
Bagaimana bunyi gendang, begituah tarinya. seperti kata pepatah barusan.
Pertanyaan Andini yang hanya sebuah senyuman tanpa kalimat dari Aran, hal itu bagimana guntur yang menyambar keras perasaan Airin.
Selama perjalanan sampai keduanya masuk ke dalam rumah. Airin sama sekai diam dengan perasaan nya yang kacau.
Ada Amarah, rasa kecewa, dendam. Apakah ini cara nya? Dewasa dan di paksa diam saat rasa suka berada di ujung lidah! Sungguh menyiksa.
Air matanya jatuh, berada di balik pintu kamar mandi. "Sakit banget." Meremas kuat dadanya.
Aran diam, mematung sesaat. Kelihatanya Airin sangat marah.
Lalu bagaimana denganya yang takut dengan pilihan nya.
Aran kembali teringat kalimat Sean.
Kakinya melangkah yakin, mengetuk pintu kamar mandi. "Airin." Aran memanggil pelan.
Suara Aran terdengar jelas, mencoba menyeka air matanya. "Iya pak." Jawabnya
"Jangan lupa makan." Kalimat yang tak seharusnya dia katakan.
Malam menyapa, hujan deras yang terdengar, hari ini Sean dan Lusi pulang ke apartemen. Hanya ada mereka berdua di rumah.
Jam sudah menunjukan angka 21: 35. Sepulang sekolah Airin sama sekali tak keluar kamar.
Aran berjalan mendekati pintu kamar. " Airin." Panggilnya merasa khawatir.
__ADS_1
Mengetuk perlahan. "Airin ini udah malam benget, Kelaur dulu makan." Nadanya terdengar memerintah.
Aran melangkah menuju dapur. Memanaskan masakanya. Menunggu beberapa lama, Airin masih berada di kamar dan tak kunjung keluar.
Mengetuk lagi, kalli ini lebih keras. "Airin makan dulu." Dengan nada pelan namun berbentak.
Tak lama handlle pintu berputar. " Aku masih kenyang pak." Katanya dengan pintu di buka setengah.
Kalimat Airin tak di dengarkan. " Kamu belum makan seharian." Aran mendorong, hingga pintu terbuka lebar.
Menarik pergelangan Airin.
"Auh, sakit." Katanya perlahan. Aran membawnaya ke tempat duduk.
"Makan." Kata Aran tak penolakan. Gadis mulai makan perlahan.
Aran terus memperhatikanya. Matanya sembab, mungkin habis menangis.
Airin yang membawa piring makanya ke wastafel, tak memperhatikan pintu kamarnya di kunci.
Buru buru berlari masuk ke kamar. Memutar handle pintu berkali kali.
"Percuma, gak akan bisa." Aran tengah menonton tv.
"Bapak kenapa sih." Airin berkata dengan kesal.
"Kamu yang kenapa." Aran sedikit keras namun pelan. "Seharian ini kamu menghindari aku terus." pandanganya menatap Airin.
__ADS_1
"Aku gak mungkin ganguin kasmaran bapak." Dengan kesal berkata.
"Airin kamu ngomong apa sih." Aran berjalan mendekati Airin. "Sini." Menarik dengan lembut.
Mereka berdua duduk bersama di sofa depan tv.
"Pasti sakit banget yah." Aran mengambil obat dari p3k. Kuku Airin itu hanya terbungkus tisu.
"AkuĀ bisa ngobatin sendiri." Airin menarik tangannya.
Aran terdiam. Yah dia memang tak lebih baik dari crus Airin.
"Aku hanya membantu bu Andiri, anaknya jatuh dari kereta." Aran sedikit menjelaskan yang Airin maksud.
"Waktu mau pulang, dia berdiri di dekat pintu. Trus nanya sama aku. Kata nya kalau boleh dia numpang, soalnya anaknya jatuh dari kereta. Aku menolaknya, aku memikirkan perasaanmu, tapi pas dia bilang anaknya jatuh aku gak bisa nolak." Aran berharap penjelasanya bisa di terima Airin.
"Bapak gak pernah pacaran yah." Airin mulai bertanya serius.
"Enggak, menurutku itu merepotkan." Aran menjawabnya dengan menatap ponsel. Tahu kemana arah pembicaraan kalau sudah begini.
"Tapikan bapak nikahnya sama aku."Airin merasa dirinya bawel.
"Emang kenapa." Aran hanya meiriknya sebentar.
"Pantesan aja langsung nolak." Gumam Airin. "Perduli terhadap perasaan ku.?
Maksudnya apa?
__ADS_1
Jangan lupa llike dan comen yah.
Klik favorite. Baca dari bab 55