PAHIT

PAHIT
BAB 3 SEDIKIT ADA KETEGANGAN


__ADS_3

"Bangun... bangun...", pak Andi membangunkan yang lainnya setelah tidak melihat keberadaan Sania diluar tenda.


"Anak itu menghilang. Benar-benar kehadiran dia membuat kita susah",kata yang lainnya kesal.


"Pagi-pagi kita sudah harus kembali kepos. Dan dia sudah diberi tahu", ucap pak Sidik.


"Selamat pagi, pak?". Sania mengangkat tangan kanannya dan meletakkannya diatas alisnya untuk memberi hormat.


"Dari mana?,"tanya pak Aris.


"Patroli,pak", jawab Sania dengan dahi mengkerut tidak paham dengan raut wajah mereka yang tegang.


"Kamu masih belum mengetahui tempat ini, kamu sudah dua kali melanggar perintah",ucap Aris.


'Maaf kalau saya melanggar perintah lagi,pak?.


Pagi ini saya ingin menyapa sang surya. Terasa damai saat sinar cahayanya menerpa tubuh saya", jelas Sania kepada para seniornya.


"Kamu sudah tahu hutan ini berbahaya. Tapi, mengapa masih saja melanggar perintah?. Tanya pak Nyoman dengan wajah berang menahan kesal.


"Ah..???


Bapak ada-ada saja. Hutan indah dan asri seperti ini dibilang berbahaya. Saya tidak takut.

__ADS_1


Dan bapak tidak perlu menakuti saya",ucap Sania memanggul tas ranselnya kepunggung untuk memulai perjalanan.


Semuanya hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Sania berbeda dan lebih keras kepala.


Hutan ini memang cantik, indah dan asri, tetapi sangat berbahaya bagi mereka yang baru bertugas.


Melihat Sania tidak ada ditempat,membuat mereka khawatir. Mereka sudah sering kehilangan anggota baru kala patroli memeriksa setiap pos jaga antara perbatasan.


*******


"Akhirnya kita sampai kepost",ujar pak Sidik.


Mereka langsung membaringkan tubuh mereka diteras pos.Pak Aris menoleh kearah Sania yang memilih duduk diantara bebatun besar, tidak bergabung bersama mereka.


"Sania....", panggil pak Aris yang direspon Sania dengan berdiri dan berjalan mendekati pak Aris.


"Siap..pak!"


Setelah Sania berada disisinya pak Aris mulai berbicara. "Menurutmu, apa yang menarik dibalik hutan yang tidak terjamah dunia luar?",tanya pak Aris yang menatap lurus kedepan.


"Saya hanya heran dan penasaran saja. Mengapa mereka sangat takut bertugas di daerah ini?".


Awalnya hanya sebuah keterpaksaan. Tapi setelah sampai disini, pikiran saya berubah.

__ADS_1


Saya berpikir jika terjadi sesuatu pada saya, tidak akan ada yang menangisi ataupun merasa kehilangan atas kepergian saya. Anggap saja kalau tempat ini sebagai tempat kematian untuk saya,ucap Sania datar.


"Tinggal dikuburkan saja. Kelihatan indah tidak ada juga yang mendatanginya.",ucap Sania.


Pak Aris tertegun mendengarnya.Terdengar hampa dan terluka.


"Kalian benar tentang hutan ini, sebenarnya aku tersesat.


Aku tersesat selama lima jam dari tempat kita mendirikan tenda",ujar Sania yang membuat pak Aris sedikit kaget.


"Lalu bagaimana bisa kamu bisa kembali ketenda?",tanya pak Aris dengan melirik Sania lewat ekor matanya.


"Hutan ini tidak menyeramkan, hanya sengaja dibuat seolah-olah hutan memiliki misteri",ucap Sania tersenyum.


"Maksudnya?",tanya Pak Aris tidak mengerti dengan cerita Sania.


Sania sedikit menoleh,lalu kembali fokus melihat hamparan pohon-pohon besar.


"Kita memiliki empat pos yang harus kita datangi setiap minggu. Aku butuh peta untuk mengetahui daerah sekitar sini, setelah itu baru aku akan menjelaskan semuanya",ucap Sania.


Pak Aris menyetujui permintaan Sania. Ia akan memberikan apa yang Sania inginkan.


Sedangkan pikiran Sania menerawang jauh. Memikirkan masa depan yang tak jelas berakhir dimana?.

__ADS_1


Ia menengadah menatap langit di daerah perbatasan.


__ADS_2