Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 44


__ADS_3

Aran memeluk Airin dengan dekapan renggang. Mencoba menghiburnya sesaat.


"Apa aku kekanak-kanakan." Airin dengan rasa sedih yang mendalam.


Aran tersenyum sekilas. Detik berikutnya kembali tegang. "Apa kau baru saja di campakan crush mu." Aran teringat kisah flasback Airin.


Gadis itu mengangguk cepat.


"Maaf yah." Tangannya mengelus kepala Airin lembut. " Aku sudah berjjanji pada ayahmu akan menjaga mu, tapi aku gak bisa kalau masalah yang satu ini." Aran dengan mengigit bibirnya gemas.


"Apa aku anak yang menyebalkan." Menarik diri menatap wajah Aran.


Sorot matanya menelusuri wajah gadis yang menjadi istrinya itu dengan sekilas senyuman.


Aran menggeleng. "Siapa yang bilang." Katanya. Tangan nya menyingkirkan anak rambut yang menjuntai dekat bibir berisi Airin.


Sorot mata Airin mengikuti gerakan jemari Aran. Wajanya yang penuh kebingung menampilkan rona wajah yang membuatnya salah tingkah.


Airin kembali berbaring. Menutupi tubuhnya denga selimut.


Aran yang merasa telah keterlalun, ikut berbaring dengan jarak diantara mereka.


Haruskan keduanya seperti ini terus? Mereka sudah menikah satu tahun lamanya.


Tak ada yang berubah sama sekali.


Kedatangan  Sean dan Lusi tak terlalu memberi dampak.


Sampai kapan mereka mengunci sikap seperti ini.

__ADS_1


Kesokan paginya seperti biasa. Keduanya menuju sekolah bersama, kali ini sebagian siswa sudah mengetahui kalau Airin adalah sepupuh dari pak Aaran jadi bukan hal yang perlu di sembunyikan lagi.


"Airin." Ema berteriak sambil berlari mendekat. "Nih beberapa buku dari lomba kemaren, pakai aja." Airin menerimanya seperti terpaksa.


Ema melangkah pergi meninggalkan Arin.


Tak lama Wilson datang bersama Reynald.


"Ngapain bengong di jalan." Reynald merangkul ke leher Airin.


"This is heavy." Airin memberikanya pada Wilson. Mereka berjalan bersama menuju kelas.


Tiba waktunya untuk mereka latihan di ruangan yang telah di sediakan. Semua terlihat tegang kecuali Wilson.


"Abis ini mau ikut ke rumah gak." Wilson setengah berbisik.


"Di rumah ada Koala." Suara nafas nya membuat Airin memegang telinganya.


Usai latihan yang tinggal menghitung hari lagi, Airin bersama Reynald keluar kelas dengan sedikit gurauan.


Wilson ikut menghampiri mereka.


"Hari ini kita ke danau yuk." Anara paling semangat.


"Aku sama Airin gak bisa." Wilson menggengam pergelangan Airin.


"Ema udah nungguinn lho." Anara merasa kesal.


"Guys, where you going." Reynald menatap Airin yang terlihat tak tahu maksud Wilson.

__ADS_1


Wilson melangkah bersama dengan Airin. Keduanya terlihat layaknya remaja pecaran.


"Aku enggak bilang iya lho." Airin meminta penjelasan.


"Tapi kamu gak nolak." Wilson segera memacu lajju mobilnya.


Saat akan keluar dari gerbang ponsel Airin berdering. Tanpa menunggu lama segera mengenggkatnya.


"Yah pak." Sapanya dengan lirikan pada Wilson.


"Keruangan saya." Kalimat itu membuat Airin segera turun dari mobil Wilson segera menuju ke ruangan Aran.


Aran bahkan tak sampai menarik nafas yang ke sepeluh ketika Airin muncul di balik pintu.


"Ada apa  pak." Suara yang mengagetkan Aran sampai salah like akun istagram.


"Kamu udah selesai latihanya." Aran meletakan ponselnya.


Airin berjalan ke sofa yang ada di ruangan milik Aran. "Apa kita pulang sekarang." Airin mengelurkan ponselnya dari saku.


"Kamu ada janji." Bertanya tanpa melihat wajah Airin.


Niat hati ingin Aran melarangnya. "Ia, bareng temen mau ke danau." Wajahnya seolah sedih.


"Yuadah, kamu hati hati." Wajah Airin terlihat bingung. Seharusnya Aran melarangnya.


Ingin hati di larangan, namun itu tak sesuai keinginan nya.


'Seharusnya dia melarangku pergi, tapi kenapa jaku merasa sedih kera di ijjinkan? Airin berjalan menuju parkiran dengan rasa galau.

__ADS_1


__ADS_2