
“Airin, papa gak bisa ningggalin kamu sendirian.” Ucap laki laki dengan suara serak.
“Pah, aku bisa jaga diri. Gak usah musingin aku, bisa gak sih.? Ucapnya tak terbantahkan.
“Maksud kamu biar papah gak betah di sana. Airin kalau papah kena stroke, bisa aja kan.” Ucap Bakrie dengan nada cemas.
“Paah.” Airin berteriak dengan nada kesal. “ Dokter jantung mana yang kena stroke, papah tuh
dokter dan badan papah tuh sehat bugar gitu.” suaranya penuh penekanan.
“Kalau kamu disini kenapa kenapa gimana? Siapa yang urusin kamu, siapa yang jagain kamu.” Kata Bakrie dengan cemas.
“I can take care of my self.” Teriak Airin. Penuh yakin dan amarah.
Gadis yang masih di bantu lilitkan tali sepatu itu terlihat kesal. Berdiri kemudian melangkah tanpa memperdulikan ucapan Bakrie.
Bakrie menghela nafas nya kasar. Entah bagaimana lagi harus mengadapi anak keras kepala seperti Airin. Hampir semua cara telah dia lakukan.
Kerap kali berakting karena keinginan Airin yang kadang di luar aktifitas anak sekolah
Bakrie sendiri dengan berbagai macam peran yang dia mainkan, Beberapa kali juga Bakrie mendatangkan orang yang berpura pura menyita rumahnya dengan alasan di tipu. Tak hanya itu Bakrie bahkan nekat berpura pura meninggal saat Airin masih berada di sekolah.
Waktu itu di pagi hari,
Ucapara baru saja selesai, semua anak anak yang sedang kelelahan setelah berdiri di bawah panas matahari segera menepi dan mencari minuman untuk melepas dahaga, namun baru saja Airin bersama kawannya melangkah beberapa jarak. Tiba tiba microfon Kembali terdengar.
“Kabar duka kami sampaikan yang sedalam dalamnya atas kepergian pak Bakrie. Beliau adalah orang yang baik dan dermawan." Suara nafas terdengar jelas di microfon. " Untuk Airin Lunania dan para siswa lainya di persilahkan untuk berkabung ke rumah duka."
Anak mana yang mendengar kepulangan orang tuanya tak sedih. Airin bahkan hampir tak sadarkan diri. Sebelum Reno datang dan segera membawa Airin Kembali bersama dengan beberapa pihak sekolah.
Bendera yang terpasang di halaman rumah, membuat Airin tak sanggup melihat jasat ayahnya. Terlalu lengkap bahkan ada polisi dengan beberapa petugas Kesehatan. Airin semakin tak tahan Ketika memasuki rumah dengan beberapa orang yang terlihat membaca yasin di dekatnya.
“Papaaah.” Teriak Airin, tersungkur di dekat Bakrie. Menangis tanpa henti.
Airin yang menangis dengan terseduh, belum sepenuhnya sadar sampai dirinya merasakan denyut jantung dari ayahnya di berada dalam pelukanya kala itu.
Rencana Bakrie berantakan, kemarahan Airin membuatnya kalap dan mereka berbaikan setelah 1
__ADS_1
bulan tak saling bertegur sapa.
Congjuring timenya bakrie meminta maaf. Merelakan Airin pergi berlibur bersama temanya.
Airin pemenangnya.
Mengingat hal itu membuat Airin sedikit was was, karena Bakrie adalah orang yang nekat melakukan sesuatu.
Perjalanan menuju sekolah begitu hening. Hanya suara ac dan mesin mobil yang terdengar. Bakrie diam. Sekali kali dirinya melirik dari kaca untuk melihat wajah Airin yang sedang marah. Bibirnya sedikit tersenyum.
“Papa tahu kamu marah, tapi kamu pikir pikir dulu deh saran papah.” Suara itu terdengar lembut.
Hening. Tak ada jawaban dari untuk beberapa saat Airin.
”Airin.” Nada suara berubah dingin.
“I hate u dad.” Tanpa melihat pada Bakrie. Sorot matanya penuh kekeselan.
“2 mingggu lagi, papa berangkat. Kamu pikirin sekalian, siapin diri.” Ucapan Bakrie bernada perintah.
Pajero sprot itu berhenti tepat di depan sekolah Airin.
Gadis itu berjalan dengan kekesalan.
Airin Lunania gadis 16 tahun dengan tingggi 160 anak pertama dan satu satunya dari Bakrie dan Annie.
Airin bersekolah di high school of Mertha. Cabang dari sekolah luar yang bertaraf internasional.
Sekolah swasta yang terjamin akan masa depan dan pola pikir yang kritis.
“Arrogant rich girl.” Teriakan yang membuat Airin berhenti.
“Hey, look your face. What happen.” Ucap Reynald. Memegang dagu dengan sesuka hati memutar wajah Airin.
“Get your hands off my face.” Airin berbicara dengan dagu di tekan.
“Aww sorry. Lagian moodnya ancur banget.” Gaya bicara yang sweet.
__ADS_1
Reynald beerdh 16 tahun, teman sekelas yang suka mencari masalah. Namun tetap care.
“Get of class.” Kata Airin. Kedunya berjalan menuju kelas bersama.
Sekolah ini tidaklah terlalu besar, halaman nya terlalu sempit karena banyak bangunan yang
sudah didirikan. Sekolah yang terlalu memanjakan dengan barang elektronik pada siswannya.
“Everyone lest welcome the prince and princess ot the class.” Teriak Anara.
“Shut up.” Ucap Airin dengan wajah kesal melewatinya.
“Gue ada kabar hari ini. Penting.” Kata Anara dengan wajah serius.
“Masuk lambeturah aja woy.” Sahut Wilson tiba tiba.
“Kenalin aku adminya.” Sahut Anara kesal.
“Morning Airin.” Sapa bendahara kelas. Gaya elegan namun masih terbilang layaknya siswa.
“I hope you don’t forget the class cash. Oke.” Kata Emma dengan suara yang judes.
“Ow sorry. You right.” Airin tersenyum paksa. “Not the day.” Airin berkata.
“Selow aja, dia anak dokter ternama. Gak mungkin kan dia mau bohong. Lagian dia gak mau di bayarin, kalau iyya pakai duit lu aja dulu entar dia kirim serum gugurin kandungan deh.” Anara berbisik dengan jahilnya di
telinga Emma.
Mendengar ucapan gadis sombong itu, membuat Emma terlihat kesal.
Anara moly gadis 16 tahun, sumber terpercaya. Paling uptude terhadap berita apapun. Gadis dengan
peringkat ke 2 setelah Wilson.
“Oh ya, tapi sorry aku lagi gak mood.” Kata Arin mencoba memakai earphone. Benar benar mengindari segala gossip dari Anara.
Kelas tetap berjalan seperti biasanya. Tidak berhenti sekalipun hati Airin tengah kacau.
__ADS_1
Dan demi apapun dirinya masih tetap dengan suasana yang terasa kesal.
Hy semua, mohon dukunganya yeah kalau suka dengan cerita ini. terimakasih sudah mampir