
Berada di bawah selimut dengan rasa kesal membuatnya merasa gagal menjadi wanita. Apa karena
tak ada yang menarik darinya. Airin mengangkat selimut dan memperhatikan bagian
tertentu dengan rasa kecewa.
Bayangan kalau dirinya yang akan tidur berpelukan membutanya menyapkan diri. Bahkan saat mandi
mengosok kuat kulitnya dengan lulur yang kasar. Bahkan merahnya sampai
terlihat. Memilih baju tidur yang berkain tipis.
Itu semua sia sia.
Airin tak menceritakan kajadian ini pada teman temanya. Iay hanya mengatakan kalau ketahuan habis minum dan di marah habis habis san.
Memperlihatkan kunci rumah yang di berikan Aran tadi pagi, sebelum mereka berangkat sekolah. Hal itu agar gadis remajja itu tak lagi memanjat lewat jendela.
Hal itu membuatnya harinya sangat sangat suntuk.
Lalu apa sekarang setelah menyelesaikan latihan di ruangan leb biologi, bersama dengan teman
temanya yang mana ternyata Ema tergantikan oleh siswa kelas 2 dari kelas lainya.
Hal itu membuat mereka merasa sedih.
”Aku rasa memang semalam itu adalah sebuah kesalahan.” Ema mencoba bicara di kala hal buruk.
”This is wrong. And not.” Dengan berfikir. “ kita lihat aja apa yang bisa di lakukan oleh mia.” nama
anak yang menggantikan Ema.
”And you. Be strong. Punya kakak laki laki bakalan perhatian banget pasti.” sorot matanya
terlihat sedih.
”I am you brother.” Reynald tiba tiba datang dan langsung
__ADS_1
mengambil steek dari piring Enara.
“Oh my brother.” Can you help me.” Anara menatap dengan mata di kedipkan. Reynald mengeluarkan kembali stik yang hancur dari mulutnya.
”Eeuuu. I am not you brother.” Reynald segera beranjak.
“What happen.” Airin bertanya bingung. Reynald menghampirinya.
“Just something. Aku harus keruangan lep fisika.” Reynals
terburu buru, dirinya menyempatkan mengecup puncak kepala Airin. Hal itu memang
biasa di lakukanya namun tidak sering.
Sialnya itu di saksikan oleh Aran, yang saat itu tengah
berjalan dari ruangan lep menuju ruangan kantor.
”Ada apa sih.” Airin bertanya pada Anara.
mulut Reynlas. Menjadi kesal dan mengumpat kata kata.
Menghabiskan sebagian waktu di sekolah membuat Airin yang saat ini merasa akan tidur setelah
sampai di rumah.
Menunggu aran di dalam mobil dengan rasa suntuk. Airin bahkan ketiduran dangan suhu panas yang
membuatnya berkeringat seluruh badan.
Aran sontak kaget melihat ada Airin di dalam mobil. Padahal sudah memberikan kunci rumah, kalau
Airin akan pulang bersama teman temanya.
Aran segera menghidupkan ac, berharap gadis itu merasa nyaman. Menggunakan tisu untuk menghilangkan sisa
keringat di tubuhAirin.
__ADS_1
Sudah sangat sore Aran, lagi lagi merasa bersalah dan tak berguna. Mengecek hapenya. Tak ada
notifikasi dari Airin.
Di parkiran sekolah hanya sisa mobil mereka yang terparkir. Airin terbangun, sayup sayup melihat wajah Aran.
“Bapak.” Mengerjapkan matanya berkali kali sampai pengelihatanya jernih.
”Kita masih di sekolah pak.” memperhatikan sekitar dari dalam mobil.
”Maaf yah kamu udah nunggu lama.” Aran menatap, dan menyingkirkan anakan rambut Airin.
Dirinnya kembali teringat dengan kejadian tadi siang di mana Reynlds, tanpa ragu mengecup puncak kepala Airin. Bahkan Aran tak pernah melakukanya.
Karena itu Aran, tanpa sadar memeriksa semua soal jawaban sampai sore. Tak mau bertemu Airin,
dan berfikir kalau dia akan pulang bersama dengan teman temanya.
Apakah Aran, terbakar cemburu?
”Bapak.” Suara Airin, mengagetkan Aran.
”kita makan dulu yah.” Aran segera memacu mobilnya.
Berkendara menuju restourant yang biasa mereka datangi.
”Airin, kamu pakai ini.” Aran memberikan hoddie yang tergantung di dalam mobil.
Airin metapnya bingung, kemudian memakainya. Mereka segera keluar dari mobil.
Duduk di dekat jendela, dan menikmati pemandangan. Tak lama hujan turun kala makanan mereka
telah di sajikan.
Suasanya cukup romaantis untuk pasangan. Aran terus memperhatikan Airin. Gadis itu sadar akan tetapi juga merasa cemas.
Membersihkan mulutnya dengan tisu. "Apa aku makannya blepotan yah." Airin mengaihkan pandanganya.
__ADS_1