
Airin kembali
memeriksa tasnya, Matanya tak sengaja melirik tas Aran, sesuatu di sana mencuri
perhatianya. Tanpa sadar mengambil nya dengan terburu buru lalu memasukanya ke
dalam tas miliknya
Rasa oanik dan bersalah
membuatnya salah tingkah ketika Aran masuk ke dalam kamar ”Ketemu di mana pak.”
Rasa gugupnya terlihat jelas.
”Di mobil.” Aran
menjawab seadanya. ”Kamu udah beresin semua.” mulai membawa koper Airin dan tas
kecilnya, Namun saat ini Airin melarangnya dengan berjalan lebih dulu. Aran
mengikutinya
”Sudah.” Jalanya
sedikit terburu buru. Menghampiri papa dan mama mertuanya, di sana jjuga sudah
ada Sean. Kakak iparnya.
”Nanti kalau ada
weeken lagi, kalian harus ke bandung.” pesan Nnna yang merasa sedih di tinggal Airin.
”Iya mah, aku
suka di sini. Apalagi ada Reno jadi aku bisa main bersamanya juga.” kalimat Airin
membuat Aran tersenyum tipis, sementara Ahamadi dan Anna, menatap Aran namun
berbeda dengan Sean yang lagi lagi tertawa.
”Iya bener yah Rin,
apalagi kemarin seru abis kan.” Sean berkata dengan nada tertawa. Airin menggeleng
semangat
Anna dan Madi
hanya bisa melotot pada Sean.
Perjalanan ke
bandung tak banyak percakapan diantara mereka. Hanya singgah makan kala Airin
mengatakan lapar. Aran masih tetap bertanggung jawab walalupun sedikit merasa
aneh pada dirinya,
Setibanya di
jakarta Aran mulai melambat, karena jalan yang sedikit macet. Sekitar jjam 8
malam Aran sampai di rumah. Dirinya menurunkan barang bawaanya dan Airin.
Kemudian membangunkan gadis itu untuk segera turun dari mobil.
”Airin, sekarang
kamu boleh bangun.” bahkan suara Aran adalah alaram terbaik dengan mood yang
good.
Airin mengucek
bola matanya perlahan sebelum membuka matanya dan berjalan masuk ke dalam
rumah. Dirinya langsung menuju kamar.
Beda dengan Aran
__ADS_1
yang memilih menyelesaikan beberapa tugas sekolahnya untuk besok, dirinya baru
tidur ketika hampir jam 12 malam.
Bangun sebelum
pagi adalah kebiasaan Aran, setelah beribadah dirinya kembali ke aktifitas
biasanya, menyipakan semua keperluan kerjanya. Tak lupa untuk membangunkan Airin
tepat jam 6.
Gadis itu
menggeliat sebelum dirinya segera bersiap menuju sekolah.
Sarapannya mulai
di atur Aran dengan porsi yang sudah seharusnya. Airin menatap dengan tatapan
sedikit tak suka. Namun iya hanya bisa merengek kala meminta lebih. Keluarnya
dari rumah sakit membuat Aran lebih protektif padanya.
Aran kembali
mengajar mereka dengan menyurh beberapa tugas berdasarkan kelompok dua minggu
lalu. Semua terlihat antusias dengan kemampuan masing masing. Airin terlihat
sedikit menonjol dari yang lain. Dirinya seperti nya memanglah pandai. Hanya
malas bersaing.
Kali ini nilai
kelompok wanita tentang tumbuhan lebih banyak mendapatkan angka pluss ketimbang
laki laki soal hewan.
Aran terlihat
Saat perjalan
pulang sekolah Airin menghampiri Aran yang sedang berbicara dengan bu Shena.
”Aku sudah
mempelajari cara memasak mie sewaktu di Bandung dengan ka Lusi. Pak Aran harus
mencobanya.” Airin berjalan dengan gembira menuju ruangan Aran.
Dari kejauhan Aran
terlihat dengan senyuman berbicara dengan santai pada Shena. Airin
memperhatikan.
Kakinya melangkah
mundur, ada rasa kecewa besar di sana. Dengan sesak di dadanya Airin meremasnya
dan berjalan menuju parkiran. Bertemu dengan Wilson.
”Hei cantik, mau
kemana? Naik sama abang mau gak.” wilson terdengar bercanda. Siapa sangka Airin
pun masuk ke dalam mobil Wilson.
Wajahnya terlihat
jelas tengah dengan suasana hati yang sedang kacau. Wilson membawanya menuju
cafe dengan tema ice cream. Tak ada pertanyaan dari Airin melainkan diam dan
tak berdaya.
Wilson kembali setelah membeli ice cream dengan rasa stroberi
__ADS_1
dan chocolate.
“Tadi kamu keren
banget lho.” wilson memberikan ice cream. Airin tersenyum sekilas.
“Tangks.” Memakan
ice cream berharap hatinya tak hampa.
“Aku antar kamu
pulang.” Wilson memacu mobilnya segera. Airin hanya diam dan menghabiskan ice
creamnya.
Mobil sport yang
melaju cepat di jlan itu membawa mereka cepat sampai di rumah. ”Makasih.” Airin
berjalan masuk.
”Girl.” wilson
terlihat ingin mengatakan sesuatu. ”Kalau ada apa apa terlfon aku.” tersenyum,
dan kembali menacap gas.
Airin masuk dengan wajah sedikit murung.
Melihat ada mobil yang terparkir di garasi. Hanya melewatinya.
”Kamu sama siap.”
Aran bertanya dengan sedikit cemas.
”Sama teman.” wajahnya
masih terlihat murung.
”Apa sesuatu terjadi.”
Aran khawatir.
”Iya. Aku merasa
lelah.” Kata Airin segera masuk ke dalam kamar.
Gadis itu
mengunnci pintu, agar Aran tak masuk ke dalam kamarnya. Aran hanya merasa aneh
dengan sikap Airin.
”Airin, apa kamu
sudah makan.” tanya Aran perlahan.
”Iya.” gadis itu
lagi lagi hanya menjawab seadanya.
Saat di sekolah
tadi, setelah berbincang sedikit dengan Shena yang menanyakan soal kebetahanya
di sekolah atau tidak, Aran segera mencari Airin. Dari kelas, ke kantin,
toilet, perpustakaan, ruangan musik, sampai halaman parkir tak menemukanya. Aran
kemudian bertanya pada salah seorang murid dan mengatakan kalau Airin pergi
bersama wilson, temen sekelasnya.
Dalam hati Aran
bertanya tanya. ’ Kenapa Airin tidak mengabarinya.’ Dirinya menatap layar
ponsel dengan waktu yang sering sampai melihatnya di rumah dengan wajah murung.
__ADS_1