
Perjalanan Sean terus meledek Aran dengan kata kata.
"Gak jadi ciah." Seaan sedikit mengejek.
"Apaan sih." Aran kesal dengan telinga yang merah.
"Sabar, entar kalau di rumah sendiri baru deh." Pembicaraan Sean mulai ke arah sana.
"Masih terlalu kecil, takut kalau aku paksa entar dia menyesal." Aran mulai membuka bicara dengan sosok laki laki.
"Soal sekolah lamanya gimana." Sean ikut khawatir.
"Aku ada pembicaraan pas malanya, setellah hari kejadia, katanya dia pengen pindah sekolah. Dan Bakrie juga setuju, meskipun dia marah besar, dan akan menarik beberapa fasillitas yang pernah di berikan pada sekolah." Aran menjelaskan cukup detail.
"Aku udah bujuk dia, tetap aja milih pindah." mengingat kejadian nya.
"Trus kamu udah jelasin sumber masalahnya." Sean masih merasa penasaran.
"Enggak. Kalau itu kayaknya dia emang sudah felling." Merespon cukup teliti dan dewasa untuk Airin mengambill tindakan nekat. Begitu pikir Aran tentang sikap istrinya.
"Soal Adinda gimana." Mengingat kejadian lalu.
"Aku belum menceritakan apapun padanya, dia juga kayaknya udah lupa." Aran cukup lega dengan ini.
"Lupa? Yakin kamu. Dia wanita lho." Sean ragu dengan prasangka Aran.
"Entar entar lah aku jelasin, kalau dia udah cinta sama aku aja, soall sekarang gak pengen gangu sekolahnya dulu." Aran memberi kesempatan untuk Airin memikirkan perasaan nya.
"Ini masih cukup jauh atau kamu sengaja buat aku keluar dari kota bandung." Aran seakan kesal karena rumah yang di sediakan Sean memakan waktu lama.
"Aku pillih sesuai dengan kemauan mu, kalau bukan karena Reno udah aku masukin di sekolah school re'es." Sean sedikit kesall. " Dasar tidak sabaran." Menggerutu kesal.
Aran yang mendengar itu sengaja menginjak rem mendadak agar Sean mengalami cedera ringan.
"Hey perhatikan jalan mu, aku manusia sialan." Sean mengumpat dengan geram.
Aran hanya menyeringai.
__ADS_1
"Akan aku laporkan pada Airin, kalau suaminya buta maps." Sean terus mendumal.
Keduanya memeriksa Rumah yang akan di tempati setelah Airin resmi masuk sekolah.
Tak bisa berlama lama, Aran hanya melihat dan mengamati.
"Cukup jauh dari para tetangga, jarak rumah tak berdekatan, dan halaman cukup luas. Ini pas sekalli." Aran merasa cocok dengan rumah ini. Setidaknya kalau Airin berteriak keras tak hal itu tak mengganggu tetangga.
Sean melihat adiknya senyum dengan ekpresi lain. Entah apa yang melintas di pikiran Aran.
Hal itu cukup menimbulkan rasa takut.
"Kalau sudah selesai periksa, buruan balik, dikit lagi mau gelap." Sean berteriak dari mobil.
Airin terbangun ketika langit sudah gelap.
Menggeliat beberapa saat. Tanganya meraba liar, mencari ponsel.
Cahaya yang menyilaukan matanya, mengerjap beberapa kali, kemudian menatap lekat di layar ponsel.
Rasa lapar membuatnya sedikit kesal.
"Baru sehari loh aku di sini." Wajahnya sedikit panik.
Kamar itu cukup gelap tanpa lampu tidur.
Pintu terbuka, spontan gerakan nya menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Airin." Panggil Aran mendekat. "Kamu belum makan malam." Duduk di ujung ranjang.
"Bapak kenapa gak bangunin aku sorean." Wajahnya masih tertutup selimut.
Aran sedikit berfikir sebelum menjawab. " Mamah bilang jangan di bangunin, apalagi kamu masih ada tamu bulanan." Aran tersenyum, tanganya menarik selimut yang menutupi wajah Airin.
"Jangan di tarik." Suara terdengar kesal.
"Masih mau tiduran." Tanya dengan serius.
__ADS_1
"Aku malu." Airin sedikit membuka bagian mata.
"Kamu masih cantik ko." Aran menghidupakn lampu utama di kamar itu.
"Ihh, bapak. Bukan itu." Selumutnya kembali di tarik hingga menutup wajah.
"Yah terus apa Airin." Dengan suara gemas.
"Aku gak enak sama mamah." Suaranya terdengar panik.
"Mamah." Mengulangi ucapan Airin. "Mamah tadi sore keluar sama papah. Berdua." Ucapn itu membuat Airin segera bangun dan buru buru ke kamar mandi.
Aran sedikit kaget, kemudian merapikan tempat tidur.
Di kamar mandi Airin hanya melihat satu baju mandi putih.
Memakainya tanpa banyak berfikir. Membersikan badanya tanpa mandi. Setelah itu keluar dari kamar mandi.
"Aku belum menyusun baju di lemari yah." Airin membuka koper bajunya. Memilih baju tidur yang cukup tebal dan panjang. Memakainya segera.
"Nanti bajunya gak usah di masukin ke lemari." Kata Aran membuat gadis itu berteriak kaget.
Suaranya membuat seisi rumah mendengar jelas. Aran menutup mulut Airin dengan cepat.
Airin masih berusaha berontak, tatapanya tajam dan wajahnya merah kesal.
"Bapak kenapa masih di kamar sih." Kata Airin dengan kesal, setelah Aran melepaskan tangannya.
"Suara kamu tuh, bisa buat kak Sean sallah paham tahu gak." Dengan suara berbisik.
"Ihhhh aku malu." Airin menutup mata Aran dengan telapak tanganya.
Aran menyingkirkanya, menarik pergelangan tangan Airin.
Aran dengan wajah yang sedikit mengeras. "Aku gak sadar kamu belum terbiasa." Melepaskan tangan nya, berjalan keluar dengan perasaan bersalah.
Jangan lupa like besti, comen dan favoritkan yah.
__ADS_1