Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 66


__ADS_3

Aran dan Airin hari ini akan pergi ke bandung, sesuai dengan kesepakataan.


Sejak kejadian di sekolah itu, Airin menonaktifkan ponselnnya. Tak mau selalu merasa sedih dan terbayang bayang.


Kali ini mereka berdua naik pesawat, karena Airin tengah datang bulan. Kasihan kalau harus perjalan jauh dan lama.


Aran tak sekalipun melepaskan gengaman tangannya.


Sepanjang jalan Airin, terus melihat jajanan khas oleh oleh. "Pak." Panggilnnya, berhenti melanngkah.


"Ya." Katanya melihat kemana Airin memandang. "Mau beli apa." Berjalan ke tempat jajanan


"Aku mau ini, satu." Matanya memandang sejauh jajannan di pajang. "Ini satu, satu lagi ini, sama yang ini." Tangannya penuh dengan beberapa snack olahan.


Aran membayar  semua yang di sentuh, Mengambil plastik berisi belanjaan Airin.


Setelah terdengar pesawat mereka segera berangkat keduanya langsung berjalan cepat, berhenti di pemeriksaan tiket, setelah itu segera masuk ke pesawat, yang sebentar lagi lepas landas.


"Nyaman gak." Aran memastikan posisi Airin cukup baik. Gadis itu mengangguk.


Saat akan lepas landas, Airin cukup terkejut, tanganya spontan meremas pergelangan Aran.


Aran memperhatikan Airin yang sedikit ketakutan.


Karena mereka menaiki kelas bisnis Aran mulai mengatur posisi tempat duduk.


"Kamu setengah baring aja." Saran yang di angguki Airin


Aran mulai menyingkirkan anakan rambut Airin ke punggung telinga. Lalu mengelus lembut tangan Airin.


"Perut kamu nyeri lagi." Aran melihat wajahnnya sedikit meringis.


Airin mengangguk.


"Mau di kompresin pakai air hangat." Tawar Aran.


"Gak usah pak." Dengan suara menahan sakit.

__ADS_1


"Gak apa apa, nanti aku minta bantuan sama pramugarinnya." Aran berharap Airin tak kesakitan lebih lama.


"Permisi," Aran bicara pada pramugara yang duduk di dekat pintu.


Merasa di panggil, ia pun mendekat.


"Ya pak, ada yang bisa di bantu." Tanya dengan sopan.


"Saya boleh minta ini di isi air hangat." Suara Aran terdengar ramah pada siapa pun.


"Baik pak, mohonn menunggu yak." Kata pramugara segera pergi meningalkan mereka.


"Sabar bentar yah." Kata Aran. Airin masih mengangguk dengan wajah menahan sakit.


Setelah menunggu  menit, yang datang kembali seorang pramugari yang cukup cantik.


"Permisi, apa bapak yang meminta air hangat kompresnya." Bertannya dengan memberikan senyuman terbaiknya.


Aran sedikit penasaran, kenapa yang datang jadi wanita? Namun tak mempermasalahkanya! Kemungkinan yang tadi sedang ada urusan.


Suara manja itu terdengar menyapa telinga Airin.


"Iya.? Aran kemudian mengadakan tangan nya. Niat mau mengambil alat kompres dari pramugari. Namun kala cepat ketika mbaknnya mulai mendekati Airin.


"Halo adek, mohon maaf sebelumya, bisa duduknya mengarah ke depan, biar kompresaannya bekerja dengan baik," Kata mbak pramugari dengann sopan.


"Saya bisa melakukan nya sendiri." Airin setengah kesal.


Jelas terlihat kalau pramugarinnya sedang terpana dengan Aran. Padahal sudah jelas jelas Aran menggenggam mesra tangan Airin.


"Baiklah, kalau perlu sesuatu silahkan panggil saya kembali." Melirik ke Aran dengan senyuman.


Airin melemparkan kompresnya, Aran mengallihkan fokusnnya dari buku yang sedang di baca.


Mengambil dan memberikannya pada Airin.


Lagi lagi Airin sengaja menjatuhkanya. Aran tersenyum.

__ADS_1


Ada ada saja kelakuan Airin.


Setengah perjalan, pramugarinnya kembai membawakan cemilan, membagikanya pada penumpang.


Tiba giliran Aran, gadis yanng memakai batik degan rok pendek terbela itu sedikit lambat dan berbasa basi.


"Perut adeknnya bagaimana? Apa sudah baikan." Suaranya sunngguh sopann ketika bertanya.


"Iya mbak." Aran menjawab seadanya sambil tersennyum.


"Syukurlah." Jawaban nya cukup singkat.


"Bapak di bandung, kota atau bagian mana." Pertanyaan nnya mulau spesifik.


"Soalnya saya juga asal bandung." Lanjutnya basa basi.


"Saya di kotanya." Aran hanya menjawab seperlu nya. "Terimkasih yah mbak." Aran inginn segera menyudahi percakapann.


"Oh ya, Kalau perlu sesuatu bisa panggil saya saja." Nada ucapanya sedikit kecewa.


Airin menarik tanganya dari gennggaman Aran.


Aran sontak kaget.


Tak lama pramugarinya datang lagi.


"Permisi yah pak."  Katanya dengan sopan. " Ini ada beberapa produk yang mungkin bapak tertarik untuk membelinya." Pramugarinya menyerahkan katalok bergambar wanita ****.


"Iya terimkasih." Aran mengambillnya tanpa bertanya. Pramugariya masih berdiri mennunggu.


"Kalau bapak tertarik hubungi nomor saya, nanti akan saya berikan diskon." Masih berusaha memberikan nomornya di secarik kertas.


"Iya, terimakasih." Aran mengambilnya, tanpa bertanya.


"Mungkin bisa di lihatkan pada adiknya, barangkali tertarik dengan beberapa barang di sini." Masih berusaha, dengan kata sopan.


"Iya nanti akan saya tanyakan pada istri saya kalau sudah bangun." Aran kembali tersenyum. Tanganya sekali lagi menggengam erat punggung tangan Arin.

__ADS_1


Hanya bisa melakukan ini, semoga mbak paham.


Jangan lupa LLIKE,COMENT, FOVORITE.


__ADS_2