Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 71


__ADS_3

hawa dingin yang menyapa kulit, mengganggu tidur lelapnya.


Tanganya meraba mencari selimut, dua tangan itu terpaud. Airin membuka matanya.


Melirik ke bawa, matanya menangkap sesuatu yang baru kali ini terjadi.


Aran tidur sambil memeluknya.


Astaga! Apa yang sudah terjadi? Pikiran Airin mulai liar.


Rona pipinya nampak seketika.


Rasanya nyaman, cukup hangat. Airin terseyum.


Ujung bajunya terangkat naik, sedikit saja tangan Aran berpindah, bisa di pastikan lolos dengan natural.


Beberapa kali membekap mulutya sendiri karena kegirangan. Tak percaya kalau Aran sedang memeluknya.


Apa es batunya mencair sekarang!


"Ini kan kejadian langka banget, ah aku ada ide." Airin mulai mengambil ponselnya di bawah bantal tidurnya saat ini.


Diam diam memotret, rasanya deg deg kan, apalagi saat lampu blitz nya hidup saat menekan.


Beberapa saat menengakan deguban jantungnya yang terasa bergoyang cepat.


'Astaga ini sangat memalukan.' Malu dengan tindakanya sendiri.


Tangan Aran bergerak, pelukannya terasa semakin erat dan kali ini tangan kekar itu beruntung berada di balik baju.


Seketika wajahnya panik, perasaan nya berubah cemas.

__ADS_1


Jantung nya berdetak cepat.


Airin tidak sedang di kejar hantu, tapi kenapa rasa takut mulai menghampirinya.


Berulang kali menarik nafas, berharap detak jantungnya bisa kembai normal.


Seketika tubuhnya gemetas hebat, Aran merasakan pergerakan , perlahan membuka mata.


Mengerjab beberapa kali. "Airin." Panggilnya spontan. Lampu kamar yang berwarna kuning, cukup bisa mengelabui pengelihatan mata.


Aran melihat gadis itu tidur pulas.


Dengan mata yang mengantuk parah, Aran kembali berbaring, kali ini membelakangi Airin.


Aran merasakan pergerakan tipis tipis.


Kembali membuka matanya, menghidupkan  lampu dengan cahaya putih.


"Airin." Panggilnya untuk membangunkan. "Hey kamu kenapa sayang." Aran sadar telah terjadi sesuatu pada istrinya. "Sampe keringetan gini." Mengambil tisu.


"Aku gangguin bapak tidur yah." Airin tak fokus karena saat membuka mata wajah Aran tepat di hadapanya.


"Engga." Membersihkan keringat di wajah Airin.


"Kamu kenapa keringetan gini." Masih menunggu jawaban.


"Aku ngerasa gerah." Ucapnya berbohong.


Aran menurukan suhu ac agar lebih dingin.


"Yaudah, kamu tiduran aja sekarang." Aran kembali berbaring, dengan membelakangi Airin.

__ADS_1


Yang tadinya gemetar karena gugup, sekaranng terasa kecewa karena Aran tak memeuknya. Merasa di permainkan Airin harus ambil star pertama.


Airin berbalik, posisinya berada di belakang Aran, tanganya melingkar di pinggang laki laki itu. Menenggelamkan wajahnya di balik punnggung Aran.


"Airin." Aran spontan memanggil. Ragu kalau sampai mengira badan Aran adalah guling.


"Tadi yang mulai diluan siapa." Kata Airin dengan suara terperangkap.


Aran tersenyum mendengarnya. 'Oh jadi yang tadi gemetar itu kerena ini.' kini mengerti, sampai kejadian tadi.


Semua bersangkutan. Hm.


Aran menyingkirkan tangan Airin. Gadis itu meringis dengan wajahnya yang di sembunyikan.


Rasanya sangat kecewa dan malu. Sampai Aran berbalik dan memeluk Airin. Dimana keduanya saling berhadapan.


Dengan jelas, menghirup aroma wangi yang melekat di tubuh Aran walaupun masih terlapisi baju.


Detak jantungnya berlomba kembali, Kali ini Airin mendengar nya dari milik Aran.


'Ternyata dia juga gugup.' isi hatinya meluap luap.


"Jantung bapak aman kan." Dengan suara kecil, Airin menganggkat kepalanya.


"Tidurlah, besok pagi harus ke sekolah." Aran dengan suara santai nya.


Airin meledeknya cukup dalam hati saja.


Jelas jelas suara jantungnya seperti palu memukul batu.


Jangn lupa llikenya

__ADS_1


__ADS_2