Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 52


__ADS_3

Saling bertukar cerita di pagi subuh membuat Airin terlelap kala menjelang terang. Aran melaksakan kewajibannya sebagai manusia sebelum dirinya kembali beraktifitas di sekitar Airin.


Notifikasi ponselnya, mengukir senyuman pada wajah Aran.


Membaca pesan teks soal jadwal perlombaan Tobi yang akan di laksanakan.


Besyukur karena Airin mendapatkan hari ketika perlombaan.


Karena ini nasional maka bisa di katakan bersaing dengan satu negara.


Aran memesan makanan cepat saji melalui ponselnya.


Aran yang menyantap lebih dulu saat pesanan nya datang, karena sangat lapar. Namun tak menghabiskan nya melainkan hanya beberapa suap saja karena ingin makan bersama Airin.


Airin bangun ketika perawat akan melakukan pemerisaan.


"Permisi yah pak," Kalimat pembuka dari perawat ruangan.


"Apa semalam ada keluhanan."  Memeriksa cairan infus.


"Selama saya datang, gak ada sus." Aran melirik Airin yang mulai terbangun.


"Sus apa saya udah boleh pulang." Airin memperbaiki posisinya.


"Aku pengen di rumah aja pak." Wajah yang terlihat sedih adalah senjata yang ampun sampai Aran tak bisa menolaknya.


Setelah berbicara dengan dokter langsung dan memenuhi beberapa resep obat barulah di izinkan. Deman Airin kategori termasuk kategori ringan.


Sean dan Lusi kegat ketika keduanya datang sementara Airin masih memakai selang infus.


"Raan." Sean dengan khawatir pada keadaan Airin.

__ADS_1


"Aku yang maksa kak." Suara yang tak merdu itu membuat Sean diam.


Aran membantu Airin menuntunya ke kamar, sementara Sean membawa barang mereka  dari mobil.


"Mau ngemil." Aran menawarkan kala mereka berdua berada dalam kamar.


"Engggak pak, aku masih kenyang setelah makan banyak tadi dirumah sakit." Airn hanya ingin berbaring.


"Maafkan aku yah Airin." Aran kembali mengatakan kata maaf dengan penuh penyesalan.


"Aku yang terlalu berlebihan pak." Airin dengan wajah pucat tersenyum.


"Enggak, bapak nyuruh aku nikahin kamu biar bisa jagainkamu, tapi aku malah yang menjadi penyebab kamu sakit." Arran masih di selimuti rasa bersalah.


"Bapak jangan gitu." Airin sudah bertindak terlalu jauh. Perbuatanya sepihak membuat Aran menjadi gagal menjaga nya


"Kamu kalau nanti sama crus, harus bisa jagain kamu jangan cari  yang kayak aku." Kalimat Aran terdengar menyakitkan untk Airin.


"Kenapa masih memikirkan crus karangan ku, apa sikapku, kemarin masih belum menyadarkanya." Airin merasa kesal tiba tiba.


"Pak aku mau tidur." Dengan nada yang ketus Airin menutupi seluruh tubuhnya ke dalam selimut.


Sudut pandangan mana yang sebenarnya Aran lihat? Sebaiknya dia cepat sadar dengan tindakan Airin kemarin.


Terlalu cepat menghakimi keadaan.


Aran berjalan keluar dari kamar, berjjalan menuju sofa, di sana ada Sean yang sedang berbaring di pangkuan Lusi.


"Aran kenapa di ijinin pulang." Sean merasa sikap Aran yang kurang tegas.


"Dia merasa sunyi di rumah sakit, mohon mohon minta pulang cepet." Aran terlihat lelah.

__ADS_1


Sean bangun, duduk diantara Aran dan Lusi.


"Tadi agak sorean kamu dateng dateng ngomong kalau dia baca chat kamu sama Adinda. Sebenarnya ada apaan sih." Sean yang terlihat serius karena ini cukup serius.


Lusi sama Aran hanya saling tataapan.


Selama ini bisa di katakan kalau Sean hanya mengetahui garis besar dari kisah Adinda sama Aran. Namun untu lebih ke jelasnya Sean tak pernah tahu bagaimana berakhirnya hubungan yang terjalin hampir 6 tahun lamanya.


"Kak aku capek,  entah entar aja deh jelasinya." Aran bersandar pada bahu Sean.


Sean melirik Lusi yang kala itu hanya mengangkat bahu seolah tak tahu.


Lebih tepatnya biarkan Aran yang menceritakanya. Lusi mengelus lembut bahu satunya.


"Dia istri kamu, apapun yang terjadi dengan masa lalunya, atau apa yang dia alami saat ini semua tanggung jawab mu." Sean berbicara layaknya tetuah.


"Sampai nanti dia tamat dan kamu belum juga menyentuhnya ingat dosanya. Dia halal untukmu saat ini dan nantinya selagi dia istrimu." Kalimat Sean adalah emas di ujung cambuk.


"Ridho Ran, kisahmu dan Adinda sudah selesai. Hanya ada Airin sekarang dan besok kemudian nanti." Sean mencoba meyakinkan adiknya.


"Aku ke sini karena mama mempercayakan nya padaku, berharap hubungan kamu dan Airin bisa menjadi sampai seterusnya." Sean dengan nada kecewa.


"Terlepas dari urusan aku, ada mama yang menaroh harapn penuh, jadi jangan kecewain kami. Lupakan masalah papah dan om Bakrie. Kamu gak di lahirkan buat balas dendam." Sean terusulut rasa kesal, sebelum akhirnya pergi masuk ke kamar.


Waktunya hampir selesai, kerjanya yang menjadi pengawas dalam lomba Tobi dari pendidikan pusat kota sebentar lagi berakhir dan kisah adiknya belum ada kemajuan.


Hy raiders selamat malam dan terimakasih telah membaca sejauh ini yah.


Tinggalin jejak yah kalau betar hati untuk coment like aja, gak susah kok. Yang baca hampir 500 orang yang like dan comentarnya gak nyampe 10 hm Author mengesedih nih.


klik favorite untuk cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2