Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 55


__ADS_3

Pagi ini adalah hariĀ  di mana giliran dari sekolahnya sebagai perwakilan di ajang lomba TOBI.


Sejak tadi malam belajar sampai subuh, tak lupa menjalankan ibadah meminta kelancaran untuk besok.


Rasanya tak bisa tidur, matanya mungkin mengantuk namun perasaan cemas nya tak bisa di hilangkan.


Aran sempat menemaninya belajar, namun saat Airin melihat mata Aran yang mulai merah, melihat itu dengan sengaja segera mengajak nya tidur.


Tak sampai 1 manit Aran terlelap tanpa basa basi. Airin sama sekali tak merasa bisa tidur. Bangun perlahan dan membuka bukunya untuk mempelajari latihan soal kemarin.


Ini kali pertemanya sejak tamat dari sekolah menengah pertama mengikuti ajang lomba materi selain seni.


Rasa gugupnya dan keraguan ini nampak jelas. Lebih terlihat seperti beban baginya.


"Bagaimana kalau aku mengacaukan nya lagi." Airin mulai khawatir.


Melirik pada Aran yang tertidur lelap.


"Orang itu yang akan paling kecewa." Nafanya mulai tak beraturan.


"Aku tidak mau mengecewakanya." Wajah penuh keraguan. " Aku harus berusaha, cukup pelajari dan hafalkan." Airin kembali membaca semua materi yang di latihan soal dari halaman awal.


Sampai di mana Aran yang biasa terbangun subuh melihat sekilas seseorang duduk meja belajar di mana Airin biasa duduk. Perasaan Aran masih dalam keraguan, dengan mata yang masih mengatuk mencoba untuk tidur beberapa saat lagi.


Tanganya meraba, mencari ponselnya. Biasanya Aran meletakan ponselnya di bawah bantal.

__ADS_1


Kali ini tanganya Aran meraba luas, perasaanya berkata aneh. Aran segera bangun.


Benar saja, Airin tak ada di dekatnya. Aran memang tak salah lihat.


Aran berjalan mendekat. Airin setengah duduk. wajah nya menyangga di meja.


"Kalau di ingat ingat tadi malam dia ngajak tidur." Mulai berfikir kejadian. " Apa dia gak tidur." Aran mencoba mengangkat Airin.


Saat tangnya menyentuh pundak Airin terbangun.


"Kenapa tiduran di sini." Aran melirik buku di meja dengan banyak coretan.


"Bapak kenapa udah bangun." Airin mengalikan pembicaraan.


"Demam kamu udah turun." Berjalan ke luar kamar.


Kembali dengan segelas air hangat. meletaknya di depan Airin. Aran lanjut berjalan masuk ke kamar mandi.


Usai mandi dia melakukan kewajibanya sebagai umat beragama, melihat itu Airin ikut berdiri di belangkangnya.


Ini pertama kali bagi keduanya.


Usai melaksanakan kewajiban, Aran mulai memeriksa pekerjaan Airin. Mencium tangan tadi wajahnya tak henti merona.


"Semalam kamu gak tidur yah." Aran dapat menebaknya.

__ADS_1


"Tidur ko pak," Mengalihkan pandanganya.


"Sini deh." Aran membuuka buku coretan. "Kamu lihat ini apa." Aran menunjuk garis pena yang panjang, dan sedikit noda basah.


Karena malu, Airin berjalan masuk ke kamar mandi.


"Kenapa aku mesti ileran sih. Bikin malu aja." Airin menggerutu kesal di balik kamar mandi.


Baru juga tertidur sebentar udah ileran.


Aran tersenyum dengan tingkah Airin barusan.


Sangat kyuut. Usai memeriksa beberapa lembar latihan soal, Aran segera bersiap siap untuk kerja.


Cuacanya sudah mau terang. Lusi dan Sean juga sudah bangun tapi belum bersiap.


Karena mereka adalah pengawas, maka bisa datang sekitar jam 9.


Rasa malu Airin pada Aran belum reda. Dirinya tak mau duduk di depan bersama Aran. Berjalan menuju bangku belakang.


Saat membuka pintu mobil Aran sengaja menekan tombol kunci otomatis.


"Airin cepat nanti telat lho." Aran menggodanya dengan tersenyum. Airin kembali membuka pintu bagian depan.


Aran bantak tersenyum, sementara Airin terus menutup wajahnya dengan buku.

__ADS_1


__ADS_2