Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 24


__ADS_3

Airin kembali


menunggu di kamar mandi. Dengan rasa malu dan tak enak, dirinya menatap air


melihat bayanganya di sana. Kembali mengingat sosok Lusi yang bicara dengan


nada lembut pada Sean. Mereka memang pasangan sempurna. Begitu pikirnya.


Sekitar 20 menit


menunggu, suara ketukan kembali terdengar di sana ada Aran, yang berada di


balik pintu. Airin kaget dan semakin merasa malu. Hampir saja nafasnya


berhenti.


”Ini.” Aran


memberikan pembalut yang banyak dengan semua jenis pada Airin. ”Kalau masih ada,


panggil aku aja.” Airin mengguk masih menunduk. Dirinya segera menutup pintu.


Aran hanya bisa tersenyum dan membantu sebisanya, dirinya masih malu kalau


mengingat Lusi lebih berguna dari pada dia suami Airin.


Beberapa saat


sebelumnya Sean memperhatikan Lusi yang terlihat sibuk.


”Ada apa.” tanya Sean.


”Pembalut aku


habis, Airin sedang datang bulan.” Lusi berencana akan membelikanya.


”Terus mau ke


mana.” tanya Sean kembali dengan curiga.


”Aku pergi ke


minimarket sebentar.” Lusi terlihat antusias.


”Gak usah.” kata Sean


menarik tangan Lusi menuju meja makan.


”Aran, istri kamu


datang bulan. Beliin pembalut gih.” Sean menyuruhnya  dengan wajah di buat serius.


”Pantes aja dia


begitu.” Aran terlihat menyadari sesuatu. ”Kalau di ingat ingat beberapa hari


ini Airin memang agak  aneh, aku sudah curiga


dan menduganya, dan benar saja.” Aran begumam serius.


”Aran istri kamu.”


Anna kembali bicara dengan nada bercanda. Aran tersenyum, beranjak kaku. Ini terasa


sedikit menghina harga dirinya.


Airin menggengam


kuat plastik berisi pembalu. Rasanya sangat memalukan berada di posisi ini.


Airin tidak bisa

__ADS_1


menyalahkan Lusi, karena yang dia tahu Aran memang lebih berkewajiban dari pada


kakak iparnya. Tapi ini sangat memalukan. Hari sial apalagi ini?


Airin yang masih


merenung di kamarnya, setelah kejadian yang memalukan tadi malam dan


mengacaukan sarapan pagi hari ini, Airin mengurung diri di dalam kamar.


Tak ada tempat untuknya


menampakan diri di keluarga ini.


Sore hari yang


terasa nyaman, di mana mereka lagi lagi berkumpul di ruangan keluarga dengan sedikit


cemilan.


”Airin.” suara


dari luar membuat nya segera membuka bukunya dengan gerakan cepat. Berharap


kalau Aran mendapatinya tengah belajar.


”I-ya.” Airin


dengan suara yang terdengar panik.


”Keluar yok, papa


sama mama nungguin di ruang tv.” Airin tersenyum dengan setengah badan tanpa


menatap wajah Aran.


”Aku lagi ngerjain


”Sebentar aja.”


lagi lagi suara yang lembut dan hangat membuat Airin pasrah ketika Aran menarik


tanganya.


”Airin, masih


nyeri gak.” tanya Lusi melihat Airin dalam genggaman Aran yang malas melangkah.


Suara lwmbut itu membuat


Airin menatapnya sambil tersenyum.


”Udah enggak


kak.” Airin mengikuti langkah Aran yang membawanya duduk.


Anna datang


dengan nampan berisi cemilan.


”Masih ada yang


perlu di ambil gak mah.” tanya Lusi membantu Anna meletakan nampanya di meja.


”Iya masih ada


buah.” Anna kemudian duduk di samping suaminya Ahmadi


Lusi berdiri,


berniat menuju dapur, namun ponnselnya berdering. Langkahnya pun tertahan. Dan Airin

__ADS_1


yang melihat itu kesempatan untuk menawarkan diri.


”Biar aku saja


yang ambil kak.” Airin berdiri dengan semangat.


”Udah gak sakit


sayang.” Tanya Anna memastikan. Airin menggeleng yakin.


”buah semangka


yah, ada di kulkas, nanti potongnya gak usah di pisah sama kulitnya.” pesan Anna


sambil tersenyum.


Segera menuju


dapur kemudian membuka kulkas, disana ada beberapa buah. Airin menatapnya


dengan bingung.


”Buah semangka


yang mana yah.” Airin memilih buah yang berwarna hijau bulat. ”Kayaknya ini


deh, soalnya hijau juga.” Airin berjalan ke dekat meja dapur.


”Ini keras banget


deh.” Airin masih berusaha untuk memisahkan menjadi dua bagian.


Mencoba


membelahnya dengan pisau yang sedang, ternyata kesusahan. Menganti dengan pisau


yang lumayan besar, namun tak tak bisa membuat buahnya terbelah, pisaunya hanya


tertanam dalam labu yang di pikirnya semangka.


Airin kemudian


berfikir dan melirik pisau berukuran besar dari tanganya. Dengan yakin Airin


memasang kuda kuda akan membuat semangka itu terbelah. Dan yup walaupun jalan


terbelahnya tidak rapi namun labunya terbagi dua.


”Yes. Huf akhirnya”


Airin kegirangan. Kembali menatap isi semangka yang di lihatnya aneh.


”Ini semangka jenis


apa, kok kuning padat sih, bijinya agak besar.” airin mengigitnya, dan itu


terasa pahit.


”hay adik ipar.”


sean memanggilnya dari pintu. Airin berbalik dengan penuh keringat. Bisa di


lihat kerja kerasnya sangat luar biasa.


”Hy kak.” Airin terlihat


kaku. Sean kemudian berjalan kembali keluar. Airin melanjutkan aktifitasnya.


Sementara Sean


yang memperlihatkan foto pada Aran, membuatnya segera berdiri dan menyusul Airin

__ADS_1


ke dapur.


__ADS_2