
Semalaman Aran memikirkan perkataan Sean.
Apakah dirinya terlalu menahan diri dalam hubungan dengan Airin? Namun bagaimanaa dengan kebahagianya nya, gadis itu memiliki kekasih di hatinya.
Apakah dia akan merampas hak kebahagian Airin jika memaksakan kehendakannya.
Aran masih diam dan terus berdebat dengan dirinya sendiri.
Saat subuh Aran masuk ke dalam kamar. Mengecek suhu tubuh Airin.
Bersyukur kala itu suhunya normal.
Airin merasakan pergerakan dalam tidurnya, namun kesadaranya mengaraha pada Aran.
Mengingat rasa kesalnya saat tidur tak mau menyapa lebih dulu.
Paginya Airin bangun melihat tak ada Aran di kamar.
Berjalan keluar dari kamar. Di sana terlihat mereka berkumpul di ruangan depan tv.
"Airin udah bangun." Sapa Lusi.
"Airin, kamu mau ikut ke sekolah gak, aku harus mengantarkan beberapa berkas." Aran menunggu jawaban.
"Iya mau." Airin kembali masuk ke dalam kamar dan bersiap.
Hampir 20 menit menunggu gadis itu, setelah keluar dengan seragam lengkap.
Keduanya berjalan menuju mobil. Airin membaca notifikas dari Ema.
"Apaan ini." Airin bingung melihat isi pesan Ema.
"Kenapa." Aran bertanya kela mereka telah melaju.
"Teman aku ngirim pesan tapi gak semacam pdf." Airin masih mencoba membukanya.
Beberapa kali mencoba membukanya namun sampai mereka di sekolah tak jjuga kunjung terbuka.
__ADS_1
"Kalau ada apa apa kamu kirim pesan yah." Aran berpesan. Airin mengangguk.
Keduanya berpisah.
Airin berjalan menuju kelasnya. Terlihat dari jarak yang hampir dekat banyak yang mengerumun.
Penasaran dirinya mendekat melihat pada kaca.
Di sana Ada Anara, Reynald, dan Reno.
"Reno." Airin mencoba masuk.
"Jangan ke sana." Wilson mencegat pergelangan Airin. Membawanya segera menjauh.
"Hei ini mau kemana." Airin mencoba berontak namun Wilson terlihat marah.
Kedua remaja itu masuk ke dalam Uks.
"I am not sick." Airin merasa heran.
"Kenapa kamu ke sekolah." Wilson mengecek ponselnya.
Wilson memperlihatkan lampiran kasus, yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.
Krena nama dari siswa yang penah kasus itu di sematkan namun sangat di duga kalau itu adalah dirinya.
Setelah membacanya Airin mematung. Yang tadinya ingin segera bertemu dengan Reno langkahnya terhenti.
"Ini kesempatan terakhir kamu, dengan seragam. Jangan gegabah. Reno gak sepolos yang kamu kira." Wilson terus memperingati.
"Aku rasa kamu salah." Airin dengan sorot mata yang tajam. "Aku masih gak lupa kalau kita tetap saingan, I will get you car." Airin sedikit cemas namun tenang.
"Reno itu baik, Thats my frieend. I with Anara and Reynald." Menyeringai kesal.
"Jangan ajari aku menatap sahabatku." Airin berjalan keluar dari Uks.
Menuju kelas di sana tak lagi terlihat ramai.
__ADS_1
Sekolah tengah melaksanakan Olympiade keseluruhan.
Besok adalah tugas mereka tampil.
Karena Wilson, Airin kehilangan jejak Reno.
Airin mencoba menghubungi Anara.
Sayangnya panggilanya di matikan.
Hal itu membuatnya kesal.
Airin berjalan menuju ruangan Aran, setelah mengirimkan pesan.
Airin masuk dengan alasan membawa buku setelah bertemu dengan bu shena.
"Airin besok jadwal kalian tampil yah." Sapa Shena tiba tiba saat baru keluar dari ruangan Aran.
"Iya buk." Balas tersenyum.
"Kamu mau masuk ke ruangan Aran." Dengan kepo nya Shena.
"Iya buk, mau mengembalikan buku." Airin tersenyum paksa. "Pak Aran nya gak sibuk kan." Cepat cepat ingin masuk.
"Gak tahu yah, soalnya dia lagi nelfon tadi, kalau gak enak bisa titipin aja." Tawar Shena.
Airin sedikit kesal, namun tak enak jika harus menolak kebaikan bu Shena. Untung saja saat itu Aran akan keluar.
"Airin." Aran saat keluar Shena, masih memegang gagang pintu. "Kenapa gak masuk." Aran dengan bingung menatap keduanya.
"Tadi Airin tanya, kalau bapak sibuk bukunya mau di titipin lewat aku aja." Shena menjelaskan.
"Makasih yah bu Sehan." Kalimat Aran membuat Shena tersenyum manis, sementara Airin memsang wajah jutek.
"Iya gak apa apa pak Aran santai aja kayak sama siapa aja." Shena masih bersuara imut.
"Airin ada yang masu saya tnjjukan sama kamu, bisa masuk sebentar." Airin menganggu.
__ADS_1
"Permisi buk." Kata Airin melewati Shena dan langsung menutup pintu.
"Bapak grogi yah sampai salah sebut nama." Airin duduk di sofa dengan menatap layar ponselnya.