Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 40


__ADS_3

Airin gugup. Tersenyum menatap Aran.


”Kamu kenapa.” Airin terlihat gelisa. Aran bisa merasakanya.


”Em, apa aku bilang, bapak tahu namaku aku lolos untuk ikut lomba TOBI.” merasa bangga. Aran


tersenyum mengangguk.


”Maka dari itu aku ingin belajar di kamar tanpa di ganggu.”  ’Ngapai sih aku, pake ngomong kek


gini.’ Dengan perasaan was was.


Aran mengangguk dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Airin tanpa membuang waktu segera


masuk ke dalam kamarnya. Dirinya bersiap untuk memanjjat dinding rumahnya


setelah melompat keluar dari jendela kamar.


Melemparkan tasnya dengan hati hati, sementara teman teman nya sudah menungu di balik


dinding.


Airin mendaratkan badanya, Reynald sigap menangkapnya. Mereka kemudian melaju menuju club.


Airin memastikan ponselnya berada di rumah, dengan memutar musik.


Mereka memang anak muda yang tengah menikmati kehidupan remaja pada umumnya.


”Airin, serius gak mau coba.” Ema menawarkan minuman di gelas kecil.


”No. Aku gak mau nimbulin masalah.” Airin mencoba menikmati suasana.


“Rin, aku rasa pak Aran bakal ngerti ko. Dia juga kan pernah muda, pasti pengalaman dia tuh


banyak.” Ema terus menggoda.


”Jangan minum.” Reynald memberi kode pada Airin.


Airin menggangguk. Anara tak bisa terselematkan dirinya keburu menghabiskan 7 gelas


minuman yang di beri Ema.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari kalau teman mereka yang pernah satu kelompok dengannya di awal masuk nya


pak Aran berada di tempat yang dengan mereka.


”Airin, do you sure.”  Reynald mengalihkan perhatian.


“What.” Dengan bingung. Menyantap cemilan.


“Ngingkut lombanya.” Reynald khawatir.


Cepat atau lambat Reynald memang akan bertanya padanya.


Hanya masalah waktu. Mengingat Reynald tahu story Airin dengan lomba sains.


”Airin kita kan udah janji sama Reno.” ada rasa cemas di sana.


”Rey, tapi itukan udah lama. Sekarang kita udah SMA.” kita berhak bersinar jjuga.


Semenjak kejadian itu Reynald hanya mengambil cabang lomba olahraga dan music. Sama


halnya dengan Airin.


”Rin, kalau sekarang kita ngambil lombanya, bagaimana dengan kasusnya.” Rey kehabisan kata kata.


Reynald  terlalu cemas. Kerana mereka sudah berjani pada Reno tidak akan mengikuti lomba sains, untuk menghargai perssahabatan.


”Rey i know you scary, but.! Airin terdiam dengan wajah


bingung. “I promiss you. Gona be fine.” Airin menepuk pundak Reynald.


“Its not obaut me.” Rey dengan sorot mata kecewa.


“Reno gak bakal lepasin kamu, dia bakal jadi bayang bayang nantinya. Dia akan merasa di


khianati.” Rey masih membujuk Airin.


”Listen to me. Waktu aku ke Bandung, dia bahkan ngajakin aku makan strobery, dan sama sekali


gak bahas soal ini. Artinya apa? Dia udah lupain masalah ini.” sorot mata Airin


terlihat emosi.

__ADS_1


Mereka memperhatikan keduanya. Ema memberikan gelas berisi minuman. Airin dengan


sekali tegukan karena merasa kesal.


”Sick.” Reynald menatap kesal Ema. Melihat itu Wilson menyeringai.


”Everclear.” Wilson memegang botol, dari minuman yang di teguk Airin. Dirinya setengah


tertawa.


Anara sudah setengah sadar. Sementara Airin merasa pusing karena tak biasa. Setelah jam 9 malam mereka memutuskan keluar dan menyadarkan Airin lebih dulu.


”Are you  oke.” Reynald sangat khawatir.


“Yes.” Mata Airin sedikit merah.


”Ini berapa.” Reynald sangat berusaha. Ini jjuga karena dia.


”Dua.” airin dengan nada agak malas.


”Aku bawa dia balik di luan. Wil lets go.” dengan menaiki mobilnya menuju rumah Airin.


Di perjalan Airin hampir sadar sepenuhnya dari rasa pusinh, matanya agak merah. Rey masih


berusaha memnjat pagar rumah Airin.


”What are you doing.”” Airin berteriak gemas.


“Cepetan Rin.” Wilson membantunya. Airin memanjat dengan hati hati. Melihat gadis itu sudah bedara di


halaman rumahnya, mereka pun meninggalkan di sana.


Sekarang Airin hanya perlu  masuk kembali lewat jendela.


Memanjatnya perlahan untuk sampai ke dalam kamarnya.


”Selamat.” Airin berjalan menghidupkan lampu. Meletakan tasnya di atas ranjang. Seketika gadis


itu duduk lesu di lantai.


Aran yang tengah bersandar di kepala ranjang, dengan membaca buku. Suasananya tak begitu gelap

__ADS_1


lampu kamar tidur memang dia biarkan hidup.


__ADS_2