Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
bab 28


__ADS_3

Airin kembali


memeriksa tasnya, Matanya tak sengaja melirik tas Aran, sesuatu di sana mencuri


perhatianya. Tanpa sadar mengambil nya dengan terburu buru lalu memasukanya ke


dalam tas miliknya


Rasa oanik dan bersalah


membuatnya salah tingkah ketika Aran masuk ke dalam kamar ”Ketemu di mana pak.”


Rasa gugupnya terlihat jelas.


”Di mobil.” Aran


menjawab seadanya. ”Kamu udah beresin semua.” mulai membawa koper Airin dan tas


kecilnya, Namun saat ini Airin melarangnya dengan berjalan lebih dulu. Aran


mengikutinya


”Sudah.” Jalanya


sedikit terburu buru. Menghampiri papa dan mama mertuanya, di sana jjuga sudah


ada Sean. Kakak iparnya.


”Nanti kalau ada


weeken lagi, kalian harus ke bandung.” pesan Nnna yang merasa sedih di tinggal Airin.


”Iya mah, aku


suka di sini. Apalagi ada Reno jadi aku bisa main bersamanya juga.” kalimat Airin


membuat Aran tersenyum tipis, sementara Ahamadi dan Anna, menatap Aran namun


berbeda dengan Sean yang lagi lagi tertawa.


”Iya bener yah Rin,


apalagi kemarin seru abis kan.” Sean berkata dengan nada tertawa. Airin menggeleng


semangat


Anna dan Madi


hanya bisa melotot pada Sean.


Perjalanan ke


bandung tak banyak percakapan diantara mereka. Hanya singgah makan kala Airin


mengatakan lapar. Aran masih tetap bertanggung jawab walalupun sedikit merasa


aneh pada dirinya,


Setibanya di


jakarta Aran mulai melambat, karena jalan yang sedikit macet. Sekitar jjam 8


malam Aran sampai di rumah. Dirinya menurunkan barang bawaanya dan Airin.


Kemudian membangunkan gadis itu untuk segera turun dari mobil.


”Airin, sekarang


kamu boleh bangun.” bahkan suara Aran adalah alaram terbaik dengan mood yang


good.


Airin mengucek


bola matanya perlahan sebelum membuka matanya dan berjalan masuk ke dalam


rumah. Dirinya langsung menuju kamar.


Beda dengan Aran

__ADS_1


yang memilih menyelesaikan beberapa tugas sekolahnya untuk besok, dirinya baru


tidur ketika hampir jam 12 malam.


Bangun sebelum


pagi adalah kebiasaan Aran, setelah beribadah dirinya kembali ke aktifitas


biasanya, menyipakan semua keperluan kerjanya. Tak lupa untuk membangunkan Airin


tepat jam 6.


Gadis itu


menggeliat sebelum dirinya segera bersiap menuju sekolah.


Sarapannya mulai


di atur Aran dengan porsi yang sudah seharusnya. Airin menatap dengan tatapan


sedikit tak suka. Namun iya hanya bisa merengek kala meminta lebih. Keluarnya


dari rumah sakit membuat Aran lebih protektif padanya.


Aran kembali


mengajar mereka dengan menyurh beberapa tugas berdasarkan kelompok dua minggu


lalu. Semua terlihat antusias dengan kemampuan masing masing. Airin terlihat


sedikit menonjol dari yang lain. Dirinya seperti nya memanglah pandai. Hanya


malas bersaing.


Kali ini nilai


kelompok wanita tentang tumbuhan lebih banyak mendapatkan angka pluss ketimbang


laki laki soal hewan.


Aran terlihat


Saat perjalan


pulang sekolah Airin menghampiri Aran yang sedang berbicara dengan bu Shena.


”Aku sudah


mempelajari cara memasak mie sewaktu di Bandung dengan ka Lusi. Pak Aran harus


mencobanya.” Airin berjalan dengan gembira menuju ruangan Aran.


Dari kejauhan Aran


terlihat dengan senyuman berbicara dengan santai pada Shena. Airin


memperhatikan.


Kakinya melangkah


mundur, ada rasa kecewa besar di sana. Dengan sesak di dadanya Airin meremasnya


dan berjalan menuju parkiran. Bertemu dengan Wilson.


”Hei cantik, mau


kemana? Naik sama abang mau gak.” wilson terdengar bercanda. Siapa sangka Airin


pun masuk ke dalam mobil Wilson.


Wajahnya terlihat


jelas tengah dengan suasana hati yang sedang kacau. Wilson membawanya menuju


cafe dengan tema ice cream. Tak ada pertanyaan dari Airin melainkan diam dan


tak berdaya.


Wilson kembali setelah membeli ice cream dengan rasa stroberi

__ADS_1


dan chocolate.


“Tadi kamu keren


banget lho.” wilson memberikan ice cream. Airin tersenyum sekilas.


“Tangks.” Memakan


ice cream berharap hatinya tak hampa.


“Aku antar kamu


pulang.” Wilson memacu mobilnya segera. Airin hanya diam dan menghabiskan ice


creamnya.


Mobil sport yang


melaju cepat di jlan itu membawa mereka cepat sampai di rumah. ”Makasih.” Airin


berjalan masuk.


”Girl.” wilson


terlihat ingin mengatakan sesuatu. ”Kalau ada apa apa terlfon aku.” tersenyum,


dan kembali menacap gas.


Airin masuk dengan wajah sedikit murung.


Melihat ada mobil yang terparkir di garasi. Hanya melewatinya.


”Kamu sama siap.”


Aran bertanya dengan sedikit cemas.


”Sama teman.” wajahnya


masih terlihat murung.


”Apa sesuatu terjadi.”


Aran khawatir.


”Iya. Aku merasa


lelah.” Kata Airin segera masuk ke dalam kamar.


Gadis itu


mengunnci pintu, agar Aran tak masuk ke dalam kamarnya. Aran hanya merasa aneh


dengan sikap Airin.


”Airin, apa kamu


sudah makan.” tanya Aran perlahan.


”Iya.” gadis itu


lagi lagi hanya menjawab seadanya.


Saat di sekolah


tadi, setelah berbincang sedikit dengan Shena yang menanyakan soal kebetahanya


di sekolah atau tidak, Aran segera mencari Airin. Dari kelas, ke kantin,


toilet, perpustakaan, ruangan musik, sampai halaman parkir tak menemukanya. Aran


kemudian bertanya pada salah seorang murid dan mengatakan kalau Airin pergi


bersama wilson, temen sekelasnya.


Dalam hati Aran


bertanya tanya. ’ Kenapa Airin tidak mengabarinya.’ Dirinya menatap layar


ponsel dengan waktu yang sering sampai melihatnya di rumah dengan wajah murung.

__ADS_1


__ADS_2