PAHIT
BAB 37


__ADS_3

Setelah makan,kami berjalan-jalan lagi menyusuri setiap toko-toko yang berjejer rapi.


"Sania berbelanja", tawar Sean saat melihat Sania tersenyum setiap melihat barisan toko yang menjual berbagai pernik wanita.


Sania menoleh kearah Sean yang berjalan dengan bergandengan tangan.


"Aku tidak suka berbelanja,yangku suka menikmati makanan dan berjalan seperti ini selalu bersamamu", ucap Sania.


"Really?",tanya Sean dengan mengecup bibir Sania.


"Yes",Sania kaget dicium Sean ditempat umum.


"Sean ini ditempat umum",ucap ku kesel.


"Sayang,ini Paris bukannya Indonesi, Jadi semua orang bebas melakukannya bersama pasangannya.


"I forgot,baby?",ucapku dengan menepuk jidad. Saat kami asyik berjalan,tiba-tiba dihadang seseorang,yang menghentikan langkahnya kami.


"Mr.Sean Alexsander,I didn't expect to see you again.


Aku memperat pelukkanku, Karena aku tidak suka melihat pria ini.


"Hello,Evan Shelvano, how are you?",ucap Sean hanya sebagai basa basi,karena ia tidak ingin membuat Sania takut.


"I have thrown away Leticia,she is no longer useful?",Evan ingin melihat reaksi Sean tentang Leticia,karena saat ini ia melihat Leticia sedang menguntiti Sean.


Sean memegang kedua bahu Evan,


"It's up to you,what to do with me",ucap Sean dengan santai.


"If you still like it,take it I don't care",ucapan Sean membuat telinga Evan panas.

__ADS_1


Ternyata Sean tidak terpengaruh dengan keadaan Leticia. Apakah karena wanita ini, siapa dia?. Apa hubungannya dengan Sean?. Gumam Evan dalam hati.


Sean sangat kaget melihat seorang wanita parubaya keluar mendekati Evan dan membelai wajah Evan dengan penuh kasih sayang.


"What happened,boy?". Suaranya yang lembut,membuat Sean jijik mendengarnya.


"Nothing,mom?",ucap Evan kepada sang ibu.


Wanita Itu melihat kearah Sean, dan tersenyum merangkul Evan masuk disebuah restoran mewah.


"Mom". Itulah yang ucapan Sean. Walaupun lirih Sania masih bisa mendengarkannya.


Sania menatap nanar pada perempuan yang telah membuang suaminya dipanti asuhan demi kebahagiannya sendiri.


Mata Sania terasa hangat. Airmataku bergulir, Sean melihat kearahku.


"We go, honey?",kita tinggalkan tempat ini. Pinta Sean kepada Sania.


"Akanku hancurkan mereka,Sania?.Akanku hancurkan".


Sean menangis sejadi-jadinya saat memasuki lift,ku biarkan dia melepaskan rasa kesal dan sesak didadanya.


"Apakah papaku juga ada dikota ini?. Kalau mereka berkumpul disini,akan ku buat perhitungan",ujar Sean.


"Sean tenanglah,tenangkan hatimu.Kita pulang sayang,kita pulang. Kita bicarakan ini dirumah", Sania menguatkan Sean yang rapuh.


"Sania,jangan tinggalkan aku seperti mereka. Jangan tinggalkan aku, jangan Sania".


Sean mengingat-ingat kembali, bagaimana ibunya tanpa ada rasa kasihan menitipkannya dipanti asuhan.


"Apakah hanya dia yang ingin bahagia?.

__ADS_1


Kalian egois padaku sebagai orangtua.


Aku benci kalian dan sangat membenci kalian",gumam Sean dalam hati.


Saat mereka berkumpul,wanita itu bertanya kepada putranya.


"Who is that man, boy?",wanita Itu bertanya siapa pria yang disapa anaknya


"Business rivals",jawab Evan.


Selama ini ia berusaha menghancurkan Sean,tetapi Sean tidak pernah tergoyahkan.


Sean adalah pria jenius dari sekolah menengah sampai kuliah. Inilah yang membuat Evan kalah bersaing.


"Is he Sean Alexsander,ucap tuan Erik Shelvano", Evan terdiam bagaimana papanya tahu tentang Sean Alexsander.


"I don't understand,why you are so stupid".


Telinga Evan terasa panas,mendengar ucapan papanya, yang mengganggap ia tidak berguna.


"See the news,in four months,he is able to compete with our company",Erik melemparkan majalah kearah Evan.


Evan membuka dan membaca berita tentang Sean,yang berhasil bersaing dengan perusahaan besar dan menguasai tender-tender besar sekaligus penting.


Sean makin terkenal setelah menjadi model brand berlian-berlian keluarga Agresia.


Evan meremas majalah yang ada ditangannya.


Mia tidak bisa berbuat banyak untuk menolong putranya.


Ia hanya terdiam,apakah ini karma bagi karena telah membuangnya putranya yang lain.

__ADS_1


"Apakah mata birunya,masih bisa memaafkanku,yang egois", gumamnya dalam hati.


__ADS_2