
Sesampainya di rumah, Rama berkata dengan nada rendah. "Turunlah lebih dulu." Kepalanya bersandar di kemudian.
Airin mengangguk dengan wajah pucat. Tak berani bersuara. Gerakannya terlihat kaku.
Terus berjalan mulai membuka pintu, karena perasaan panik nya, Airin menjatuhkan kunci rumah beberapa kali.
Kali ini sosok Aran cukup menakutkan.
Bukannya tak merasakan hal aneh dalam dirinya, tetapi menehan rasa amarah dan cemburu karena dikira sedang di selingkuhi, Aran benci hall itu.
Apakah sikap manisnya selama ini kurang?
Apakah suaranya rendah dan lemah lembutnya itu tak berarti apa apa?
Mungkin dia dan adinda tak pernah pacaaran,, tetap Aran pernah menaruh hati padanya.
Teringat di mana, Aran yang pelan pelan mendekati Adinda harus merasa malu ketika perasaan sukanya berbalas hanya beberapa jam, setelah tahu kalau ternyata Zaka yang menjadi sahabatnya saat ini juga menyukai Adinda, dan malah menginap di apatement padahal ia tahu kalau keduanya sudah saling menyukai.
Mengetahui hal itu Aran merasa kesal, marahnya sampai melukai Zaka, kemudian meninggalak adinda.
Hanya beberapa waktu, Adinda terus menghubunginya mengacaukan harinya, kemudian Endi datang memperbaiki persahabatan mereka dan membujuk Aran agar mau memafkan Adinda juga.
Aran kemudian mendengarkan perkataan Endi, namun siapa sangka ternyata mereka berdua malah saling berhungan di belakangnya.
Ha itu tak di ketahui cukup lama, sampai Aran mendapati Adinda berada di hotell bersama Endi.
Karena rasa sayangnya, Aran berniat melamar Adinda namun gadis itu menollak dengan alasan masih ingin mengjjar impianya.
Aran terus menunggu, hingga dirinya di jodohkan dengan Airin.
Sudah bersumpah akan berlemah lembut meski tak bisa melupakan Adinda.
Sampai hari ini, mendengar kedekatan keduanya membuat Aran yang sesungguhnya lama tidur kini mulai terbangun dengan sosok sebenar benarnya.
Sorot matanya mulai tajam. Menatap Airin dari kejauhan.
Aran lantas turun, kemudin mendekati Airin.
"Padahal kau bisa memakai kode saja." Suara itu terdengar berbeda.
Airin menyadari satu hal. Aran tak pernah memanggilnya dengan sebutan 'KAU'
"Aku ingat, hari ini akan ada kerja kelompok." Airin dengan rasa takut melangkah berbalik.
Aran mengejarnya, menahan pergelangan tanganya.
"Kau mau kemana." Membawa Airin masuk ke dalam rumah.
Aran langsung menutup pintu, dan menguncinya.
__ADS_1
Airin berlari masuk ke dalam kamar, perasaannya cukup kacau.
"Airin." Aran memanggil dengan nada tinggi. Airin mencoba mengunci pintu kamar.
Aran mendobraknya. "Melihat sikapmu seperti ini, apa kau tahu apa kesalahnmu?" Lagi lagi Aran memegang kuat pergelangan Airin.
"Aku tidak tahu, melihat sikap bapak seperti membuat aku ketakutan." Bibirnya gemetar
"Ada hubungan apa kau dengan Zaka." Aran semakin menghimpit tubuh Airin.
Airin mulai mengingat.
Aran dengan cepat mengambil ponsel Airin. Memeriksanya di sana.
Nama Zaka cukup berada di bagian paling atas. Aran membacanya.
Bagaimana bisa, mereka seakrab ini? Pertanyaan yang mulai memuat Aran terlihat seperti binatang buas.
Sementara Namanya berada di urutan kebeberapa dengan sebutan 'Bapak'
"Apa Zaka semenarik itu?" nada bicara Araan merendah dengan penuh kecewa. Mulai melepaskan tanganya.
Airin dengan rasa takut mulai menggigit bibirnya hingga darah itu menetes keluar dari dalam mulut.
"Yang ingin aku katakan, dia memang menarik, dan tidak kaku, wanita akan banyak merasa nyaman dengan sikap yang dia miliki, tidak heran kalau Adinda menjadikan bapak di urutan nomor sekian." Kekuatanya yang datang kerana rasa sakit. Hal ini memang biasa Airin lakukan ketika merasa kesal yang berlebihan.
"Apa dia perkasa? Aku tidak perlu mengataakaan bagaimana dengan ku, cukup kau bisa menikmatinya saja." Kalimat Aran seperti tak di buat buat.
Apakah ini adalah sosok dirinya yang sebenarnya.
Rasanya seperti mati berkali kali, cemas dan gelisa bercampur. Airin tak mengerti mengapa tiba tiba ini terjadi.
Padahal Zaka adalah sahabatnya sendiri.
"Pak aku sungguh takut dengan sikap bapak yang seperti ini." Suara gadis itu gemetar. Tubuh kecilnya terasa dingin.
"Apa masalah bapak dengan ka Zaka." Hal itu membuat Aran sendiri merasa heran.
Kenapa sampai semarah ini?
"Maaf Airin. Aku sudah keterlaluan." Aran melangkah meninggalkan Airin di kamar.
Sejak hari itu Aran menghabiskan waktu lebih banyak di luar.
Anna dan Ahmadi juga sering menanyakn sikap Aran yang berubah setelah mereka kembali dari jakarta.
Airin tak menceritakan pada kedua mertuanya setelah kejadiaan itu.
Sementara kepindahan mereka sudah mulai dekat.
__ADS_1
Sikap Aran yang seperti itu adalah ketakutan bagi Airin.
Apakah dia perllu memberi tahukan mama Anna?
sejenak ini terlintas di benak Airin. Namun jika kajadian itu sampaai terdengar di tellinga keduaa orang tua Aran bagaimana kelanjutanya kisah mereka berdua?
Malam nya Aran kembali, di saat tengah malam.
Orang rumah sudah tidur. Namun Ahmadi dan Anna masih menunggui Aran.
Sikap Aran berbeda setelah kepulangan mereka dari jakarta, sesuatu mungkin telah terjadi, namun orang yang harus menceritankan adalah Aran sendiri.
"Aran." Anna memanggil dengan nada ketus.
Aran menatapnya, berjalan mendekati kedua orang tuanya.
"Jam berapa ini kamu baru balik, Airin menunggu dengan gelisa." Cergat Anna dengan pertanyaan.
Aran menyeringai.
"Dia gak mungkin nungguin aku mah." Suaaranya sedikit meringis.
"Aran kamu kenapa lagi." Kali ini ahmadi mulai bicara.
"Pah jangan keras ngomongnya, di lihat dari sikap nya sekarang, ini seperti waktu kejadian meninggalnya saudara kembarnya." Anna teringat.
"Masih saja begitu, atau mungkin karena Adinda lagi." Ahmadi menimbang.
Tatapan mata Aran kosong.
"Mah apa aku terlalu kaku." bersandar di pangkuan Anna.
"Kamu sebaiknya menjaga sikap, Airin itu perhatian sama kamu, kalian kan mau pindahaan sebentar lagi. Kamu kalau baliknya jam segini terus bagaimana dia bisa betah tinggal berdua sama kamu." Ahmadi terdengar ketus.
"Kalau om Bakrie balik, aku akan memulangkanya saja." Ucapan Aran terdengar serius.
Airin mendengarnya di balik pintu kamar.
Apakah dirinya semengecewakan itu? Ternyata memang benar, tak ada yang perlu di pertahankan.
Airin memikirkan beberapa hari setelah kajadian itu, kenapa sikap Aran menjadi pemarah. Persoalan Zaka, apakah sudah terjadi sesuatu diatara mereka.
Berharap semoga Aran bisa memafkanya, dan mulai menjelaskan semuanya.
Mendengar ucapan Aran, jelas kalau tak ada yang perlu di bicarakan lelaki itu menyerah padanya.
Padahal Airin menghapus nomor Zaka dan teman lelaki lainya. Semua terasa percuma dan sia sia.
Berikan jejak kalian?
__ADS_1