PAHIT

PAHIT
BAB 5


__ADS_3

Sania mengucek-ucek matanya walaupun kepalanya masih terasa berat.Sania merasa aneh dengan nuansa kamar yang berbeda.


Setelah membuka matanya lebar-lebar baru ia mengerti kalau ini bukanlah kamarnya.


Sania membuka pintu kamar dan kaget melihat pak Aris yang sedang duduk manis disofa bersama sang istri.


"Akhirnya sadar juga?",ucap pak Aris.


Ternyata pak Aris menunggu ku terbangun dari tidur. Aku hanya bisa senyum, mengusap tengkuk yang tidak pegal.


"Kalau ada masalah solusinya bukan minuman, tapi bercerita",ucap pak Aris kepada Sania.


"Maaf, pak.


Sania duduk disofa dengan kepala tertunduk. Ia menyadari kesalahannya. Seharusnya dia jadi pantuan untuk lingkungan disekitarnya, sebagai abdi negara digaris depan.


"Masih pusing?", pak Aris bertanya.


"Sedikit,pak. Saya lupa berapa gelas yang saya habiskan tadi malam", ujar Sania jujur.


Sania merogoh saku jaketnya untuk mencari bungkusan rokok. Cara mengurangi pusing yang mendera setelah minum adalah rokok.


Sebagian menghilangkannya dengan minuman jahe hangat, ia kebalikannya.


"Kamu sedang mencari sesuatu?",tanya Pak Aris pada Sania.

__ADS_1


"Rokok",jawab Sania.


Pak Aris meletakkan diatasi meja benda yang dicari Sania.


Sania duduk bersama pak Aris lalu menyulutkan rokoknya,menghisap dalam dan melepaskannya.


"Apa yang terjadi padamu?.


Apa ada masalah?",tanya pak Aris pada Sania .


"Tidak, pak Aris?. Saya hanya merasa kesal pada diri saya sendiri.


"Kesal kenapa?",tanya pak Aris melihat kearah Sania.


"Banyak, jawabku seadanya. Aku tidak ingin semua orang tahu tentang masalah hidupku,gumam Sania dalam hati.


"Selamat ulang tahun, saya tidak tahu kalau hari kau berulang tahun",ucap pak Aris


"Maafkan saya, karena tidak bersikap ramah awal kedatanganmu disini.


Ini sejarah bagi kami yang menjaga perbatasan. Kami sangat kaget tentara yang ditugaskan seorang perempuan. Dimana daerah ini sangatlah terpencil dan juga berbahaya", jelas pak Aris.


"Buat saya tidak masalah tinggal ditempat terpencil dan berbahaya. Lebih menyenangkan, lelah rasanya hidup dengan hiruk piku kehidupan di perkotaan.


"Ibu dimana,pak.

__ADS_1


Saya tidak melihat wanita paling cantik dirumah ini?,"tanya Sania.


"Kepasar!"jawab pak Aris. Istri ku yang paling khawatir melihat kondisimu tadi malam.


"Maaf,merepotkan kalian!


Lain kali aku tidak akan membuat orang satu jalur ini heboh", janji ku kepada pak Aris.


" Jangan jadikan tempat ini sebagai pelarian dari masalah. Naseht pak Aris kepadaku dengan sorot mata yang tajam menunjukkan keseriusannya.


"Tidak. Ini hukuman atas tindakkan gegabah yang saya lakukan.


Seandainya saya tidak terbawa alur, saya tidak akan sampai disini.


Tapi, saya bersyukur dibalik musibah ada hikmahnya. Saya bisa bertemu dengan pak Aris dan juga teman-teman di sini.


Bapak jangan khawatir, aku tidak menyesal tinggal di desa terpencil", ucap Sania.


Pak Aris hanya menghela nafas.


"Bapak harap kamu mampu bertahan. Sudah banyak abdi negara yang ditugaskan. Tapi hanya bertahan sesaat", ungkap pak Aris.


"Kami ini orang-orang lama. Tak punya kekuatan untuk meminta dipindah tugaskan", jelas pak Aris lagi.


"Apakah ada masalah yang serius?", tanya ku yang memahami apa yang diceritakan pak Aris.

__ADS_1


"Kau akan tahu suatu saat nanti, jika masih bisa bertahan", ujar pak Aris setelah melihat kedatangan istrinya. Ia tak ingin bagian dari jiwanya ikut terancam karena keteguhan dan hatinya.


"Maaf yang membaca novel saya."Kalau saya tidak menyebutkan nama daerah dalam ceritanya, karena tak ingin menimbulkan hal-hal yang tidak baik"


__ADS_2