
Usai makan, keduanya kembali menuju rumah. Disana terlihat sosok Sean yang berada di depat leptop.
"Em pak Airin boleh nanya gak." Terdengar takut takut.
Aran menepikan mobilnya di garasi, kemudian menatap Airin dengan wajah bingung.
"Ada apa." Suaranya seperti memabukan.
"Apa kak Sean sama ka Lusi tahu soal semalam." Airin tak berani menatap wajah Aran.
Aran tersenyum. Mengacak puncak rambut Airin.
Turun lebih dulu meninggalkan Airin di sana.
Gadis itu merasa aneh.
Wajahnya sedikit kesal. Berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hy Adik ipar." Wajah fokus itu teralihkan pada Airin.
"Kak Sean lagi ngapain." Airin mendekat penasaran.
"Proposal diagram." Lusi ikut tersenyum. Raut wajahnya berubah sedih. "Maaf yah Airin, kakak masih harus di sini beberapa hari lagi." Lusi terlihat tak enak.
"Kakak kok gitu ngomongnya." Dengan wajah cemberut Airin menatap. "Justru ada kalian aku merasa senang."
"Duh baik banget sih." Lusi memberikan simbol finger love. "Oh iya kemarin kaca jjendela kamu kebuka, jadi aku ngasih saran sama Aran biar di pakaian trali. Bisa bahaya lho." Kalimat Lusi membuat Airin mematung sejenak.
__ADS_1
Terjawab sudah pertanyaan nya pada Aran di mobil tadi. Airin memasuki kamar dengan rasa sedikit malu.
Aran keluar dari kamar mandi. "Pak." Berjalan mendekat. Wajah menunduk malu, tak berani menatap Aran.
"Aku minta maaf yah." Airin terdengar menyesal.
"Ia." Aran dengan ucapan singkat berjalan melewati Airin.
Di luar dugaan? Aran bahkan terlihat tak peduli. Apakah dirinya benar dianggap anak kecil?
Melangkah ke kamar mandi dengan kesal.
Perasaan menyesal tadi berubah menjadi rasa kesal.
"Ia doang gitu." Airin meremas kuat sawer puff.
Kali ini Airin hanya fokus dengan pikiran nya dan rasa kesal. Bahkan dari sejam yang lalu dirinya tak mengisi apapun di buku latihan.
Airin, apa ada yang mengganggumu." Sean melirik gadis yang terlihat kesal.
"Suara kami berisik." Lusi melirik Aran yang juga melirik pada Airin.
"Ah tidak sama sekali." Dengan wajah tersenyum manis. "Aku hanya ingin berbaring sekarang." Airin segera membereskan buku bukunya dan berjelan menuju kamar.
"Ada apa denganya." Sean bertanya dengan marah pada Aran.
"Gak tahu." Aran melirik punggung berjalan Airin.
__ADS_1
"Dari yang aku lihat keyaknya pas sarapan tadi abis dari kamar dia masih terlihat kesal." Lusi mengingat jelas.
"Kamu ada buat salah pasti." Sean setuju dengan kalimat istrinya.
Aran kembali mengingat. Tak lama dirinya ikut masuk ke kamar. Sean meledek Aran.
"Baru nikah emang gitu, kalau marah dikit langsung di kejar, entar pas lama juga bakal bodo amat." Sean merasa jijik dengan sikap Aran barusan.
Lusi mentap dengan tajam pada suaminya usai berkata.
"Jadi gitu." Lusi meninggalkan Sean sendirian.
"Lah kenapa jadi kamu yang pergi." Sean terus berteriak memanggil Lusi.
"Ah." Merasa kesal. tak lama dirinya segera berlari mengikuti Lusi ke kamar.
Aran melihat Airin yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Berbaring menghadap pada Airin. "Aku minta maaf buat kamu kecewa. Sikap ku keterlaluan." Aran berusaha membujuk gadis kecilnya.
"Kasih tahu aku, kalau perkataan atau ada sikap ku yang membuatmu kesal." Suaranya masih sama terdengar lembut.
"Maaf karena sikapku selama ini masih berusaha mengimbangi kamu, Aku tidak seharusnya bersikap demikian." Aran masih tersenyum tanpa terlihat.
"Kenapa bapak yang minta maaf." Suara dari balik selimut dengan berujung tarikan nafas.
"Airin kamu nangis." Aran menarik paksa selmut yang menutupi wajah Airin.
__ADS_1