
Mereka melaju dengan kecepatan santai.
"Vitaminnya di bawa kan." Aran iseng bertanya.
"Iya." jawab seadanya.
"Airin, lagi gak marah kan." Pertanyaan itu membuat Airin memalingkan pandanganya menatap ke lliar jendela.
Aran hanya tersenyum. Dai baik ucapanya, elaki itu merasa gemas dengan sifat mau Airin.
Sampai mereka mamasuki halaman sekolah. Airin melangkah dengan terburu buru.
"Gimana persiapan kamu." Willson menghampirinya saat baru saja duduk.
"1000%." Jawabnya memperllihatkan mata panda.
"Reynald datang dengan potongan rambut baru.
"You look ike Obito." Ema menyambutnya.
Dengan gerakan tangan, seolah dirinya akan megeluarkan jurus.
"Uchiha Obito, Rassengan." Reynlad dengan suara perut.
"Kau menontonya di mana." Wilson bertanya dengan terus tertawa.
"Youtube biru." Kalimatnya berakhir dengan suara tawa dari mereka semua.
Tak lama Anara masuk dengan wajah tanpa ekspresi.
"Anara." Airin memanggilnya.
"Segera ke ruangan persiapan. Bu shena menunggu di sana." Pemberitahuan terdengar ketus.
Ema, diam. Sementara mereka berempat segera beranjak.
__ADS_1
Langkah Airin sampai di pintu, dirinya berballik mendekati Ema.
"You real my freand." Airin mengelus wajah Ema sebentar kemudian mereka tersenyum.
Airin masuk ke ruangan paling akhir.
"Karena kalian berlima tampill sebagai otak dari sekolah ibu harap berikan yang terbaik, wajah kallian ini adalah wajah dari sekolah nanti." Shena memberikan dukungan.
Tepat jam 8 lewat 20 menit. Anara, reynald, Airin dan Wilson serta 1 orang perwakilan dari kelas 1 yang akan segera tampil di hadapan para penguji.
Semua berdiri sesuai dengan kelompoknnya.
Tim penguji mulai bertanya, persoalan Kimia.
"Sebutkan jenis asam atau senyawa yang berbentuk cairan dengan kekuatan memelehkan bahan organik tetapi aman bagi kuit manusia dan berikan contohnya." Pertanyaan itu terbillang antara di tengah tengah, namun karena harus menciptakan senyawanya maka harus butuh ingatan yang ekstra.
Mereka di berikan waktu untuk diskusi selama 1 menit.
Airin yang masih mengingat jelas, materi terakhir itu, dan pemahaman yang jelas kala Aran menyampaikanya.
Memakai sarung tangan
"Asam Antimonat merupakan senyawa organik, berupa cairan. Asam ini cukup berbahaya karena sifat asam nya bisa melelehkan benda berupa besi. Senyawa ini di buat dengan mereaksikan H fluorida, dengan antimon pentaflorida dengan rasio 2 banding 1." Penjelasanya tertahan ketika Airin memasukan sendok besi yang larut seketika.
"Namun tenang saja, karena sifat asam ini meski terbilang bahaya dan aktif terhadap senyawa organik akan tetapi ini aman jika terkena kulit manusia" Airin membuka sarung tanganya dan memasukan jarinya ke dalam cairan.
Aksinya terbillang berani. Hal ini mendapatkan reaksi tepuk tangan dari tim penguji.
Masih ada beberapa pertanyaan lainya dari tim penguji, Arin dan Wilson banyak mengambill peran menjawab.
Setelah selesai prestase, Reynllad memeluk erat Airin.
"Rasanya seneng banget." Reynald bangga terhadap Airin.
"Aku harus segera ke ruangan penampilan Cello." Reynad dan wilson siap membawa cello dan mereka bertiga dengan buru buru.
__ADS_1
Memasuki ruangan, Airin segera mengganti pakaianya. dengan berharap Aran melihat penampillanya.
Airin di semangati Reynalld dan Willson
Langkahnya sedikit ragu, naik ke podium dan mulai tersenyum. Sorot matanya liar mencari seseorang di sana.
Waktunya untuk memainkan permainanya sudah di persillahkan.
Irama dari nada tinggi ke rendah adalah ujian tersendiri untuknya.
Bermain dengan menggunakan rasa kesal, Airin bahkan tak sadar sampai kuku jjari telunjuknya hampir lepas.
Darahnya menetes tanpa di sadari.
Sampai waktunya selesai, Airin tak melihat Aran di manapun.
Rasanya tepuk tangan itu terdengar hampa.
Willson dan Reynald kembai memeluk Airin dengan memberikan bunga dan coklat.
Airin tersenyum dengan tanggung.
Sampai tiba waktunya pulang. Airin duduk menunggu di parkiran.
Terlihat Aran jalan bersama seorang tim penguji yang cantik.
"Airin." Aran menyapanya.
Airin hanya melangkah menuju ke mobil." Airin karena rumah kita searah jallan pulang, Andini numpang sebentar yah." Mendengar kalimat itu, Airin mundur, membuka pintu belakang.
Melaju pelan, Andini duduk di depan padahal di awall jelas menolak. Aran hanya diam kala itu.
"Kalian adik kaka yah." Tanya Andini spontan.
Aran hanya tersenyum. Sementara Airin dengan wajah kesal duduk hanya memainkan ponselnya.
__ADS_1