Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 18


__ADS_3

Ehhhh. Arin sedikit berteriak hingga keduanya kaget.


”Kamu kenapa sih.” wajah Aran merah. Sedikit salah tingkah.


”Bapak ngapain masuk kamar Airin.” tanganya mencoba menutupi bagian dada.


”Em, aku enggak tahu kalau kamu mandi. Tadi aku manggil berapa kali tapi kamunya gak dengar, aku kira kamu kenapa kenapa.”wajah Aran terlihat panik.


”Aku mandi.” Perasan nya sedikit tidak enak. Rasanya seperti keterlaluan.


”Udah tahu, kan aku liat.” masih dengan memegang nampan makanaan di tangannya


”Bapak pasang kamera yeah di kamar Airin.” Airin mengerutkan alisnya, dengan curiga.


”Aku gak se freak


itu yah. Kamu cepetan ganti baju, abis itu makan.” Ucap Aran menatap mata Airin


kemudian melirik bagian dadanya.Mengulas senyuman di wajahnya.


”Ihh, dasar


brengsek, cabul, pedofil.” teriak Airin melemparkan beberapa barang.


Airin sibuk


mencari apa lagi yang akan di lemparkanya pada Aran. Tanpa di sadari Airin


mengambil vas bunga kaca.


”Jangan yang ini,


kalaau kena aku gimana.” Aran terlihat cemas. Kembali menyimpanya


”Jangan yang ini


juga, sayang kan.” tanganya kembali memgambil sisir kayu. Jika itu sampai mengenai


tubuh aran, sudah jelas akaan menimbulkan bekas.


Airin kembali


mecari barang yang tidak berbayaha namun menyakitkan. Sorot matanya mengarah


pada boneka lumba lumba, yang berukuran sedang. Tangan mengarah tepat sararan


di wajah Aran.


Tanpa mendengarkan


ucapan aran, dan suara yang bernada emosi, power memegang ekor lumba lumba mencapai


95% dengan kecepatan penuh.


”kamu dendam yang


sama aku.” aran menahan pergelangan airin, dengan wajah gemas. Gadis itu


menutup matanya dengan rapat. Perasaanya mengatakan kalau aran akan membalas


perbuatanya.


”ini buat kamu.”


aran mengambil boneka di tangan airin. Mengetuk dahinya lembut.


’eh, bukanya mau


memukulku.’  airin berfikir sejenak. ”


ini apa.” airin mengambilnya dengan wajah penasaran.


Airin melihat isi


pelastik berwarna pink itu setelah mengambilnya.


”Ganti baju, abis

__ADS_1


itu makan bareng.” kata Aran segera menarik kembali plastik itu dari tangan.


Airin terdiam


dengan tatapan tak berdaya. Aran keluar dari kamar airin, untuk membiarkan


gadis itu mengganti baju dulu.


”gak lama yeah.”


suara aran terdengar setelah pintu tertutup.


”Gak iklas pasti.”  gerutu dengan alis berkerut. Namun rona di


wajahnya tak  bisa menyangkal kalau


dirinya merasa senang.


Airin keluar dari


kamar menggunakan baju tidur. celana sulutut dengan lengan  bajju yang panjang. Airin keluar dengan malu,


bahkan wanginya membuat Aran bersin beberpa kali.


Hacuuuuu..


”sini duduk.” Hidung


Aran bahkan sudah merah. Dirinya memberikan tempat duduk di sampinya.


Suasana sore hari


yang sangat mendukung. Menikmati  teh


hangat dan beberapa potong roti, menonton acara tv berdua.


Pasangan muda


yang bahagia, walaupun Airin tengah memakan coklat dan susu hangat dirinya


masih penasran dengan rasa roti kacang yang sedang di makan Aran.


menatapnya, dan menelan selivanya kasar.


Dering ponsel Aran


berbunyi kala dirinya baru saja beranjak ke dapur.


”Pak ada yang


nelfon nih.” Airin mengambil ponsel Aran, lagi lagi melihat layarnya dengan


rasa penasaran.


”Siapa.” Aran tengah


menambahkan gula ke dalam gelas teh nya. Airin malah mendengar Aran menyuruhnya


mengangkat.


”Ya hallo.” suara


di balik ponselnya membuat Airin menutup mulutnya, yang nyatanya dia bahkan tak


bicara. Langkahnya segera menuju pada Aran yang berada di dapur.


”Pak suara cewek,


pacar bapak mungkin.” Kata Airin berbisik. Aran tersenyum melihat ekspresi gadis


itu. Dirinya segera kembali ke depan tv dan memeriksa ponselnya. Langkah kaki Airin


mengikuti kecil di balakang Aran.


”Hallo Sean.” Sapa


Aran melirik Airin yang tengah memasang telinga.

__ADS_1


”Ini mamah.”


dengan nada yang di tekankan. Aran menyeringai pada Airin yang berusaha


mendengar pembicaraannya. ”Kamu pulang yah, weekend ini, istri kamu sekalian


bawa.” suara itu bernada perintah.


”Iyya, aku


usahain.” Dengan santai dan lembut.


”Mana menantu


mamah? Biarkan mama bicara dengannya.” suara itu terdengar menyapa hangat


Aran memberikan


ponselnya pada Airin. Gadis itu menatap dengan penuh tanda tanya. Menggelanng perlahan


dan melangkah mundur.


”Ambil.” Aran


mulai menatapnya dengan kode mata kala Airin kekeh menghindar.


”Mah, katanya Airin


gak mau.” ucapan yang terdengar itu membuat Airin segera menarik pergelangan Aran.


”Hallo tente,


gimana kabarnya.” Airin tidak menyadari kalau dirinya tengah menghimpit pada


tubuh Aran


”lho, kok tante


sayang. Manggilnya mamah donk.” nadanya terdengar lembut layaknya Aran versi  wanita.


”Ah iya mamah.


Kab- kabarnya gimana.” Airin menatap Aran dengan tatapaan membulat.  Sementara lelaki itu terlihat menahan tawa.


”Weekend kalian ke Bandung yeah.” Kalimat yang terdengar menghipnotis.


”Iyaah mah.” Airin


menjawab tanpa ragu.


”Mamah tunggu di


Bandung ya.” kalimat yang membuat seseorang merasa di hangat, bahkan Airin yang


baru pertama kali bertemu dengan Anna sewaktu akad.


”Iyya mah.” sahut


keduanya bersamaan. Sekalian kalimat penutuup.


Wajah Airin yang


tadinya kaku berubah pucat.  Baru sadar


kalau dirinya memeluk Aran. Ya ampun bagaimana ini bisa terjadi.


”Eh, kayaknya aku


mau langsung tidur aja.” Airin merasa salah tingkah. Dirinya segera mengambil


ponsel dan beberapa cemilan kemudian masuk ke kamarnya dengan terburu buru.


Detakjantung Aran


tak beraturan, telinga nya merah.


”Ya ampun apa

__ADS_1


ini, apa yang sudah terjadi.” kata Aran mengacaak rambutnya.


__ADS_2