Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 20


__ADS_3

Hari buruk yang


melelahkan kalau wilson berulah. Dirinya bahkan terus menerus menahan airin di


kelas. Ini hal yang biasa dia lakukan. Wilson bahkan tak segan mengancam orang


untuk kesenanganya. Mereka sering menyebut si wilson tantrum.


Airin bahkan tak


makan siang karena si tantrum hanya memperbolehkan makan walau jam istirahat.


Airin bertanya


berkali kali kala wilson mulai bertindak.


Suasana sekolah


menjadi menyeramkan seperti tadi.


”Mau kamu apa


sih.” Airin merasa muak. Wilson  mendekatkan wajah mereka hampir tak berjarak.


”Mau aku,


pulang.” Wilson seketika pergi meninggalkan Airin yang penuh kebingungan.


Mengingat kejadian


tadi itu membuat Airin terlihat tak semangat.


“Kamu kenapa.”


Aran melirik dengan penasaran.


”Lapar.”


mengetakan dengan nada lemah.


”Mau masak atau


makan di luar.” Aran memberi ide.


”Aku gak pandai


masak.”Airin berkara dengan ragu raggu.


”Tapi bisakan.”Aran


melihat dengan tersenyum.


Perjalan mereka


terasa sedikit lebih lama karena singah di mart untuk membeli beberapa bahan


yang ingin di masak.


”Gak ada yang


ketinggalan.” Aran memastikan ketika meraka mendekati rumah. Airin berbalik


melihat plastik belanjaan dan menghitungnya.


”Kayaknya enggah


deh.”Airin yakin.


”Emm.” Aran


mengatakan kala mobiil mereka memasuki pekarangan rumah.


”Yeahh, lest  cooking.” Airin bersedadung senang.


Dirinya mencoba membantu Aran yang membawa plastic. Namun Aran


membawanya tanpa menawarkan pada Airin. Disana wajah Airin membatu kesal. ’padahal  aaku bisa membantunya.’ Dengan wajah pasrah

__ADS_1


”Bajunya ganti aja dulu.” Aran menyuruh dengan nada lembut.


Airin hanya


memperlihatkan wajah yang kurang semangat.


”Mau mandi


sekalian.” suara Aran kembali terdengar hingga Airin segera mmasuk ke dalam


kamar dengan langkah tertatih.


Aran lebih dulu


bersiap untuk memasak, dirinya dengan cekatan berada di dapur. Menyiapkan beberapa


bahan yang akan mereka buat.


Airin keluar


dengan baju daster selutut. Rambutnya di sanggul ke atas. Langkahnya berjalan


mendekati Aran.


”Udah siap.” Aran


menatap Airin tanpa berkedip beberap saat.


”Aku ngapain.”


kata Airin sedikit antusias.


”ke sini.” Airin


berjalan mendekati Aran. Seketika lelaki itu mengangkat tubuh Airin ke  atas meja dapur. Airin sedikit berteriak


karena kaget. Aran berjalan membuka p3k yang mengantung di dekat dinding dapur.


Aran duduk di


kursi, lalu meletakan kaki Airin di pahanya sebagai pijakan. Membersihkan lutut


”Tahan bentar


yeah ini agak perih.” tangan Aran perlahan membuka plaster.


’Awwh’ Airin


dengan suara perih di buat buat. Aran tersenyum tanpa di lihat Airin. Aran


segera dengan cepat menganganti plaster.


”Udah.” Aran


melihat wajah Airin yang menutup mata.


”Secepat itu.”  Airin


tak percaya. Sialan jenis apa ini!


Kenapa bersama wilson tadi terasa sangat lama bahkan kakinya hampir keram.


Airin tersenyum hendak akan turun.


Aran membantun Airin,


dirinya Kembali mamakaikan apron. ”Biar bajunya gak kotor.” kata Aran


mengingkatkan tali, di mana possisi mereka hampir atak ada jarak.


Aroma tubuh Aran


menyapa hidung Airin.


”Kamu takut kena


minyak gak.” Aran dengan cekatan mengolah bahan.

__ADS_1


”Enggak.” Airin


menjawb yakin. Tanganya mengambil spatula tanpa ragu.  Aran mengacak rambut Airin sampai sedikit


berantakan.


”Aku taro


udangnya yeah.” Aran langsung memasukaan udang yang telah ddi bumbui tepung.


Minyak menyimprat seketika membuat Airin berteriak.


”Pak kayakanya


ini bukan minyak deh. Awww.” teriakan Airin menggelegar. Tubuh nya menjauh dari


penggorengan.


Aran hanya


tertawa melihat tingkah Airin. Mana sikap sok tahunya tadi.


”Kamu bagian cuci


selada aja.” Aran mengambil spatula dan segera menambahkan jumblah udang ke


wajan.


Airin mencucinya


segera. Dia membereskan beberapa peralatan yang telah Aran gunakan. Airin


mencoba meringankan pekerjaan Aran. Dirinya bergerak dengan cekatan, membuat


tubuhnya sedikit berkeringat. Sampai wastefel terisi penuh.


” Kok bisa sih.”


tangan Aran menghilakan terigu yang menepel di dagu Airin. ”Blepotan gini.”


Airinn tersipu


malu. Dirinya segera berbalik dan kembali mengoleskan terigu ke wajahnya dengan


banyak.  Aran yang tengah mengangkat


udang tertawa melihat  tingkah Sirin.


Dirinya meletakan kembali piring di meja, kemudian mendeket pada Airin.


”Kok jaddi gini.”


Aran membersihkanya menggunakan handuk. Mereka kemudian tertawa, sebelum


menikmati hasil masakan nya dengan sedikit bumbu kemesraan.


Layaknya pasangan


bahagia lainya, mereka terlihat bahagia satu sama lain.


”Oh iy,a jadi


gimana dengan tawaran mamah.” Aran mulai membuka percakapan.


”Weekend nya 4


hari, sama tenggal merah.” Airin terlihat berfikir. ”Pas masuknya kami harus


mengempulkan tugas.” Airin sedikit ragu.


”Aku belum


selesai dengan tugas kelompok dari bapak.” Airin berfikir.


Aran menatap Airin


yang berceloteh tentang hari dan bagian kerja kelompoknya. Gadis itu meminta

__ADS_1


pendapat Aran namun dirinya kembali ragu.


__ADS_2