PAHIT

PAHIT
BAB 6


__ADS_3

"Cukup Firman...!!


Bentak Surya kepada Firman putra satu-satunya garis keturunan Surya Atma Pratama.


"Ayah tidak suka dengan sikap dinginmu ini. Sampai kapan kau membenci ayah", ucap Surya kepada Firman.


"Aku tidak pernah membenci,ayah. Sedikit pun tidak pernah. Dan untuk apa juga aku melakukannya bikin stres", jawab Firman.


"Apakah ayah bahagia?.


Tapi aku tidak bahagia,ayah. Adik ku diluar sana, sendirian. Ia tidak membawa apa-apa saat pergi dari rumah ini", ungkap Firman.


"Ayah tidak pernah mengusir, Sania dari rumah ini?",jawab Surya.


"Tidak, ayah?.


Itu tidak benar. Ayah sudah mengusir Sania sudah sangat lama. Apakah ayah,lupa?", tanya Firman.


"Bukan hanya dari rumah saja ayah mengusirnya, tetapi dari hati ayah juga membuangnya", ucap Firman pada ayahnya.


"Anak kalau diusir pergi dari rumah,ia pasti akan kembali,karena itu tempat ia bernaung.


Tapi kalau sudah diusir dari hati. Apa lagi yang diharapkan?.


Maka rumah pun terasa neraka", ucap Firman pada ayahnya lagi.


"Ayah!


Beda rasanya diusir rumah dengan diusir dari hati.

__ADS_1


Suatu saat ayah akan merasakannya bagaimana diusir dari hati oleh putri ayah sendiri.


Semoga masih ada pintu maaf dihati Sania untuk yang namanya ayah", ucap Firman berlalu pergi meninggalkan ayahnya.


Aku hanya bisa berdiri seperti patung mendengar kata-kata putraku. Baru kali ini aku melihat Firman begitu marah padaku.


Ucapannya terasa menusuk kedalam hati dan pikiranku.


Terlukakah Sania saat ini?.


******


Dari perbatasan.


"Sania..!"


Panggil pak Aris.


"Iya!


Ada apa pak Aris?.


"Minggu ini terakhir saya dan Nyoman berjaga disini", ujar pak Aris.


Sania merasa aneh mendengar ucapan pak Aris.


"Maksud,pak Aris?. Tanya Sania yang mendadak bibgung menunggu jawaban.


"Saya dipindah tugaskan, kembali kekota asal", ucap pak Aris dengan wajah berbinar.

__ADS_1


"Saya turut bahagia. Mendekati usia penisun bapak mendapatkan surat perintah", ucap Sania.


"Tapi, bapak khawatir meninggalkanmu disini. Ibu meminta supaya kamu menjadi ajudan bapak dan ikut pindah bersama kami", pinta pak Aris.


Sania menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak ingin ada korban baru, karena ulah saya. Sudah banyak yang menjadi korban, cukup sudah.


Hanya setahun, tidak masalah buat saya. Asalkan tidak ada korban baru", ujar Sania kembali melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak menuju pos.


Kejadian beberapa tahun yang lalu, membuatnya menjadi abdi negara digaris depan. Menjaga NKRI yang menjadi harga mati.


Hanya ada dua pilihan penjara atau membela negara. Mengingat nama besar keluarga yang tidak coreng karena ulahnya. Ia memilih menjaga NKRI.


Getir.


Itulah yang ia rasakan saat ini.


Masih terbayang dalam ingatannya. Saat barang haram itu tersimpan apik didinding kamarnya.


Tuduhan sebagai tersangka dialamatkan padanya. Niat menolong, menjadi dikhianati.


"Dicky milikku, Sania. Kalau seperti ini, kecil kemungkinan Dicky berpikir ulang untuk mencintaimu", Sania hanya memejamkan matanya mendengar ucapan sang sahabat.


Hanya satu yang menjadi kekhawatirannya. Kisah cinta satu malamnya. Yang menghasilkan seorang putri, yang ia titipkan dengan ibu panti asuhan milik almarhuma ibunya.


"Bapak tetap menanti kedatanganmu, setelah kau menyelesaikan tugasmu. Tak masalah, satu tahun bukanlah waktu yang lama", ucap pak Aris.


"Saya tidak bisa berjanji,pak. Melihat tugas yang diberikan kepada saya tidaklah mudah. Sudah tersusun dan terencana dengan baik", ucap Sania.

__ADS_1


Suatu saat aku akan kembali, hanya tinggal menunggu waktu. Tunggu mama,sayang. Ujar Sania dalam hati.


__ADS_2