
Suara notifikasi ponsenya membuat lelaki yang masih bugar itu segera meraih ponsel di nakas.
Matanya begitu jeli.
Tak lama kemudian dirinya bersiap memakai pakaian rapi. Berjalan menuruni anak tangga menyempatkan
waktu untuk berpamitan pada anak gadisnya.
“Airin, papah akan pergi. Apa kau mau ikut.? Tanya Bakrie memeastikan.
Sebuah senyuman terukir di wajah Airin. Begitu manis dan cantik. “ Did you change your mind and cancel my wedding.” Airin berkata dengan kedipan mata. Dia terliat sangat imut.
Bakrie mencengram tanpa kekuatan pada dagu cantik Airin. Menggelengkan.
“Papah menyesal.” Kata bakrie.
Wajah Airin menjadi focus, tak lama matanya berkaca kaca. Keduanya berpelukan. Lebih tepatnya Airin yang memeluk Bakrie lebih dulu. Kemudian suara tangis yang kecil.
“Dad.” Airin dengan suara haru.
“Pernikahan mu tetap akan terjadi dan itu secepatnya.” Bakrie membalas pelukan airin diiringi ucapan. Mengecup pelan puncak kepala Airin, sebelum gadis itu menarik diri dengan wajah kesal.
“I hate u dad.” Airin berteriak. dirinya kembali masuk kedalam kamar kemudian menutup pintu
dengan sangat keras.
“You stay home? Papah akan pergi cukup lama! Apa kau berani di rumah seorang diri.? Suara
Bakrie sedikit keras namun nada yang lembut.
“Go.” Teriak Airin dari dalam kamar. Suara yang jelas menujukan kemarahan.
“Oke baby. I hope you are well at home.” Bakrie berkata. Full senyum.
Baru beberapa
Langkah, suara pintu Kembali terdengar.
“Where you going dad.” Airin bertanya judes. Rasa malu dan kesal harus di kubur.
“Had an appointment with my friend. Emm dan sepertinya akan pulang malam.” Kata
Bakrie.
__ADS_1
Ucapan itu membuat Airin segera mengambil tas dan blazer selutut.
“Come on, don’t let your friends wit long.” Airin berjalan mendahului Bakrie.
Nah ini yang membuat Bakrie dilema kalau harus meningglkan putirnya sendiri. Airin itu
sangat penakut, sendirian di rumah dan terlebih mati lampu.
Gadis yang takut gelap.
Di perjalan hanya ada suara music. Keduanya tak saling bicara. Sebenarnya Bakrie ingin bicara
dengan Airin namun takut kalau pertahanannya akan runtuh.
Begini saja Bakrie hampir mengikuti kemauan Airin.
Saat sampai di depan restouran sekaligus hotel itu, Airin dan Bakrie keluar dengan saling
memegang tangan diantara keduanya.
So sweet bukan ayah dan anak.
“Hy Amanda.” Sapa Bakrie. Keduanya bercipika cipiki. Amanda
“Sudah aku katakan aku akan datang bisa lebih cepat atau lambat.” Amanda tersenyum menyambut
kedatangan Airin.
“Airin this is Amanda.” Keduanya berkenalan.
“Hallo.” Amanda tersenyum lalu memeluk Airin sebentar.
“Dia mririp sekali denganmmu.” Puji Amanda.
“Akulah ayah nya.” Kata Bakrie sembari duduk.
Airin duduk di meja lain yang tak jauh dari mereka.
Hal ini tak hanya sekali Airin ikut dengan Bakrie, di saat dirinya ada pertemuan sementara anak gadisnya ingin ikut keduanya akan bersama namun Airin tidak ada 1 meja dengan kolega dari papahnya itu.
Pembicaraan keduanya terlihat begitu serius dan berat. Airin yang kadang melirik keduanya
merasakan keseriusan diantara mereka.
__ADS_1
Namun Airin bukanlah anak yang terlalu ikut campur kalau bukan tentang dirinnya.
Pembicaaraan orang dewasa. Deep talk mereka hanya soal pekerjaan, saham, kolega,
dan semua itu adalah bisnis tepatnya.
Ayahnya memanglah dokter, namun memiliki jiwa bisnis yang kuat. Di saat pagi sampai siang dia
akan berada di rumah sakit atau di tempat praktek makan lain lagi kalau malam. Dia akan berada bersama temannya entah itu di klub, ataupun restaurant seperti sekarang tak lain yang di bahas adalah bisnis.
Detik menjadi menit kemudian berganti jam hingga tak terasa waktu larut malam telah menyapa.
Mata Airin begitu berat hingga dirinya tak sadar di bangunkan oleh Bakrie.
“Airin. We back now.” Kata Bakrie dengan suara lembut.
Airin bangun dengan mengusap mata. Tak ada lagi Amanda di pandang mata. Dan para tamu lainya
di restaurant itu. tinggal beberapa yang mejanya masih berpenghuni.
“What’s the time now.” Airin berkata buyar.
“jam 01.00.” Kata Bakrie.
Kedua berjalan menuju mobil yang sudah berada di depan. Airin melanjutkaan tidurnya selama
perjalan menuju rumah.
Sampai mereka kembali masuk ke dalam rumah yang bergaya eropa minimalis itu, Airin berhenti sejenak ketika masuk.
“Dad. Do you like that Girl.” Tanya Airin.
Langkah Bakrie terhenti. “ Not. I love your mom.” Tatapan mata Bakrie tajam.
“Aku tahu papa butuh seseorang pendamping hidup. Jika dia pilihan mu menikahlah, you will not
betray mother.” Suara Airin begitu santai ketika bicara.
“Airin. Kelak kau akan paham. Ini bukan soal penghianatan atau teman hidup.” Kata Bakrie.
“Yes old.” Airin berkata dengan senyum mengejek.
“Youre so childish.” Kata Bakrie dengan senyum asamnya.
__ADS_1
Jangan lupa tanda cintanya kalau suka yeah.