
Airin kembali
menunggu di kamar mandi. Dengan rasa malu dan tak enak, dirinya menatap air
melihat bayanganya di sana. Kembali mengingat sosok Lusi yang bicara dengan
nada lembut pada Sean. Mereka memang pasangan sempurna. Begitu pikirnya.
Sekitar 20 menit
menunggu, suara ketukan kembali terdengar di sana ada Aran, yang berada di
balik pintu. Airin kaget dan semakin merasa malu. Hampir saja nafasnya
berhenti.
”Ini.” Aran
memberikan pembalut yang banyak dengan semua jenis pada Airin. ”Kalau masih ada,
panggil aku aja.” Airin mengguk masih menunduk. Dirinya segera menutup pintu.
Aran hanya bisa tersenyum dan membantu sebisanya, dirinya masih malu kalau
mengingat Lusi lebih berguna dari pada dia suami Airin.
Beberapa saat
sebelumnya Sean memperhatikan Lusi yang terlihat sibuk.
”Ada apa.” tanya Sean.
”Pembalut aku
habis, Airin sedang datang bulan.” Lusi berencana akan membelikanya.
”Terus mau ke
mana.” tanya Sean kembali dengan curiga.
”Aku pergi ke
minimarket sebentar.” Lusi terlihat antusias.
”Gak usah.” kata Sean
menarik tangan Lusi menuju meja makan.
”Aran, istri kamu
datang bulan. Beliin pembalut gih.” Sean menyuruhnya dengan wajah di buat serius.
”Pantes aja dia
begitu.” Aran terlihat menyadari sesuatu. ”Kalau di ingat ingat beberapa hari
ini Airin memang agak aneh, aku sudah curiga
dan menduganya, dan benar saja.” Aran begumam serius.
”Aran istri kamu.”
Anna kembali bicara dengan nada bercanda. Aran tersenyum, beranjak kaku. Ini terasa
sedikit menghina harga dirinya.
Airin menggengam
kuat plastik berisi pembalu. Rasanya sangat memalukan berada di posisi ini.
Airin tidak bisa
__ADS_1
menyalahkan Lusi, karena yang dia tahu Aran memang lebih berkewajiban dari pada
kakak iparnya. Tapi ini sangat memalukan. Hari sial apalagi ini?
Airin yang masih
merenung di kamarnya, setelah kejadian yang memalukan tadi malam dan
mengacaukan sarapan pagi hari ini, Airin mengurung diri di dalam kamar.
Tak ada tempat untuknya
menampakan diri di keluarga ini.
Sore hari yang
terasa nyaman, di mana mereka lagi lagi berkumpul di ruangan keluarga dengan sedikit
cemilan.
”Airin.” suara
dari luar membuat nya segera membuka bukunya dengan gerakan cepat. Berharap
kalau Aran mendapatinya tengah belajar.
”I-ya.” Airin
dengan suara yang terdengar panik.
”Keluar yok, papa
sama mama nungguin di ruang tv.” Airin tersenyum dengan setengah badan tanpa
menatap wajah Aran.
”Aku lagi ngerjain
”Sebentar aja.”
lagi lagi suara yang lembut dan hangat membuat Airin pasrah ketika Aran menarik
tanganya.
”Airin, masih
nyeri gak.” tanya Lusi melihat Airin dalam genggaman Aran yang malas melangkah.
Suara lwmbut itu membuat
Airin menatapnya sambil tersenyum.
”Udah enggak
kak.” Airin mengikuti langkah Aran yang membawanya duduk.
Anna datang
dengan nampan berisi cemilan.
”Masih ada yang
perlu di ambil gak mah.” tanya Lusi membantu Anna meletakan nampanya di meja.
”Iya masih ada
buah.” Anna kemudian duduk di samping suaminya Ahmadi
Lusi berdiri,
berniat menuju dapur, namun ponnselnya berdering. Langkahnya pun tertahan. Dan Airin
__ADS_1
yang melihat itu kesempatan untuk menawarkan diri.
”Biar aku saja
yang ambil kak.” Airin berdiri dengan semangat.
”Udah gak sakit
sayang.” Tanya Anna memastikan. Airin menggeleng yakin.
”buah semangka
yah, ada di kulkas, nanti potongnya gak usah di pisah sama kulitnya.” pesan Anna
sambil tersenyum.
Segera menuju
dapur kemudian membuka kulkas, disana ada beberapa buah. Airin menatapnya
dengan bingung.
”Buah semangka
yang mana yah.” Airin memilih buah yang berwarna hijau bulat. ”Kayaknya ini
deh, soalnya hijau juga.” Airin berjalan ke dekat meja dapur.
”Ini keras banget
deh.” Airin masih berusaha untuk memisahkan menjadi dua bagian.
Mencoba
membelahnya dengan pisau yang sedang, ternyata kesusahan. Menganti dengan pisau
yang lumayan besar, namun tak tak bisa membuat buahnya terbelah, pisaunya hanya
tertanam dalam labu yang di pikirnya semangka.
Airin kemudian
berfikir dan melirik pisau berukuran besar dari tanganya. Dengan yakin Airin
memasang kuda kuda akan membuat semangka itu terbelah. Dan yup walaupun jalan
terbelahnya tidak rapi namun labunya terbagi dua.
”Yes. Huf akhirnya”
Airin kegirangan. Kembali menatap isi semangka yang di lihatnya aneh.
”Ini semangka jenis
apa, kok kuning padat sih, bijinya agak besar.” airin mengigitnya, dan itu
terasa pahit.
”hay adik ipar.”
sean memanggilnya dari pintu. Airin berbalik dengan penuh keringat. Bisa di
lihat kerja kerasnya sangat luar biasa.
”Hy kak.” Airin terlihat
kaku. Sean kemudian berjalan kembali keluar. Airin melanjutkan aktifitasnya.
Sementara Sean
yang memperlihatkan foto pada Aran, membuatnya segera berdiri dan menyusul Airin
__ADS_1
ke dapur.