
Pagi hari di
sekolah di mana para siswa yang terlihat berbincang bincang ada juga yang
tengah sibuk memperbaiki tugas kemarin. Berbagai macam aktifitas.
Tak terkecuali
dengann Airin, terlihat sibuk dengan tugas tugasnya.
”Morning.” sapa Wilson. Airin mengganggap suara wilson adaalah angin lalu.
”eh udah sehat.” Kembali bertanya bas abasi namun airin
hanya memperlihatkan matanya yang mengerut.
Tak ada jawaban.
Reynald pun yang
mendnegar Wilson bicara tanpa sahutan akhirnya merebut buku Airin. Dengan rasa
penasaran. Melihatnya seksama, kemudian tertawa meledek.
”ahaang. Jadi lu
di kacangin karena soal sepele ini.” kata Reynald pada Wilson.
”Balikin gak.”
teriak Airin. Suaranya cukup menggema, sementara yang lain terdiam mendengra
suara Airin yang tak biasanya.
seketika wilson
mengambilkan buku Airin. ”Nih, jaga kesehatan.” menyimpannyya di atas meja. Airin
hnya bersungut segera mengambil buku
nya. Semua siswa kembali duduk kala pak Aran masuk ke dalam kelas.
Karena menarik
buku dengan sedikit kasar, Airin menjatuhkan sesuatu dari dalam. Wilson kembali
memberikanya.
”Pagi semua”
salam santun pak Aran. Suara yang bersamaan itu membuat sebagian para siswa
mengalihkan pandangan nya pada Airin dan wilson.
”Ciahhh, pagi
pagi sudah mesrah banget.” teriak siswa lainya.
”Di kasih coklat
gak tuh.” sahut lainya.
”Aduhh jangan
pacaran di kelas donk, udah ada guru tuh, kalau mau so sweet.” timpal murit
lagi.
”Sudah sudah.” Aran
kembali fokus pada mata pelajaranya.
”Bisa tolong pr
yang minggu lalu di kumpul yeah.” kata Aran. Semua murit segera membawanya.
”Oke jadi apakah
ada yang merasa jawabanya paling tepat, boleh silahkan maju.” kata Aran.
Wilson dan Emma
segera maju, keduanya mengisi bagian yang di anggap paling benar dalam soal.
Selesai mengisi
di papan tulis, mereka kembali duduk. Setelah itu Anara dan Reynald kembali
berdiri untuk mengisi di papan tulis.
4 jawaban sudah
ada di papan tulis, di mana masing masing, mereka mewakili tiap peringkat.
__ADS_1
”Oke untuk yang
soal terakhir ada yang ingin mengisinya.” Tanya Aran lagi pada siswa lainya.
”Airin aja pak, sekalian
mengisi peringkat mereka.” sahut siswwa lainya di dalam ruangan yang meberikan
ide.
”Airin.” Kata Aran.
Sementara Airin kala itu terlihat ragu ragu.
Tak lama wilson
kembali mengambil spidol di tangan pak Aran dan mengisi jawaban soal no.5.
”Maaf pak kalau
siswa gak siap jangan di paksa. Mental setiap orang beda beda.” kata wilson
kembali duduk setelah mengerjakan soal.
Airin menatap
wilson dengan sorot mata kesal.” Apa apaan ucapanya barusan. Lagian ngapain juga
dia ngasih coklat dalam buku gw.” Airin kemudian menyimpanya ke dalam tas.
Airin hanya
menunduk, sementara Aran tak terlalu menanggapinya.
”Oke, di papan
tulis apa semua jawaban kalian seperti ini.” kata Aran.
”Kalian boleh
kembali mengulik beberapa soal yang kalau di rasa masih ada yang salah.” Tak
ada yang berani mengambil bukunya kembali walalupun sudah di berikan
kesempatan. Sementara Airin melangkah tanpa ragu.
Semua siswa
menatap Airin.
dia lakukan? Dia sunggu berani.” kata salah satu siswa yangmerasa tak percaya Airin
bertindak sejauh itu..
Jangan tanya
bagimana heranya Aran pada sikap Airin.
Bell pulang
berbunyi, semua siswa merasa senang. Di perjalanan kembali ke rumah aran fokus mengemudi,
sementara suara perut Airin terdengar dan itu terlalu memalukan.
”Maaf.” Airin
berkata dengan malu.
”Jadi mau makan
apa.” Aran memberikan ponselnya pada Airin
dengan layar pilihan menu makanan.
”Tapi aku gak
lapar.” Airin sangaat malu. ”Aku yang mau makan.” Aran bicara dengan nada lembut.
Airin diam.
Mobil yang mereka kendarai pun memasuki
pekarangan resturan.
”Ayok.” aran
membuka sifbell dan mengajak Airin. Airin diam tanpa melihat lawan bicaranya. Aran
menghembuskan nafasnya kasar.
”Aku mau balik aja
pak.” Airin berkata dengan menunduk.
__ADS_1
Mobil kembali
memacu di jalanan. Dirinya singgah alfa untuk membeli beberapa keperluan.
”Gak lama.” kata Aran lekas turun. Tak sampai 10 menit
dirinya kembali dengan beberapa kantong plastik berisi penuh. Setelah selesai
keduanya lanjut pulang ke rumah.
Sampai di rumah Airin
langsung segera turun tanpa bicara apapun.
Aran hanya bisa
menghembuskan nafasnya kasar sekali lagi.
Kemudian menatap
tempat duduk Airin. ”Ada apa dengan nya.? Aran sedikit bingung. Melepas dasinya
dengan sangat kasar, segera menyusul Airin
turun dari mobil.
Airin yang berada
di kamar merasa jenuh, dirinya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk
menyegarkan tubuh.
Merasakan air yang
menyentuh kulitnya, membuatnya sedikit merasa tenang. Dirinya bahkan menyelam
beberapa menit, air itu menenggelamkan tubuh Airin.
Terasa nyaman,
ditambah beberapa wangi yang dapat menyegarkan, demi apa benar benar sangat
nikmat rasanya bagi Airin.
Ingatanya yang
tadi berada di sekolah kembali terbayang, dirinya merasa bodoh karena bersikap
demikian. Sehingga ingatan itu mengarah ke Aran, yang terlihat sedikit kecewa.
”Apa bapak itu
marah.” kata Airin dalam air. Menghembuskan kasar nafasnya dalam air, sebelum
benar benar kepalanya terangkat keluar.
Hufffff.
”Papah kenapa
ninggalin aku,” Airin mulai berfikir.
sejak kepergian
bakrie ke swish dirinya sama sekali belum menghubungi lewat telfon.
”Aku pokoknya mau
terfon papah.” teriak Airin sambil memukul air dengan kasar.
Aran yang uring
uringan berada di kamar karena sikap Airin membutnya tak bisa menutup mata.
Apalagi kata Bakrie yang jelas teringat di benaknya kalau dirinya tak boleh
menelantarkan Airin.
Tanpa pikir
panjaang Aran segera keluar dari kamar, dan menyempatkan memeriksa belanjan nya
tadi.
Tanpa mengentuk
pintu kamar airin dirinya langsung masuk. Aran tak melihat ada airin di kamar,
mencoa masuk lebih dalam suara aran bahkan tak tersahut.
Kekesalan Aran
meningkat 25% dari sebelumnya. Melangkah dekat pintu kamar mandi, saat di
__ADS_1
depan Airin, keluar dengan baju mandi yang bagian dadanya agak terlihat.