
Pagi yang cerah itu, seharusnya terasa dingin namun perasaan gadis yang terkulai lama di ranjang tak bisa merasa tenang karena perasan yang sedang terancam. Ini sungguh sangat menyiksanya. Aran yang dulu dengan mata teduh dan suara hangat itu tak lagi terlihat. Kemana sosok yang nyaman itu.
Matanya tertutup namun tidak dengan perasaan yang terasa sedang mengancamnya. Suara langkah kaki terdengar menjauh. "Ia lebih baik dia pergi saja." Bibir mungi itu kembali mengumpat. Semakin lama tak lagi terdengar. Airin baru bisa membuka kedua mata nya perlahan. Akhirnya dia benar benar menghilang.
Matanya yang perlahan terbuka lebar mencoba bangun, posisinya setengah duduk. Daun pintu kembali bergerak klik, lambat mengambil tindakan. Lelaki kasar itu mendapatinya sudah dengan keadaan tak sama sejak meninggalkanya.
Senyuman hangat dari seorang wanita tang sudah tak lagi muda. Dia adalah Anna, ibu dari Aran. "Bagaimana perasaan mu." Sudut bibirnya bergerak naik. Matanya menatap dengan penuh kasih. Yah itu jjuga sempat di miliki Aran. namun sekarang tak lagi.
Membalas senyuman dengan bibir yang memucat. Masih merasa takut kerana perasaan yang terus merasa di hantui Aran memalui tatapan berapi api. "Aku sudah merasa lebih baik." Katanya dengan suara yang lembut dan rendah. Terus tersenyum sampai manik mata itu menangkap sosok Aran yang memang benar sedang menatapnya dengan kosong.
Tubuh gadis mungil itu kembali bergetar ketakuta. Tak merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya. Membuang kembali tatapanya jatuh ke tanah. Rasanya sakit karena itu memang menyakitkan. Kenapa berubah sejauh ini?
__ADS_1
"Apa kata dokter dengan kondisinya." Ahmadi bertanya serius penuh perhatian. Aran menatapnya, menanggapi kalimat yang menjadi ayah nya itu. Wajah tenang itu, menapilkan sedikit raut mengerut sebelum kembali ke wajah tanangnya. " Sore sudah bisa kembali." Memberi tahu. Itu sebuah kalimat yang jelas bukan. Gadis itu merasa kaget, matanya melotot pada sosok yang baru saja bicara.
Menggeleng dalam hening, bagaimana mungkin dia kembali sementara tubuhnya masih terasa lemah, dan ruam merah itu masih belum sepenuhnya pudar. Namun bibir nya terkunci engan untuk menolak kalimat itu. Suara kursi terdengar, Anna menariknya beberapa jauh, duduk di sana dekat dengan tempat Airin berbaring.
"Jadi apa kamu langsung menempati rumah kalian." Tanya Anna memastikan. Sekali lagi kalimat itu seperti ledakan kecil bahwa kenyataanya itu seperti racun baginya. Sangat tiba tiba. Aran mengangguk sebentar. Dan itu dianggap jawaban.
Anna kembali menatap Airin yang masih terdiam kaku. "Aran sudah membawa semua keperluan kamu di rumah baru." Jelasnya singkat. Airin hanya semakin merasa keget. Itu sangat tidak menyenangkan. Bagimana bisa dirinya hanya tinggal berdua dengan Aran yang sikpanya sudah sangat berubah. Wajahnya terlihat pucat dan sedikit panik.
Perdebatan keduanya tadi malam berbuah pahit. Berfikir kalau dirinya akan diceraikan dengan sepihak, alih alih itu terjadi tetapi lelaki itu malah membawa nya kembali bersama dengan satu atap. Terlalu beresiko jika itu dengan sikapnya saat ini.
"Ini akan bagus untuk kalian berdua." Ann seperti dapat meihat kekhawatiran gadis itu. Dengan cepat menepisnya, mengelus llembut pundaknya. Memberikan senyuman kenyamanan seolah itu bukanlah hal buruk yang membuat dunia nya berakhir.
__ADS_1
"Akhir pekan depan kami akan mengunjungi kalian." Anna terlihat akann segera pergi. Mengangguk namun matanya bisa mengisaratkan rasa takut.
Aran membantu ibunya, dengan menemani sampai keluar dari pintu. Merek pun pamit pergi. Aran berjalan masuk lagi, namun posisi gadis itu sudah tebaring dengan membungkus tubuhnya. Langkahnya terdengar mendekat, mata itu terpejam dengan rapat di paksakan. Suara nafasnya semakin jelas, aroma tubuhnya menyapa kehidung tanpa permisi. " Bangun." Kalimat itu seperti sebuah perintah. Gadis itu bergerak kaku. "Buka." Lanjutnya dengan nada dingin.
Wajah gadisnya seketika panik tanpa arti. Enggan menuruti kalimat Aran. Tetap membungkus tubuhnya dengan selimut. Tangan kekarnya menarik paksa kain yang membungkus tubuhnya, Cairan bening menetes dari matanya. Dia menangis lagi.
Wajah itu dingin tak bergeming, seolah air mata itu bukan lah masalahnya. Aran menurunkan baju yang mengait lebar di bahunya. Tanganya mulai mengoles dengan lembut di kulit yang ruamnya hampir menghillang. 'Aku bisa melakukanya sendir." Airin mencoba berballik dengan angkuh. Aran menekan bahu itu dengan kuat.
Gerakanya kemballi mematung, itu terasa menyakitkan, namun sosok itu seakan tak peduli, ini hanyallah luka kecil yang tak masuk dallam hitungan cacat. Tangan itu meraba lebih jauh ke bawah, itu menggelikan namun membuat Airin merasa panas.
Tangannya mengepal kaku, hingga terlihat merah di ujung sana. '" Di sini hanya ada kita berdua, aku bahkan sudah melihat tubuh telanjangmu." Kalimat itu terdengar kotor, sangat menjijinka mendengarnya.Tak menyangka itu akan menjadi kalimatnya. "Itu menyakitkan sungguh." Suara yang bergetar itu seolah memprotes ucapan Aran barusan. Berharap dapat permintaan maaf.
__ADS_1
Kejadianya tidak begitu.