
Ehhhh. Arin sedikit berteriak hingga keduanya kaget.
”Kamu kenapa sih.” wajah Aran merah. Sedikit salah tingkah.
”Bapak ngapain masuk kamar Airin.” tanganya mencoba menutupi bagian dada.
”Em, aku enggak tahu kalau kamu mandi. Tadi aku manggil berapa kali tapi kamunya gak dengar, aku kira kamu kenapa kenapa.”wajah Aran terlihat panik.
”Aku mandi.” Perasan nya sedikit tidak enak. Rasanya seperti keterlaluan.
”Udah tahu, kan aku liat.” masih dengan memegang nampan makanaan di tangannya
”Bapak pasang kamera yeah di kamar Airin.” Airin mengerutkan alisnya, dengan curiga.
”Aku gak se freak
itu yah. Kamu cepetan ganti baju, abis itu makan.” Ucap Aran menatap mata Airin
kemudian melirik bagian dadanya.Mengulas senyuman di wajahnya.
”Ihh, dasar
brengsek, cabul, pedofil.” teriak Airin melemparkan beberapa barang.
Airin sibuk
mencari apa lagi yang akan di lemparkanya pada Aran. Tanpa di sadari Airin
mengambil vas bunga kaca.
”Jangan yang ini,
kalaau kena aku gimana.” Aran terlihat cemas. Kembali menyimpanya
”Jangan yang ini
juga, sayang kan.” tanganya kembali memgambil sisir kayu. Jika itu sampai mengenai
tubuh aran, sudah jelas akaan menimbulkan bekas.
Airin kembali
mecari barang yang tidak berbayaha namun menyakitkan. Sorot matanya mengarah
pada boneka lumba lumba, yang berukuran sedang. Tangan mengarah tepat sararan
di wajah Aran.
Tanpa mendengarkan
ucapan aran, dan suara yang bernada emosi, power memegang ekor lumba lumba mencapai
95% dengan kecepatan penuh.
”kamu dendam yang
sama aku.” aran menahan pergelangan airin, dengan wajah gemas. Gadis itu
menutup matanya dengan rapat. Perasaanya mengatakan kalau aran akan membalas
perbuatanya.
”ini buat kamu.”
aran mengambil boneka di tangan airin. Mengetuk dahinya lembut.
’eh, bukanya mau
memukulku.’ airin berfikir sejenak. ”
ini apa.” airin mengambilnya dengan wajah penasaran.
Airin melihat isi
pelastik berwarna pink itu setelah mengambilnya.
”Ganti baju, abis
__ADS_1
itu makan bareng.” kata Aran segera menarik kembali plastik itu dari tangan.
Airin terdiam
dengan tatapan tak berdaya. Aran keluar dari kamar airin, untuk membiarkan
gadis itu mengganti baju dulu.
”gak lama yeah.”
suara aran terdengar setelah pintu tertutup.
”Gak iklas pasti.” gerutu dengan alis berkerut. Namun rona di
wajahnya tak bisa menyangkal kalau
dirinya merasa senang.
Airin keluar dari
kamar menggunakan baju tidur. celana sulutut dengan lengan bajju yang panjang. Airin keluar dengan malu,
bahkan wanginya membuat Aran bersin beberpa kali.
Hacuuuuu..
”sini duduk.” Hidung
Aran bahkan sudah merah. Dirinya memberikan tempat duduk di sampinya.
Suasana sore hari
yang sangat mendukung. Menikmati teh
hangat dan beberapa potong roti, menonton acara tv berdua.
Pasangan muda
yang bahagia, walaupun Airin tengah memakan coklat dan susu hangat dirinya
masih penasran dengan rasa roti kacang yang sedang di makan Aran.
menatapnya, dan menelan selivanya kasar.
Dering ponsel Aran
berbunyi kala dirinya baru saja beranjak ke dapur.
”Pak ada yang
nelfon nih.” Airin mengambil ponsel Aran, lagi lagi melihat layarnya dengan
rasa penasaran.
”Siapa.” Aran tengah
menambahkan gula ke dalam gelas teh nya. Airin malah mendengar Aran menyuruhnya
mengangkat.
”Ya hallo.” suara
di balik ponselnya membuat Airin menutup mulutnya, yang nyatanya dia bahkan tak
bicara. Langkahnya segera menuju pada Aran yang berada di dapur.
”Pak suara cewek,
pacar bapak mungkin.” Kata Airin berbisik. Aran tersenyum melihat ekspresi gadis
itu. Dirinya segera kembali ke depan tv dan memeriksa ponselnya. Langkah kaki Airin
mengikuti kecil di balakang Aran.
”Hallo Sean.” Sapa
Aran melirik Airin yang tengah memasang telinga.
__ADS_1
”Ini mamah.”
dengan nada yang di tekankan. Aran menyeringai pada Airin yang berusaha
mendengar pembicaraannya. ”Kamu pulang yah, weekend ini, istri kamu sekalian
bawa.” suara itu bernada perintah.
”Iyya, aku
usahain.” Dengan santai dan lembut.
”Mana menantu
mamah? Biarkan mama bicara dengannya.” suara itu terdengar menyapa hangat
Aran memberikan
ponselnya pada Airin. Gadis itu menatap dengan penuh tanda tanya. Menggelanng perlahan
dan melangkah mundur.
”Ambil.” Aran
mulai menatapnya dengan kode mata kala Airin kekeh menghindar.
”Mah, katanya Airin
gak mau.” ucapan yang terdengar itu membuat Airin segera menarik pergelangan Aran.
”Hallo tente,
gimana kabarnya.” Airin tidak menyadari kalau dirinya tengah menghimpit pada
tubuh Aran
”lho, kok tante
sayang. Manggilnya mamah donk.” nadanya terdengar lembut layaknya Aran versi wanita.
”Ah iya mamah.
Kab- kabarnya gimana.” Airin menatap Aran dengan tatapaan membulat. Sementara lelaki itu terlihat menahan tawa.
”Weekend kalian ke Bandung yeah.” Kalimat yang terdengar menghipnotis.
”Iyaah mah.” Airin
menjawab tanpa ragu.
”Mamah tunggu di
Bandung ya.” kalimat yang membuat seseorang merasa di hangat, bahkan Airin yang
baru pertama kali bertemu dengan Anna sewaktu akad.
”Iyya mah.” sahut
keduanya bersamaan. Sekalian kalimat penutuup.
Wajah Airin yang
tadinya kaku berubah pucat. Baru sadar
kalau dirinya memeluk Aran. Ya ampun bagaimana ini bisa terjadi.
”Eh, kayaknya aku
mau langsung tidur aja.” Airin merasa salah tingkah. Dirinya segera mengambil
ponsel dan beberapa cemilan kemudian masuk ke kamarnya dengan terburu buru.
Detakjantung Aran
tak beraturan, telinga nya merah.
”Ya ampun apa
__ADS_1
ini, apa yang sudah terjadi.” kata Aran mengacaak rambutnya.