
Mendarat dengan aman, keduanya segera keluar.
Mbak pramugari yang tadi, turun bersamaan dengan penumpang lainya.
Karena kelas bisnis maka mereka lebih dulu keluar dari pesawat.
Keduanya tersenyum, Aran masih awet menggenggam.
"Aku mau ke toillet bentar." Airin segera berajalan masuk. Aran menunggu di luar.
Tak lama seorang pramugari tadi menghampirinya.
"Eh, bapak yang tadi yah." Sapanya dengan suara manja.
Aran tersenyum dan mengangguk.
"Aku rasa kita seumuran, apa panggilan bapak itu terlalu tua mungkin." Niat nya jelas terlihat ingin berkenalan.
"Aku Ania." Dengan senyuman dan memberikan tangan kanannya.
Tak lama Airin keluar dari kamar mandi.
"Apa aku." Airin menatap pada pramugari yang genit. " Apa ada sesuatu." Airin memeluk sebagian tubuh Aran.
Pramugari itu sedikit kaget, tanganya menyingkirkan anakan rambut ke punggung telinga dengan malu.
"Aku hanya merasa seperti pernah bertemu, tapi sudalah bukan hal yang penting juga." Katanya sambil melipan bibirnya kedalam.
"Kau sudah selesai." Menyambut gerakan Airin.
"Aku tidak nyaman membuatmu menunggu lama." Airin membuat gerakan wajah yang cukup imut. Bibirnya cemberut menatap Aran.
Aran tersenyum, Mengecup secara tiba tiba. "Manis banget sih." Katanya sedikit mengusap pellipis Airin.
Pramugarinya segera masuk ke dallam kamar mandi, Aran menggengam tangan istrinya segera meninggalkan area toilet.
__ADS_1
Keduanya berjalan dengan tersenyum, siapa yang bisa menyangka kejadian itu terjadi di saat keduanya berada di keramaian.
Di luar, Sean sudah menunggu sejak tadi dengan wajah kesal.
"Lambat satu menit lagi gw tingga nih." Sean melemparkan kunci mobill pada Aran.
"Ada sedikit kejadian, jadianya lama." Aran menangkapnya spontan.
Siapa yang bisa menyadari, sepasang suami istri itu hanya tertawa.
"Airin gimana perjalan di pesawat." Sean memastikan kalau adiknya tak membuat Airin kecewa.
"Happy kok ka." Airin melirik Sean.
"Aku bakal kembali ke jakarta lusa, mamah bakal ikut sama papah. Jadi kalian berdua aja di rumah." Sean cukup memberi tahu.
"Jadi kalau bisa sore ini kita pergi periksa rumahnya dulu." Sean bicara dengan fokus pada ponselnya.
"Iya." Aran menjawab sedikit malas.
Dari bandara sekitar 30 menit perjalanan, mereka sampai di sambut oleh mamah dan papah nya dengan senang.
"Akhirnya menantu mamah yang imut ini udah datang." Memeluk gemas Airin.
"Gimana perjalanan nya, Aran gak buat kesel kan." Masih bertanya dengan rasa penasaran.
"Mah Airin masih lelah itu, rehat aja dulu." Sean berteriak saat membantu membawa barang barang Airin.
"Iya tahu, bawel banget kamu ah." Mamahnya terus merangkul Airin sambill berjalan masuk ke dalam rumah.
Mereka makan bersama. Setellahnya Airin beristirahat di kamar Aran yang sudah di bersihkan, mama mertuanya tak mengizinkan Airin membantunya membersihkan piring bekas makan, walaupun sudah memohon.
Di kamar dengan rasa tak enakan bicara dengan Aran.
"Rasanya gak enak banget pak." Airin duduk di meja samping tempat tidur Aran.
__ADS_1
"Gak apa apa, mamah emang gitu." Aran berkata santai.
"Bapak pernah cerita apa sama mamah." Airin masih merasa tak enak sampai timbu curiga.
Sadar selama berumah dengan Aran di jakarta, dirinya hanya membantu beberapa kali saat menyiapkan makan.
"Aku billang sama mamah." Aran menggantung kalimatnya.
Rasa penasaran Airin sampai bersikap waspada.
"Kalau Airin itu cantik masha allah banget." Aran tersenyum sampaai gigi gerahangnya terihat.
Airin merona dan malu, tak sadar melempaskan boneka lehernya.
Aran bukanya menepis malah menarik tangan Airin sampai jatuh ke pelukanya.
Keduanya saling diam. Aran mencoba memanfaatkan keadaan.
Saat akan mengecup, pintu kamar terbuka di mana Sean mellihat keduanya sedang bermesraan.
Bisa di pastikan wajah Sean terlihat agak kesal.
"Buruan Ran." Sean kembali menutup pintu dan berteriak.
"Bapak ngomongin apa sama kak Sean." Tanya Airin dengan pesanaran.
Namun sebelum itu Airin segera manrik diri dengan kaku.
"****, pasti kak Sean merasa kalau aku ini cukup horny." Airin hampir memukup Aran.
"Istirahat aja, aku pergi duu." Sean meangkah keluar kamar.
"Apaan sih." Wajahnya menatap Sean kesal. "Ganggu aja." Melangkah lebih dulu.
Sean tertawa gemas. " Cia gak jadi." Meledek dengan gerakan.
__ADS_1