
Hari buruk yang
melelahkan kalau wilson berulah. Dirinya bahkan terus menerus menahan airin di
kelas. Ini hal yang biasa dia lakukan. Wilson bahkan tak segan mengancam orang
untuk kesenanganya. Mereka sering menyebut si wilson tantrum.
Airin bahkan tak
makan siang karena si tantrum hanya memperbolehkan makan walau jam istirahat.
Airin bertanya
berkali kali kala wilson mulai bertindak.
Suasana sekolah
menjadi menyeramkan seperti tadi.
”Mau kamu apa
sih.” Airin merasa muak. Wilson mendekatkan wajah mereka hampir tak berjarak.
”Mau aku,
pulang.” Wilson seketika pergi meninggalkan Airin yang penuh kebingungan.
Mengingat kejadian
tadi itu membuat Airin terlihat tak semangat.
“Kamu kenapa.”
Aran melirik dengan penasaran.
”Lapar.”
mengetakan dengan nada lemah.
”Mau masak atau
makan di luar.” Aran memberi ide.
”Aku gak pandai
masak.”Airin berkara dengan ragu raggu.
”Tapi bisakan.”Aran
melihat dengan tersenyum.
Perjalan mereka
terasa sedikit lebih lama karena singah di mart untuk membeli beberapa bahan
yang ingin di masak.
”Gak ada yang
ketinggalan.” Aran memastikan ketika meraka mendekati rumah. Airin berbalik
melihat plastik belanjaan dan menghitungnya.
”Kayaknya enggah
deh.”Airin yakin.
”Emm.” Aran
mengatakan kala mobiil mereka memasuki pekarangan rumah.
”Yeahh, lest cooking.” Airin bersedadung senang.
Dirinya mencoba membantu Aran yang membawa plastic. Namun Aran
membawanya tanpa menawarkan pada Airin. Disana wajah Airin membatu kesal. ’padahal aaku bisa membantunya.’ Dengan wajah pasrah
__ADS_1
”Bajunya ganti aja dulu.” Aran menyuruh dengan nada lembut.
Airin hanya
memperlihatkan wajah yang kurang semangat.
”Mau mandi
sekalian.” suara Aran kembali terdengar hingga Airin segera mmasuk ke dalam
kamar dengan langkah tertatih.
Aran lebih dulu
bersiap untuk memasak, dirinya dengan cekatan berada di dapur. Menyiapkan beberapa
bahan yang akan mereka buat.
Airin keluar
dengan baju daster selutut. Rambutnya di sanggul ke atas. Langkahnya berjalan
mendekati Aran.
”Udah siap.” Aran
menatap Airin tanpa berkedip beberap saat.
”Aku ngapain.”
kata Airin sedikit antusias.
”ke sini.” Airin
berjalan mendekati Aran. Seketika lelaki itu mengangkat tubuh Airin ke atas meja dapur. Airin sedikit berteriak
karena kaget. Aran berjalan membuka p3k yang mengantung di dekat dinding dapur.
Aran duduk di
kursi, lalu meletakan kaki Airin di pahanya sebagai pijakan. Membersihkan lutut
”Tahan bentar
yeah ini agak perih.” tangan Aran perlahan membuka plaster.
’Awwh’ Airin
dengan suara perih di buat buat. Aran tersenyum tanpa di lihat Airin. Aran
segera dengan cepat menganganti plaster.
”Udah.” Aran
melihat wajah Airin yang menutup mata.
”Secepat itu.” Airin
tak percaya. Sialan jenis apa ini!
Kenapa bersama wilson tadi terasa sangat lama bahkan kakinya hampir keram.
Airin tersenyum hendak akan turun.
Aran membantun Airin,
dirinya Kembali mamakaikan apron. ”Biar bajunya gak kotor.” kata Aran
mengingkatkan tali, di mana possisi mereka hampir atak ada jarak.
Aroma tubuh Aran
menyapa hidung Airin.
”Kamu takut kena
minyak gak.” Aran dengan cekatan mengolah bahan.
__ADS_1
”Enggak.” Airin
menjawb yakin. Tanganya mengambil spatula tanpa ragu. Aran mengacak rambut Airin sampai sedikit
berantakan.
”Aku taro
udangnya yeah.” Aran langsung memasukaan udang yang telah ddi bumbui tepung.
Minyak menyimprat seketika membuat Airin berteriak.
”Pak kayakanya
ini bukan minyak deh. Awww.” teriakan Airin menggelegar. Tubuh nya menjauh dari
penggorengan.
Aran hanya
tertawa melihat tingkah Airin. Mana sikap sok tahunya tadi.
”Kamu bagian cuci
selada aja.” Aran mengambil spatula dan segera menambahkan jumblah udang ke
wajan.
Airin mencucinya
segera. Dia membereskan beberapa peralatan yang telah Aran gunakan. Airin
mencoba meringankan pekerjaan Aran. Dirinya bergerak dengan cekatan, membuat
tubuhnya sedikit berkeringat. Sampai wastefel terisi penuh.
” Kok bisa sih.”
tangan Aran menghilakan terigu yang menepel di dagu Airin. ”Blepotan gini.”
Airinn tersipu
malu. Dirinya segera berbalik dan kembali mengoleskan terigu ke wajahnya dengan
banyak. Aran yang tengah mengangkat
udang tertawa melihat tingkah Sirin.
Dirinya meletakan kembali piring di meja, kemudian mendeket pada Airin.
”Kok jaddi gini.”
Aran membersihkanya menggunakan handuk. Mereka kemudian tertawa, sebelum
menikmati hasil masakan nya dengan sedikit bumbu kemesraan.
Layaknya pasangan
bahagia lainya, mereka terlihat bahagia satu sama lain.
”Oh iy,a jadi
gimana dengan tawaran mamah.” Aran mulai membuka percakapan.
”Weekend nya 4
hari, sama tenggal merah.” Airin terlihat berfikir. ”Pas masuknya kami harus
mengempulkan tugas.” Airin sedikit ragu.
”Aku belum
selesai dengan tugas kelompok dari bapak.” Airin berfikir.
Aran menatap Airin
yang berceloteh tentang hari dan bagian kerja kelompoknya. Gadis itu meminta
__ADS_1
pendapat Aran namun dirinya kembali ragu.