Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 41


__ADS_3

Setelah Aran masuk kekamar dari mengambil berkas di mobil, dirinya memilih untuk di simpan di


kamar Airin. Sebab Sean, dan Lusi, akan menginap jadi Aran, kemungkinan akan tidur


di kamar Airin tanpa maksud apa apa.


Aran terlihat sinuk memindahkan beberapa barang barangnya dari kamar sebelumnya ke kamar istrinya


Memanggil Airin dari luar pintu namun tak ada jawaban.


Tak lama Sean, dan Lusi kembali dari urusan mereka. Melihat jendela kamar yang terbuka, Lusi memberitahukan pada Aran.


Aran segera mengeceknya, memastikan kalau Airin baik baik saja. Namun ada kejanggalan di sana.


Saat memesuki rumah, wajah Aran terlihat berbeda, Lusi menanyakanya.


Aran berbohong dengan mengatakan kalau Airin pergi bersama kawan kawannya.


Dugaan Aran memang benar, akan tetapi Airin tak pamit padanya. Dan itu keterlaluan.


Ada rasa marah di sana. Namun Aran sangat pandai menyembunyikanya.


Setelah ketahuan, bagaimana Airin menghadapinya? Menjelaskanya? Memikirkanya saja membuatnya bingung harus mulai dari mana?


”Pak." Suara kecil memanggil disana, seluruh tubuhnya bergetar.


Aran berjalan, keluar dari kamar. Niat hati ingin mengabaikan istrinya.


Aran kembali


mengingat hubungan Lusi dan Adinda. Hal itu memunculkan frustasi.


Aran kembali masuk ke dalam kamar.


”Aku anggap ini tak pernah terjadi. Jangan di ulangi yah." Kalimat, dan nada suara Aran semua terdengar sangat lembut.


Airin merasa sangat bersalah.

__ADS_1


Berjalan mendekat pada Aran. Menggoyangkan tanganya perlahan.


Benar kalau Aran sudah terlelap. Hah secepat itu.


Karena merasa yakin, sampai suaranya menggema ketika pergelanganya di pegang Aran.


”Kamu minum.” Aran setengah berbaring. Airin langsung membekap mulutnya.


Airin hanya bisa tersenyum kecut. Lagi lagi ketahuan melakukan hal bodoh.


Aran menarik Airin sampai ke kamar  mandi. Bergegas menampung air hangat di betup. Setelah itu meninggalkanya.


Tahu sebesar apa kesalahanya saat ini, tahu bagaimana kecewa Aran sekarang. Airin kembali


teringat dengan ayahnya. Bagaimana kalau Aran, memberi tahukan Bakrie tentang


ini. Apa yang akan terjadi.


Bercerai kah? Atau ayahnya akan sangat marah dan tak mau bertemu denganya lagi. Di dalam air


pasti namun semua sudah terlanjut terjadi.


Setelah beberapa saat, Aran mengetuk pintu kamar mandi.


”Kau bisa demam, kalau sampai semalaman. Pakai bajumu, aku tunggu di meja makan.” suara Aran


terdengar dengan nada yang sama.


”Wah, bagaiman mungkin dia bisa sesabar ini menghadapiku.” Airin tak berfikir kalau Aran


adalah manusia. Gadis itu segera menganti pakainanya lalu menuju meja makan.


Aran telah menunggu di sana dengan semangkok sup wortel.


”Segarkan dirimu.” Aran mendorong mangkok supnya ke hadapan Airin. Gadis itu berjalan


menuju kursi. Ada perasaan curiga di sana.

__ADS_1


”Ini tidak ada racunnya kan.” guman dengan rasa was was.


Tak lama Aran menyeduh sup nya dan memasukanya ke dalam mulut tanpa ragu. Kemudian tatapanya


seolah menyuruh Airin untuk segera duduk dan habiskan sup nya.


”Apa dia bisa baca pikiranku.” Apa apaan Airin ini, menuduh suaminya sendiri.


Dengan cepat, menghabiskan supnya. Padahal asap nya masih mengempul.


Aran bahkan kaget melihatnya. Segera menarik mangkok supnya.


”Ini masih panas.” meletakan mangkok di meja dan berjalan menuju dapur.


Aran kembali dengan handuk yang di tempelkan di bagian bibir Airin yang telah setengah basah.


”Besok pagi aku akan menyuruh Sean, dan lusi, untuk pergi.” Aran bicara tanpa mengalihkan


pandanganya pada Airin.


”Kenapa pak.” Airin bertanya dengan memutar otak.   Dirinya terfikir kalau Aran mungkin tak enak padanya karena merasa terganggu dengan kehadiran mereka.


Airin tertawa dengan wajah cemas. “Apa bapak berfikir aku begini karena kedatangan


mereka.” Airin bicara dengan suara kaget yang keras.


Aran bahkan ikut khawatir karena suara Airin.


”Aku sama sekali gak risih.” Airin mengecilkan suaranya. ”Beneran pak.” dengan memperlihatkan


dua jari.


Aran terdiam.


”Bapak pikirin apa sih.” Airin dengan sorot mata tajam setelahnya menunduk dengan rasa bersalah.


’Apa aku harus bilang, betapa senangnya aku karena bakal tidur dengan satu ranjang. Wah apa yang bakal terjadi yah.” Airin dengan pikiran nakalnya.

__ADS_1


__ADS_2