
"Kejam! Katamu aku kejam karena berkata telanjang padamu." Menyeringai, dengan wajah tenang itu. Aran bisa menatap dari ekor matanya kalau Airin sedang menahan rasa takut hingga tubuhnya gemetar dengan pelan. "Aku bisa membuatmu merasakan apa itu kejam." Aran marik dagu mungil dengan jjari telunjuknya, gadis itu sedikit menolak namun gerakan sarkas tangan kekar itu tak bisa di tepis.
Tatapan keduaanya mengunci. "Sedikit lebih lama saja dengan ku." Suara barinton itu dengan rendah berbisik di hadapanya, nafasnya terasa hangat menyapa wajah penuh ketakutan. Kemana sosok Aran yang lemah lembut?
Darah segar itu mengair keluar dari mulut Airin, Aran menyasikanya dengan tawa.
"Apa kau senang menyiksa diri, sebaiknya tak perlu repot menyusahkanya. Aku yang akan melakukanya." Aran semakin terllihat bagai iblis. Tawanya, sorot matanya, wajah nya, semua yang ada di bersama nya tak llagi meneduhkan. Semua berbeda. Ini menakutkan.
__ADS_1
Aran mengusap darah dengan ibu jarinya, kemudian memasukanya dengan tenang kedalam mulutnya. Mencoba merasakan darah dari tubuh Aylen. "Manis." itu terdengar pemberitahuan yang tidak masuk akal. Teruslah merasa asing dengan nya, dengan sifatnya ini, karena sesungguhnya dia adalah yang benar.
Tiba waktu kepulanganya, semakin terasa menyiksa, perasaanya tak tenang itu selalu mengganggunya. Perkataan Aran terus berputar di kepala Airin dengan jelas. Langkahnya berat, keputusasaannya tak beralasan. "Aku masih merasa pusing." Nadanya memohon pengertian. Telinga itu mendnegarnya namun tetap memiih acuh.
Mengendarai seolah mengajak nya untuk mati dan bertemu di alam yang penuh penyiksaan. Cengkramanya kuat hingga jari tanganya berubah merah kerana menekan dengan mengerahkan semua kekuatan yang dia punya. Tak peduli dengan perasan siallan yang di rasakan Airin. Laju mobinya semakin tak terkontrol.
Airin memberikan tanganya, ikut berjalan berdampingan, dan masuk ke dalam rumah yang indah namun asing. Rasanya dia ingin bertenya, jika itu sikap Aran yang dullu, tetapi dia kemudian memgurungkanya, Yah karena mengingat sosok Aran tak llagi sama.
__ADS_1
Berhenti berharap semua itu akan kembali, ini bukan llagi mimpi, sebab sudah sakit berhari hari dengan situasi yang sama. Katanya pada diri sendiri. Memulai dengan merapikan bajunya yang dia bawa dari rumah sakit. Semua tertata rapi pada tempatnya, hanya semua terasa kurang dan lain. Mungkin sikap Aran mendominasi.
"Malam ini aku akan pergi ke reuni, kau bisa ikut atau tetap tinggall di rumah." bukan mengajak namun hanya memberi tahu tapi tak memaksa. Airin dengan perasaan yang berkecamuk, sedikit bimbang. Kemballi diam. Apakah dia perllu ikut atau tetap di rumah.
Airin berajan mendekati Aran yang akan keluar dari kamar. Memegang tangan dengan gemetar. " Itu." Katanya gugup, tanganya sedikit berair. Dengan tatapan dingin Aran tak berbalik. "Apa anda akan lama." suara dengan nada penuh rasa takut itu sedikit terdengar tak masuk akal.
"Kalau begitu aku ikut saja." Katanya marik tanganya dan segera memutar handlle pintu lalu menghilang setelahnya, suara daun pintu terdengar tak bersahabat dengan tellinganya. Apakah dia sekotor itu sampai tak mau tersentuh dengan tubuhnya.
__ADS_1
Bisakah dia bangun dari tempat tidurnya saat ini kallau ini adalah mimpi. Merindukan sosok Aran yang hangat padanya.