
Airin datang bersama Reno, keduanya mendengarkan kalimat kesal dari Anara.
Sesakit itukah perasaan nya, se kecewa ituka dia, sedalam apa luka nya karena sikap Airin.
Apa sakit di balas maaf itu adil?
Dengan wajah yang pucat, malu yang tak dapat di tahan kini Airin hanya bisa menatap sorot setiap pasang mata yang melihat ke arahnya.
Airin dengan gemetar mencoba tersenyum.
"Kamu merebut segela nya dari aku, kamu kan paling tahu bagaimana keadaan aku di rumah, dan siapa saja yang aku punya, bahkan kamu yang menjadi sandaran aku menjadi gila perhatian. Reno, Reynald, sekarang Wilson, lalu Ema. Apa kau butuh perhatian dari ibuku juga." Anara terus berkata yang menyudutkan Airin.
"Aku sama sekali gak bermaksud begitu." suara Airin bergetar hebat.
"Kamu menang Airin." Sorot matanya mengisaratkan rasa kecewa.
Airin mematung kaku, matanya mulai berair.
"Aku anggap kamu sahabat, tapi kenapa balasannya gini." Mendorong Airin dengan telunjuknya.
"Nar, udah." Ema mulai menahan pergerakan tangan Anara.
"Anara.! Wilson sampai berteriak dan menghampirinya. "I know, marah benget sampe kesal tapi gak gini caranya Nar." Keduanya salling bertatapan.
Kembali melirik Airin "Lho kasih apa mereka sampe ngebela kayak gini." Amarahnya tak terkendali.
Airin masih membatu, menatap tegas kedalam mata Anara.
"Aku gak tahu .? Kalimatnya tak selesai. Suara bentakan dari Anara membungkamnya.
__ADS_1
"Oh, pura pura polos aja terus, sampai semua orang ngira aku vilainya." Teriaknya tak henti di depan wajah Airin.
"Kamu nyuruh datang cuman mau buat pertunjukan ini. Keteralaluan sih." Reno angkat bicara.
"Kalau kamu gak jual nama Airin, aku pastikan gak bakal dateng." Keputusan Reno bicara membuat amarah Anara membabi buta.
Suara tangis Anara, terdengar menyakitkan. Masih mencoba bicara dengan nada yang lembut.
"Reno, kamu bakal tepatin janji kan? Reynald juga sudah setuju." Ucapan barusan membuat Airin penasaran.
Reynald dan Reno terlihat panik.
"Kamu mau minta maafkan, sebaiknya gak muncul lagi di hadapan kami, ini akan menjadi persahabat terakhir kita." Kalimat Anara membuat Airin mengerti maksudnya.
Airin tersenyum, tak lama pak Ghana datang hingga para murid banyak yang bubar, dan beberapa menyoraki Airin.
Airin mengangguk, kemudian kakinya berbalik dan melangkah yakin.
Tak membela diri, namun langkahnya di iringi air mata. Di ujung jalan terllihat sosok pria dengan pakaian dinas tengah berdiri.
Airin berlari menuju ke arah Aran yang sedang melihatnya dari kejauhan.
Kisahnya selesai di Jakarta, bagaimana pun Airin sudah mengiyakan akan keluar dari sekolah.
Usaha Aran tak semua sia sia, karena dengan begitu Airin menanggapinya dengan cukup dewasa.
Aran membawanya pulang.
Airin akan mengikuti Aran yang akan membawa nya pindah ke Bandung.
__ADS_1
Di rumah Airin mengunci diri di kamar.
"Airin, makan dulu." Panggill Aran dari ballik pintu.
"Iya pak." Suara yang berserak itu menyahut.
Airin keluar dengan mata yang sembab.
Aran melihat itu, sontak memeuk Airin. Gadis itu kemballi menangis pilu.
Sengaja tak mencari tahu penyebab tersebarnya surat pernyataan bersalahnya waktu kejadian itu, karena tahu selain dirinya hanya ada Anara yang menyimpan file surat itu.
Reno bukanya anak yang mampu sepertinya, sewaktu kejadian bisa di katakan Bakrie memberikan uang pada pihak sekolah dan berdiskusi dengan Reno untuk pertukaran.
Sebagai balasannya Reno mendapatkan sejumblah uang yang telah mereka sepakati.
Sikap diam nya ternyata tak menyellesaikan masalah.
Pelajaran dalam hidup.
Yang tak suka akan selalu ada. Cari mereka yang bisa menghargai perteman arti dari kata bersama bukan sekedar mengisi waktu luang.
Anara adalah teman sejak mereka SMP sampai kejadiaan tadi ini Anaran masih menjadi sahabat namun dengan status yang tak lagi sama.
"Dia pernah menjadi sahabat, namun sekarang tidak lagi." Airin meringis pilu di pelukan Aran
Gyus, kisah cinta mereka di mulai dari bab selanjutnya, jangan lupa like dan comen.
Klick Favorite yah
__ADS_1