Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 19


__ADS_3

Airin bangun labih


cepat dari biasanya, bersiap menuju sekolah. Tak  ingin di bangunkan Aran, dengan alaram di mulai,


dari jam 4, 5 kemudian 6.


”Mulai sekarang, pokoknya


harus bangun lebih pagi dari pak Aran.” wajah Airin penuh dengan semangat


berapi api.


Entah angin apa


yang membuatnya tersipu malu, Kembali menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


rona terbuai hinggap di pipinya.


”Apa aku buat


sarapan aja.” kali ini gadis itu larut dalam kesenangan.


”Aduh bagaimana


aku menghadapi pagi bersama kalau kayak gini.” Airin kembali berguling di


ranjangnya.


Suara ketukan


membuat Airin segera sadar.


”Airin. Udah


bangun balum.” Aran bertanya dengan nada lembut seperti biasanya.


”I-iya pak.”


airin buru buru masuk ke kamar mandi tanpa menyingkirkan selimut.


Huaaaakkk, Airin


jatuh kerana kecerobohanya.


”Airin kamu gak


apa apa.” kembali bertanya di balik pintu karena mendnegar teriakan.


”Iya engggak. Aku


gak jatoh kok” kata Airin berdiri dengan memar di lututnya. Kalimat itu membuat


Aran memutar otak untuk berfikir.


Aran menunggu Airin


yang bersiap setelah 25 menit. Kesabaran Aran setebal buku biologi.


Airin keluar


dengan pelahan, hari ini memakai kaos kaki panjang sampai pahanya.


”Udah.” Aran


beranjak dan memberikan Airin sarapan wafer coklat yang rendah lemak.


”Untuk apa.” nada


suara Airin melemah.


”Untuk kamu


makan.” kalimat Aran membuat gadis itu terlihat dengan wajah di tekuk.


”Aku kan niatanya


mau buatin sarapan, kenapa malah aku yang di perhatikan.” Airin menyesal  dalam hati. Wajahnya terlihat kesal.


Perlajalan menuju


sekolah terasa hening. Aran bahkan tak bertanya soal apa apa hanya fokus


mengemudi sampai memasuki halaman sekolah.


Langkah Airin


terlihat seperti robot. ”Seharusnya aku menyiapkanya, bukan malah disiapkan.” Airin


masih merasa kesal karena hanya menghabiskan waktu menghayal.


Aran


memperhatikan dengan seksama. Gadis itu terasa enggan untu berjalan ke dalam


kelas. Tak selang lama terlihat Wilson menghampiri Wirin dan merangkulnya.


”Kamu kenapa.”

__ADS_1


memegang erat dagu Airin.


”Bad day.” Airin melirik Wilson dengan side aye.


“Kaki kamu


kenapa.” Wilson memperhatikan langkah Airin.


”Jatoh.” Airin


menjawab ketus.


Tak lama Wilson


berjalan melewati nya kemudian berjongkok membelangkangi Airin.


”Kamu ngapain.” Airin


merasa aneh.


”Kaki kamu sakit,


naik aja.” Wilson terdengar memaksa.


”Aku gak mau.” Airin


melewati Wilson dengan buru buru.


”Kenapa nolak.”


suara wilson berteriak. Tak lama dirinya berjalan cepat mengejar Airin,


seketika mengangkatnya.


”Hei Wil, kamu


ngapain sih, diliatin orang Wil.”Airin tak bisa bergerak.


Dari kajauhan


aran menatap dengan sorot mata yang tajam. Wilson tak bisa di biarkan, sangat


keterlaluan.


”Coba kamu,


dengerin aku dari tadi, gak bakal separah ini.” wilson membantu Airin


memplester lukanya di ruangan UKS.


kayak gitu ngapain sih.” Airin bernada cetus.


”Kamu tuh kenapa


susah bangt di kasih tahu. Nurut donk.” Wilson mencubit gemas hidung Airin ketika


selesai memberi plester.


”Iya makasih.” Airin


berkata jutek kemudian berjalan keluuar dari ruangan UKS.


”Di bantuin gak.”


tawar Wilson


“Gak usah.” Kata Airin


berjalan cepat.


Menuju kelas


dirinya masih di kawal Wilson. ”Kenapa ngikuti aku sih.” Airin terlihat tak


nyaman.


”Siapa yang


ikutin kamu, ingat kita tuh sekelas.” wilson berbisik di telinga Airin kemudian


berjalan lebih dulu ke ruangan. Tanganya membawa beberapa plater dari uks.


Semua orang


menatap mereka. Terlebih Airin tak nyaman dengan sorot mata pada dirinya.


”Enak yah,


pacaran sama orang paling pintar di sekolah, kecipratan juaranya.” seorang


siswa berkata ketika Airin lewat.


Hal itu memancing amarah Airin. “Heh gw belajar yeah, lagian


gw gak pacaran sama Wilson.” Airin berkata dengan kesal pada lawan bicaranya. Mendengar ucapan Airin seketika siswa itu


pergi.

__ADS_1


Berjalan dengan


tertatih membuat Airin menahan kesal, yang hampir menangis.


Yup inilah yang


mereka pikirkan soal Wilson dan Airin. Wilson selalu terlihat menggoda Airin di


depan para siswa. Jadi banyak yang beranggapan kalau keduanya pacaran.


Airin memasuki kelas dengan wajah yang tak bersahabat. ”What


happen princes.” Sapa Anara dengan


wajah cemas.


“I am oke.” Kata Airin


menuju kursi Emma. ”Cant i sid here.” Airin berpamitan pada Emma yang tengah mengerjakan


soal.


”why not.” Emma melirik bangku Airin. Kemudian berdiri untuk pindah.


Emma bergegas berdiri


melangkah ke bangku Airin, baru saja akan duduk wilson menariknya, hingga Airin


terjatuh ke lantai. Seisi kelas tertawa melihat Emma.


Melihat hal itu Anara


segera berdiri dan mengangkat bangkunya berjalan mendekati wilson. Siapa sangka


Anara menghantam bahu Wilson dengan kursi tanpa ragu.


Semua mata


tertuju pada mereka, dimana siku Wilson mendapat goresan luka.


”This is funny.” Tanya


Anara dengan wajah marah. Airin menghampiri Emma kemudian mengulurkan tanganya


hingga gadis itu berdiri.


”Soooo funny.” kata wilson tersenyum.


”You so freak.”  Tatapan Anara penuh kekesalan. Airin dan Emma


kembali bertukar kursi. Tak mau Wilson berbuat aneh lagi pada Emma.


Anara dan airin


berjalan membawa Emma, namun Eilson memegang pergelangan Airin. Gadis itu


menatapnya dan berniat melepaskan tangan Wilson.


”Apa.? Airin


mencoba pergi.


Wilson


memperlihatkan plaster pada Airin. Gadis itu tahu apa yang di maksud oleh


wilson. Menatap Emma dan Anara bergantian membuat Airin sulit mengambil


keputusan.


”Plesterin aja


tuh kuda Nil, sekalian jadin mumi.” kata Anara segera membawa Emma keluar


kelas.


Airin mengambil


plaster dari wilson. Memakaikanya dengan gerakan cepat pada sikunya


”Pelan pelan.”


kata Wilson memperlihatkan bagian luka lainya.


”Apa ini di


plester juga.” tanya Airin malas.


”Sekalian.”


wilson terdengar serius.


Airin meminta


plaster pada wilson, namun lelaki itu hanya memberikan kecupan yang membuuat Airin


memukulnya. Airin pergi dan wilson tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2