
Airin bangun labih
cepat dari biasanya, bersiap menuju sekolah. Tak ingin di bangunkan Aran, dengan alaram di mulai,
dari jam 4, 5 kemudian 6.
”Mulai sekarang, pokoknya
harus bangun lebih pagi dari pak Aran.” wajah Airin penuh dengan semangat
berapi api.
Entah angin apa
yang membuatnya tersipu malu, Kembali menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
rona terbuai hinggap di pipinya.
”Apa aku buat
sarapan aja.” kali ini gadis itu larut dalam kesenangan.
”Aduh bagaimana
aku menghadapi pagi bersama kalau kayak gini.” Airin kembali berguling di
ranjangnya.
Suara ketukan
membuat Airin segera sadar.
”Airin. Udah
bangun balum.” Aran bertanya dengan nada lembut seperti biasanya.
”I-iya pak.”
airin buru buru masuk ke kamar mandi tanpa menyingkirkan selimut.
Huaaaakkk, Airin
jatuh kerana kecerobohanya.
”Airin kamu gak
apa apa.” kembali bertanya di balik pintu karena mendnegar teriakan.
”Iya engggak. Aku
gak jatoh kok” kata Airin berdiri dengan memar di lututnya. Kalimat itu membuat
Aran memutar otak untuk berfikir.
Aran menunggu Airin
yang bersiap setelah 25 menit. Kesabaran Aran setebal buku biologi.
Airin keluar
dengan pelahan, hari ini memakai kaos kaki panjang sampai pahanya.
”Udah.” Aran
beranjak dan memberikan Airin sarapan wafer coklat yang rendah lemak.
”Untuk apa.” nada
suara Airin melemah.
”Untuk kamu
makan.” kalimat Aran membuat gadis itu terlihat dengan wajah di tekuk.
”Aku kan niatanya
mau buatin sarapan, kenapa malah aku yang di perhatikan.” Airin menyesal dalam hati. Wajahnya terlihat kesal.
Perlajalan menuju
sekolah terasa hening. Aran bahkan tak bertanya soal apa apa hanya fokus
mengemudi sampai memasuki halaman sekolah.
Langkah Airin
terlihat seperti robot. ”Seharusnya aku menyiapkanya, bukan malah disiapkan.” Airin
masih merasa kesal karena hanya menghabiskan waktu menghayal.
Aran
memperhatikan dengan seksama. Gadis itu terasa enggan untu berjalan ke dalam
kelas. Tak selang lama terlihat Wilson menghampiri Wirin dan merangkulnya.
”Kamu kenapa.”
__ADS_1
memegang erat dagu Airin.
”Bad day.” Airin melirik Wilson dengan side aye.
“Kaki kamu
kenapa.” Wilson memperhatikan langkah Airin.
”Jatoh.” Airin
menjawab ketus.
Tak lama Wilson
berjalan melewati nya kemudian berjongkok membelangkangi Airin.
”Kamu ngapain.” Airin
merasa aneh.
”Kaki kamu sakit,
naik aja.” Wilson terdengar memaksa.
”Aku gak mau.” Airin
melewati Wilson dengan buru buru.
”Kenapa nolak.”
suara wilson berteriak. Tak lama dirinya berjalan cepat mengejar Airin,
seketika mengangkatnya.
”Hei Wil, kamu
ngapain sih, diliatin orang Wil.”Airin tak bisa bergerak.
Dari kajauhan
aran menatap dengan sorot mata yang tajam. Wilson tak bisa di biarkan, sangat
keterlaluan.
”Coba kamu,
dengerin aku dari tadi, gak bakal separah ini.” wilson membantu Airin
memplester lukanya di ruangan UKS.
kayak gitu ngapain sih.” Airin bernada cetus.
”Kamu tuh kenapa
susah bangt di kasih tahu. Nurut donk.” Wilson mencubit gemas hidung Airin ketika
selesai memberi plester.
”Iya makasih.” Airin
berkata jutek kemudian berjalan keluuar dari ruangan UKS.
”Di bantuin gak.”
tawar Wilson
“Gak usah.” Kata Airin
berjalan cepat.
Menuju kelas
dirinya masih di kawal Wilson. ”Kenapa ngikuti aku sih.” Airin terlihat tak
nyaman.
”Siapa yang
ikutin kamu, ingat kita tuh sekelas.” wilson berbisik di telinga Airin kemudian
berjalan lebih dulu ke ruangan. Tanganya membawa beberapa plater dari uks.
Semua orang
menatap mereka. Terlebih Airin tak nyaman dengan sorot mata pada dirinya.
”Enak yah,
pacaran sama orang paling pintar di sekolah, kecipratan juaranya.” seorang
siswa berkata ketika Airin lewat.
Hal itu memancing amarah Airin. “Heh gw belajar yeah, lagian
gw gak pacaran sama Wilson.” Airin berkata dengan kesal pada lawan bicaranya. Mendengar ucapan Airin seketika siswa itu
pergi.
__ADS_1
Berjalan dengan
tertatih membuat Airin menahan kesal, yang hampir menangis.
Yup inilah yang
mereka pikirkan soal Wilson dan Airin. Wilson selalu terlihat menggoda Airin di
depan para siswa. Jadi banyak yang beranggapan kalau keduanya pacaran.
Airin memasuki kelas dengan wajah yang tak bersahabat. ”What
happen princes.” Sapa Anara dengan
wajah cemas.
“I am oke.” Kata Airin
menuju kursi Emma. ”Cant i sid here.” Airin berpamitan pada Emma yang tengah mengerjakan
soal.
”why not.” Emma melirik bangku Airin. Kemudian berdiri untuk pindah.
Emma bergegas berdiri
melangkah ke bangku Airin, baru saja akan duduk wilson menariknya, hingga Airin
terjatuh ke lantai. Seisi kelas tertawa melihat Emma.
Melihat hal itu Anara
segera berdiri dan mengangkat bangkunya berjalan mendekati wilson. Siapa sangka
Anara menghantam bahu Wilson dengan kursi tanpa ragu.
Semua mata
tertuju pada mereka, dimana siku Wilson mendapat goresan luka.
”This is funny.” Tanya
Anara dengan wajah marah. Airin menghampiri Emma kemudian mengulurkan tanganya
hingga gadis itu berdiri.
”Soooo funny.” kata wilson tersenyum.
”You so freak.” Tatapan Anara penuh kekesalan. Airin dan Emma
kembali bertukar kursi. Tak mau Wilson berbuat aneh lagi pada Emma.
Anara dan airin
berjalan membawa Emma, namun Eilson memegang pergelangan Airin. Gadis itu
menatapnya dan berniat melepaskan tangan Wilson.
”Apa.? Airin
mencoba pergi.
Wilson
memperlihatkan plaster pada Airin. Gadis itu tahu apa yang di maksud oleh
wilson. Menatap Emma dan Anara bergantian membuat Airin sulit mengambil
keputusan.
”Plesterin aja
tuh kuda Nil, sekalian jadin mumi.” kata Anara segera membawa Emma keluar
kelas.
Airin mengambil
plaster dari wilson. Memakaikanya dengan gerakan cepat pada sikunya
”Pelan pelan.”
kata Wilson memperlihatkan bagian luka lainya.
”Apa ini di
plester juga.” tanya Airin malas.
”Sekalian.”
wilson terdengar serius.
Airin meminta
plaster pada wilson, namun lelaki itu hanya memberikan kecupan yang membuuat Airin
memukulnya. Airin pergi dan wilson tertawa penuh kemenangan.
__ADS_1