
"Aku kecewa, aku merasa marah pada nya, aku sedih dengan apa yang baru saja aku lihat." Airin yang pikiranya terlalu mengarah pada rasa cemburu.
"Siapa wanita itu? Kenapa dia banyak memberikan tanda cinta." Pertanyaan yang terus berganti.
Kaki mungil itu melangkah tanpa arah tujuan.
"Bagimana mereka bisa berkenalan? Bagimana awalnya? Apa itu alasanya selalu bersikap ambigu padaku? Aku istrinya, tetapi aku tidak mengenali siapa dirinya yang menjadi suamiku." Air mata yang menjadi satu dengan hujan adalah bentuk rasa kehilangan tanpa pernah memiliki.
"Apa selama ini aku adalah tembok diantara mereka? Rasanya sakit ya tuhan." Layaknya anak kecil yang tersesat Airin mengelurakan suara tangisnya namun kala kuat dari hujan yang menyentuh jalanan.
Tubuhnya basah, matanya merah dan lembab. Gadis itu menangis bahkan alam menemaninya.
"Papah." Panggilnya dalam ringisan.
Pasrah kemana langkanya berjalan.
Semua memori bersama Aran terlintas kembali, senyuman, tawa, suara, perkataan bahkan teguran kecil itu tersimpan rapi di bagian inti.
"Aku teramat menyukainya? Tak pernah peduli dengan pandanganya padaku." Arin masih berdebat dengan perasaanya.
__ADS_1
"Apa aku terlalu memaksakan diri." Dinginya hawa yang menjadi dinding, membuat kulitnya terlihat pucat.
Airin telah berjalan jauh, guyuran air hujan membuatnya terlihat memucat. Terlalu lama bahkan sangat jelas dengan tubuh mungil yang membawa cello itu nampak gemetar beberapa saat sebelum terbaring di jalanan.
Malam menjelang, Sean sudah melapor pada polisi tentang kehilangan, namun prosesnya harus menunggu 24 jam, hal itu membuat nya terpaksa menghubungi paman yang punya koneksi.
Setelah menunggu sekitar 30 menit, dari perintah yang orang bagian dalam dari pihat pelapor, baru mendapat tindakan.
Mulai dari memeriksa cctv bagian cave dan beberapa yang toko yang menggunakan nya, barulah mendapatkan titik terang.
Melihat Airin yang berjalan di bawah guyura hujan, membuat hati Aran sakit dan merasa bersalah.
Mereka berssama pihak kepolisian segera menuju lokasi. Di sana mereka bertanya pada beberapa orang yang melihat kejadianya.
Mendengar itu, mereka kembali bergerak cepat. di sana Aran mulai bertanya pada pihak rumah sakit dengan menjelaskan ciri ciri Airin dan waktu datangnya.
Suster jaga pun mengantar mereka ke ruangan yang di duga Airin.
Setelah melihatnya dari pintu kaca Aran segera masuk ke kamar pasien, dan Sean mengurus pihak kepolisian.
__ADS_1
Aran memegang erat tangan Airin. Ada air mata di sana.
"Maaf Airin." Suara nya yang lembut seperti biasa namun terdengar sedih.
"Kami urus administrasinya dulu yah." Lusi menepuk pundak Aran sebelum meninggalkanya bersama Sean.
"Airin maaf." Aran dengan terus mengecup punggung tangan istrinya.
Untuk pertama kalinya Aran mengecup pelan bibir Airin dengan lelehan Air mata penyesalan.
Terus mengelus dan beberapa kali mengecup tangan Airin yang masih terlelap.
Apakah Arn berani untuk menjelaskan ketika Airin sadar.?
Air matanya terus mengalir, bahkan hidung nya beberap kali tersumbat. Ringisnya tak terdengar, namun penyesalanya sangat terasa.
Aran menatap wajjah pucat Airin, bahkan sampai tak berkedip.
"Apa yang sudah aku lakukan." Kata Aran dengan mata yang sayu.
__ADS_1
"Tolong bertahan Airin." dadanya terasa sesak. "Jangan tinggalkan aku juga, ya tuhan tolong untuk kali ini biarkan aku bersamanya." Energi Aran terkkuras habis, tertidur karena hujan hingga melupakan kondisi Airin. Betapa jahatnya dia sebagai suami.
Jangan lupa like, dan comentaranya, votenya juga.