
Alaram di ponsel nya berdering. Menggeliat sebentar. Menatapnya dengan malas.
"Bapak kemana." Berguman sedikit meregangkan otot ototnya.
Berjalan keluar kamar, suasanya masih sedikit gelap. Airin melangkah keluar, Pintu utama yang terbuka, barangkali pak Aran ada di sana.
Melihat sekeliling, menatap jauh sepanjang mata memandang. Airin sama sekali tak menemukan di mana Aran.
Mengambil sedikit gerakan olahraga. Sekitar 15 menit, cahaya yang mulai terang membuat Airin harus segera mandi. Tak selang lama, Ara terlihat berlari bersama dengan seorang wanita.
"Oh, bapak olahraga." Gumam Airin. Namun fokusnya teralihkan ternyata Aran tak seorang diri.
Dari kejauhan suara mereka tak terdengar jelas, Airin mellihat senyuman Aran berbeda pada wanita itu.
'Siapa perempuan itu.' Bertanya dalam hati.
Aran berjalan memasuki rumah, membuka kamar. Tak melihat Airin di tempat tidur.
"Mandiri sekali, dia sudah bangun sepagi ini." Aran lanjut berjalan menuju dapur untuk minum. Setelah itu bersiap mengantarakan Airin menuju sekolah.
Aran sendiri akan mengajar di Universitas yang ada di kotanya. Kemungkinanya begitu. Sampai Airin tamat sekolah.
Airin telah bersiap dengan seragam sekolahnya yang lengkap.
"Udah siap.' Sapa Aran berada di ruang tengah depan kamar mereka.
Airin hanya melirik, dan terus berjalan keluar.
__ADS_1
Wajahnya cukup terllihat kesal.
"Rin nanti pas balik, mau makan di luar." Aran memastikan.
"Aku nanti makan di kantin aja." Dengan menatap wiper.
Aran merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi, dan ini cukup gawat.
"Bapak habis olahraga yah." nadanya terdengar kesal.
'Rupanya ini.' Aran tahu penyebab istrinya marah, dia melihat ILY.
"Iya." Sudut bibirnya tersenyum. Rupanya Airin sedang cemburu, begitu pikir Aran.
Wajah Airin semakin terllihat kesal. Aran terus membicarakannya, padahal itu tak penting.
"Dia temanku aku dari SD, anaknya baik. Waktu kecil dia itu kayak laki laki banget." Bayangan wajah Airin dapat terlihat jelas oleh Aran.
Aran bukanya tak mengerti sesuatu, atau rasa cemburu, akan tetapi Aran hanya ingin melihat sejauh mana dia bisa tahan dengan rasa cemburu itu.
"Nanti aku kenalin." Nada Aran terdengar serius.
"Gak perlu." Jawab Airin dengan pelan.
"Aku kenalin aja." Sedikit memaksa.
"Bapak kenapa maksa sih." Suaranya sedikit meninggi.
__ADS_1
"Anaknya anaknya lucu lho." Perkataan Aran membuat Airin merasa malu.
Apa yang sudah terjadi, bagaimana mungkin Airin cemburu pada perempuan yang sudah memiliki anak. Sekarang Airin tahu, kalau Aran hanya ingin membuatnya kelihatan cemburu.
"Tetap gak mau." Suaranya sedikit tertahan. ' Seharusnya aku tetap saja cemburu, biar bagaimana pun dia adalah perempuan.' Gumam dengan rasa gelisa.
Sekolah Airin hampir sampai, Aran sepertinya salah prediksi.
Berhenti di bahu jalan tak jauh dari sekolah Airin.
"Rin, ILY tuh udah nikah anaknya aja ada 4, suaminya garang. Aku gak mungkin suka sama dia. Mungkin dia memang cantik, tapi kamu jauh lebih baik." Aran bicara dengan menatap wajah Airin yang di paksa mellihatnya.
"Bapak apaan sih, aku gak cemburu." Airin salah tingkah.
Aran mengangguk, dengan sudut bibir terangkat.
"Aku gak cemburu pak." Kata nya lagi memastikan dengan wajah merona.
Aran mengemudi pelan, mendekati gerbang sekolah Airin.
Airin hendak keluar, Aran menahan pergelanganya.
"Aku beneraan gak ada perasaan apa apa sama ILY, dia beneran hanya teman doank, gak lebih." Aran mendekat, lalu mengecup pelan kening Airin.
Airin dengan wajah yang terus merona mulai,sedikit tersenyum malu.
"Bapak entar ada yang lihat." Arin dengan sorot mata yang liar. Segera keuar dari mobil.
__ADS_1
Aran terus tersenyum membayangkan wajah Airin yang bersemu merah.
"Apa sih yang aku harapkan." Gumamnya mengedarai mobil menjauh dari sekolah Airin.