
"Sania sudah menerima pesan dari Phoenix, kalau ia tidur dikamar David.
"Tet.. tet... tet...
"Siapa,sih yang membunyikan bel,omel Romy karena masih mengantuk.
"Mungkin,layanan kamar,jawab David?
"Sana..
"Buka,gue masih mau tidur.
"Klik.. kunci pintu dibuka.
"Romy kaget karena Sania sudah berdiri didepan pintu.
"Sania..
"Mana anakku,tanya Sania kepada Romy.
"Romy,hanya terdiam melihat Sania masuk santai kedalam kamar.
"Ia duduk dipinggir tempat tidur,tersenyum melihat wajah polos putrinya.
"Sania menegakkan kepalanya,untuk menghindari airmatanya yang saat ini sedang mengendang dikelopak matanya.
"Phoenix....
"Sayang...
"Bangun dong,katanya mau melihat tante Kalista menikah.
"Ibu...
"Lima menit lagi, bu..?"Phoenix masih ngantuk?
"Sania tidak tinggal diam,ia mencium pipi Phoenix.
"Ini ciuman pipi terakhir dari ibu dipagi hari, batin Sania.
"Ibu...
"Phoenix akhirnya terpaksa bangun,karena tidak tahan digumuli sang ibu.
__ADS_1
"Kalau Phoenix masih malas bangun,ibu akan nikahkan Phoenix dengan Uncle David hari ini juga.
"Entah mengapa kata-kata itu terlontar dari mulut Sania.
"Kau ibu yang gila,Sania?"teriak David.
"Biarkan saja,aku tidak masalah punya menantu seumuran denganku.
"Kikk... kikk...
"Romy tertawa, melihat sikap polos David.
"Jangan lupa datang,diacara Akad nikah.
"Siapa tahu Lo juga gue nikahin sama Phoenix,ucap Sania dengan tersenyum geli melihat David meraup wajahnya,kesel.
"Phoenix tidak ambil pusing dengan kata-kata ibunya,dia hanya heran mengapa ibunya tidak terlihat sedih,ibu memang pintar menyembunyikan kesedihannya,batin Phoenix.
**//**//**//**//**//**//**
"Sudah mbak,tanya Sania kepada tata rias yang sedang merias seluruh keluarganya.
"Sania pakaian Ini terlalu mewah untuk, bapak?"ucap pak Aris.
"Hah.... kau seperti anak kecil kalau sedang marah,melebih Phoenix.
"Hihii.... Phoenix tertawa lirih melihat sikap ibunya yang lucu.
"Karena Sania ingin melihat kalian tampil mewah,ucap Sania dengan wajah sedih.
"Ibu akan menuruti keinginanmu,sahut ibu Sari
"Ibuku memang pengertian,ucap Sania bangga.
"Tok... tok... tok...
"Sania menoleh kearah pintu,ia melihat Pak Bram sudah membawa berkas yang telah ia pesan.
"Sania memeriksanya dengan teliti.
"Apakah ibu yakin untuk melakukan hal ini, tanyanya Bram karena melihat usia Phoenix yang baru menginjak usia lima belas tahun.
"Tentu saja saya yakin,karena orang yang ku harapkan,telah menghancurkan hatiku.
__ADS_1
"Sania...
"Mengapa kau memanggilku,ucap Romy.
"Pak Bram dan kau Romy ikut aku.
"Masuklah.
"Romy baca ini,ucap Sania dengan memberikan kertas kepada Romy.
"Romy membulatkan matanya melihat kertas yang dibacanya.
"Apakah kau benar-benar ingin melakukan ini?
"Iya,demi putriku.
"Aku lelah dengan dunia ini,Romy.
"Aku mau istirahat selamanya.
"Sekarang kau harus bisa membawanya, dengan menepuk pundak Rony.
"Baiklah.
"Sania sudah membulatkan tekadnya, relung hatinya sudah terluka sangat dalam menggangga lebar dan hancur berkeping-keping.
"Pria yang ia harap-harapkan telah membuatnya bagaikan perempuan yang sangat hina.
"Semalaman ia menangis,untuk menutupi rasa kekecewaanya,terhadap Diky.
"Bu..
"Iya,ada apa?
"Seluruh tamu undangan sudah datang, lapor salah satu staff hotel yang telah diberikan tugas.
"Perketat keamanan,saya tidak mau acara ini terganggu,apakah seluruh media sudah datang dan tamu-tamu penting sudah memenuhi kursi VIP.
"Sudah,bu!"semuanya sudah siap.
"Romy dapat melihat dari gerak gesture tubuh Sania,seperti ada beban yang dipikulnya saat ini.
"Dari raut wajahnya ada luka yang tersembunyi,yang ia simpan dibalik senyum dan ketegasannya sebagai atasan.
__ADS_1