
"Yah aku akui, aku memang menginginkan perhatian dari mereka. Ingin menjadi yang paling menonjol diantara yang lain, termasuk Anara sekaligus." Mengingat bagaimana perilakunya terhadap teman teman yang lain.
"Terlalu sering merasa paling bisa, tanpa memikirkan bagaimana jadi mereka. Aku terlalu egois dalam hal perasaan. Ingin selalu di mengerti tanpa memahami segi perasaan teman ku. Aku sadari, aku sebenarnya perempuan yang berambisi dan yang paling tersakiti tanpa aku peduli adalah Reno." Tangis nya semakin menjadi.
Aran terus mendekap Airin dalam pelukanya. Keluhnya belum juga usai. Hingga beberapa saat suara tangis nya mereda, Aran membawa Airin ke kamar.
Malam semakin larut, dengan begitu Aran menyelimuti tubuh Airin yang telah lelah mengeluarkan air mata.
Suasana terasa dingin, Aran mengatur suhu AC kamar Airin.
Aran menarik nafasnya, menatap wajah sembab Airin dengan perasaan sedih. " Apa aku terlalu keras padanya." Aran melangkah keluar dari kamar.
Malam ini terasa berbeda, suara guntur mulai terdengar. Namun fokusnya masih pada Airin.
"Aku tahu dia istriku, tapi sulit kalau memaksa nya di usia nya saat ini." Bisakah mereka hidup layaknya pasangan suami istri pada umunya.
Itu termasuk doa dalam amiin.
Aran teringat dengan kepindahan Airin. Sebentar lagi.
Mengabari Bakrie dan menceritakan semua yang terjadi.
Pembicaraan mereka cukup lama dari vidio call. Bakrie dengan berat hati mengizinkan Airin pindah.
__ADS_1
Hampir jam 3 pagi, baru Aran selesai vidio call.
Saat Aran akan berbaring, tak sengaja mendengar isak tangis dari depan pintu kamar.
Khawatir akan Airin, langkahnya berlari cepat menuju kamar gadis itu.
Dengan buru buru menyebut nama " Airin." Langkahnya tertahan di depan pintu.
Aran terdiam dengan penuh dugaan. "Bapak kenapa gak ngomong." Airin dengan banjir air mata berkata kesal.
Aran memeluk kembali tubuh yang masih lemah itu.
Memukul tanpa tenaga, Airin terus menganyunkan tinjunya pada Aran.
Aran tersenyum dengan suara kecill.
Mengangkat wajahnya menatap Aran. "Bapak kenapa tertawa, apa aku masih naif." Airin dengan tangis yang semakin besar.
Bulir mata Aran mengalir, tersenyum gemas mengecup dahi Airin yang membuat gadis itu berdiri kaku.
Rona wajahnya memperlihatkan jelas dengan perasaan malu atas kecupan barusan.
Ini pertama kalinya Aran mengecup nya. Airin memeluk kembali.
__ADS_1
"Maaf Airin, aku terlalu kaku selama ini." Dekapan nya semakin erat.
Airin mengangkat kepalanya lagi, menatap yang barusan bicara. Keduanya saling memandang.
Tangan Aran perlahan naik menyikapi bibir Airin, ibu jarinya mengusap pelan di sana.
"Jangan diam aja." Menarik nafanya perlahan. "Kalau belum siap aku bisa nungguin, sampai kamu siap." wajahnya Aran sedikit miring, kedekatan mereka hampir tak berjarak.
Airin menarik kuar kain baju Aran bagian pinggang. Sadar kalau gadis itu masih merasa takut. Lagi lagi Aran hanya mengecupnya, kali ini bagian bibir Airin.
Tersenyum hingga gigi gerahangnya kelihatan." Sekarang gih tidur, aku masih harus urus pindahan kamu di sekolah." Aran mengantarkan Airin ke kamarnya.
Bagaimana mungkin bisa tidur setelah kejadian ini, apa Aran bercanda saat ini.
Wajahnya terlihat malu, apa yang barusan Airin harapkan?
Rasanya aneh, seperti ada kupu kupu yang berterbangan di perutnya saat ini, nafasnya berderu kencang. Ada apa dengan nya? Berharap penyakit jantung tak di deritanya. Usai yang masih terlalu muda.
Jangan lupa comentarnya bagian bab ini yah.
Like
Comen
__ADS_1
KLIK FAVORITE