
"Alhamdulillah,akhirnya sampai dirumah. Aku sudah menghubungi pelayan untuk membersihkan rumah besok.
Aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi",ucap Sania dengan memberikan kecupan di pipi Sean.
"Mandi barengan aja,yah?", Sean mengedipkan matanya, yang dibalas Sania dengan helaan nafas pasrah.
"Terserah. Dicegah percuma saja,ngak kemakan", ujar Sania.
Sean tersersenyum geli berhasil membuat Sania kesal.
"Bagaimana kalau besok kita melihat Phoenix",usul Sean.
"I really miss him", tanya Sania tak percaya.
"Aku membayangkan,bagaimana phoenix menyayanginya adik-adiknya?
Akhirnya,aku bisa merasakan mempunyai keluarga yang utuh.
Nanti aku akan membangun rumah yang lebih besar dari pada ini, aku tidak izinkan dirimu bekerja.
Sebagai anak yang paling tertua,aku akan mengejarakan Phoenix tentang cara berbisnis.
Putriku harus hebat dan ia harus menjadi wanita yang kuat",ucap Sean dengan penuh semangat.
Sania mengusap airmata yang jatuh kepipi. Melihat keinginan Sean yang begitu besar.
Aku hanya bisa berjanji dalam hati. Tak akan ada lagi pria lain dihatiku, selain Sean.
Cukup Sean yang terakhir sampaiku menutup mata. Janji Sania dalam hati, dengan menatap Sean.
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
Gwen sangat bingung,pemeriksaan kesehatan Sean dan Sania sudah keluar dan hasilnya tidak baik.
Sania tidak bisa mengandung lagi,ada masalah dengan kesehatannya.Tapi bagaimana ia harus mengatakannya kepada Sean.
Sudah berulang kali ia menghubungi Sean. Selalu saja sibuk membuatnya makin bingung.
Drrreeet.... drrret...
Senyum Gwen mengembang,saat melihat panggilan masuk dari Sean,sedikit mengurangi beban dihati dan pikiran.
"Hello Gwen,what is wrong", tanya Sean agak sedikit gelisah mengapa Gwen selalu menghubunginya.
__ADS_1
"How are you and also Sania."Where are you right now, Sean",tanya Gwen agak sedikit gugup.
"Still in the office?",pikiran Sean sudah tidak tenang,saat Gwen menanyakan keberadaannya.
Apakah ada masalah?,batin Sean.
"Sean, are you there?",tanya Gwen karena tidak mendengar suara Sean.
"Yes, Gwen?.tell me I'm ready to listen", Sean sudah siap menerima apa yang akan Gwen ceritakan.
Gwen tidak menduga kalau Sean berkata seperti itu.Gwen menarik nafas berat, matanya terasa panas.
Bagaimana harus menceritakannya, kalau Sania tidak bisa mengandung anaknya.
"Gwen...", panggil Sean.
"I'm sorry, Sean.Sania is sick", ucap Gwen tidak bisa menahan kesedihannya.
Gwen sudah berkhayal mempunyai keponakan yang manis dan imut,dari Sean dan Sania.
Sekarang ia harus berkata jujur kepada Sean.
"*Gwen.....", lama Sean terdiam.
"Sania, it can't contain anymore", mendengar penjelasan Gwen, Sean merasa lehernya tercekik seutas tali.
"Why, Gwen?",tanya Sean lagi.
"If ,Sania tried to get pregnant, she and the baby would be gone",dunia Sean terasa runtuh mendengarnya.
Kalau Sania tahu, dia akan meninggalkanku.Aku tidak mau kehilangan Sania,lebih baik tidak memiliki keturunan dari pada kehilangan Sania.
"*Gwen..", panggil Sean dengan perasaan yang tidak menentu.
"Yeah*...?"
"Help me to lie",Sean meminta Gwen untuk berbohong.
"Really Sean", Gwen tak mampu berkata lagi.
"Yes Gwen",ucap Sean dengan sungguh-sungguh.
Gwen tidak percaya,begitu besar cinta Sean terhadap Sania.
__ADS_1
"What should I do?",Gwen bertanya apa yang harus ia lakukan.
"Tell him, I can't produce offspring", Sean meminta Gwen untuk mengatakan kepada Sania,kalau ia yang tidak bisa menghasilkan keturunan.
Gwen terhenyak mendengarnya dan ia menyetujuinya.
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/*
Sean sengaja duduk didalam gelap. Matanya sembab karena menangis.
Sania keluar dari kamar untuk melihat apakah Sean sudah datang?
Sania kaget saat menghidupkan lampu, Sean sudah duduk disofa dalam kegelapan.
Sania mendekati Sean dan kaget melihat mata Sean yang sembab.
"Hai, honey?. Ada apa?", Sania sangat panik melihat mata Sean yang sembab dan merah.
"Apakah kau akan meninggalkanku? k
Kalau sampai itu terjadi aku akan mengakhiri hidupku".
Sean menatap Sania dengan menangkup pipi Sania dengan kedua tangannya.
"Sean jangan berkata seperti itu,aku tidak akan meninggalkanmu.
Aku janji sayang, tak akan pernah meninggalkanmu",ucap Sania jujur.
"Gwen mengatakan bahwa aku tidak bisa menghasilkan keturunan. s
Spermaku tidak sehat,banyak faktor mengapa itu bisa terjadi.
Jika dirimu tidak suka, pergilah",ucap Sean yang menundukkan wajahnya pasrah.
Plaak..
Sania menampar wajah Sean dengan keras.
"Hanya sampai disini dirimu mengukur kesetiaanku. Honey,aku tidak akan pernah meninggalkanmu.Aku janji padam",ucap Sania.
Sania menatap lekat wajah Sean, mengusap pipi Sean yang merah karena taparan keras darinya.
"Jangan ada pikiran kalau aku akan meninggalkanmu,Sean. Hanya maut yang boleh memisahkan kita", ucap Sania menangis dipangkuan Sean.
__ADS_1
Sean menarik Sania kedalam dekapannya, ia tersenyum bahagia tidak sia-sia pengorbanannya.