
Tak ada jawaban. Airin bahkan menyapa sebanyak 3 kali. Terlihat sebuah mobil civic hitam
mendekat pada keduanya. Dengan rasa penasaran siapa yang mengendarai mobiil
yang menghampiri mereka.
Sosok laki laki
yang dewasa mendekat pada Airin dan Wilson. ”Airin, ayo masuk.” suara yang
berat dan sedikit serak itu membuat Wilson menatap tajam. Airin segera
melepaskan tanganya dari gengaman jemari Wilson. Kaki mungil gadis yang memakai
seragam itu segera masuk dengan wajah yang banyak pertanyan.
Beberapa kali Airin
menghela nafas, peganganya terlampau erat pada tali sidbell. Tak ada pembicaraan, walaupun Airin dengan sejuta
pertanyaan, sementara Aran terlihat serius saat mengemudi.
Arin melirik Aran
sejenak, karena jalanan yang ia lewati bukan ke rumahnya. Perasaan was was
membuat Airin berfikir kalau dirinya sedang di culik. Tangan Airin perlahan membuka
pintu mobil. “Oh ****.” Airin menggerutu. Kenapa ini tidak mau terbuka. Beberapa kali wajah Airin merenggut curiga
dan kesal pada Aran.
Mencoba diam
setelah menimbulkan suara suara aneh, Airin kembali melirik aran dengan perasaan
aneh.
”Restoruant.”Airin
berkata heran.
Jalan yang mereka
lewati tidaklah asing, kala Airin tahu kalau ini menuju restorant yang semalam bersama
dengan papahnya.
Mobil itu
memasuki halaman parkir setelah kecurigaan Airin benar.
Aran segera
keluar dari mobil dan Airin mengekor dari belakang.
Aran bahkan
membuka pintu untuk Airin, saat setelah ia menggenggam tangan Airin membawanya
masuk.
Di sana terlihat
ayahnya dengan beberapa orang lainya. Dan ada Amanda juga.
Ayahnya terlihat
begitu gagah dengan pakaian formal, begitu juga yang lain. Kecuali Aran dan
dirinya.
“Dad.” Airin paham
setelah melihat situasi. Bakrie terlihat mengangguk dan tersenyum. Seolah mengiyakan
__ADS_1
kecemasan Airin.
“Kau putriku satu
satu, papah meminta maaf karena harus menikahkanmu secapatnya.” Kata Bakrie
dengan wajah yang sedih.
“Dady don’t joke.” Airin hampir tak percaya. “You say two
weeks. And give time to prepare.” Rasanya
Airin kehabisan energi.
“Maafkan papah,
kerana kamu harus menikah muda. Dan ini impian papah untuk memiliki anak yang
menikah muda.” Kata Bakrie di tengah merontaknya batin Airin.
”You lie me.” Airin seakan bermimpi.
Airin bahkan
masih memakai seragam sekolah. Kecewa, bingung dan putus asa membuat Airin tak
bisa melakukn apa apa.
Hiasan make up
yang tipis membuat Airin benar benar seperti bonek hidup. Bakrie yang terlalu
tiba tiba mengambil keputusan membuat semuanya tak punya persiapan matang.
Pernikahan yang
benar benar tertutup, bahkan tak sampai 10 orang yang menghadiri acara
pernikahan mereka.
ucapakan, seorang anak yang bercita cita dan ingin menjadi Wanita karir yang sukses
kini harus bertatuskan istri orang.
Semuanya terlihat
bahagia, terlebih Bakrie, kemana raut wajah menyesalnya tadi. Apakah sudah di
telan kulit mati. Airin hanya bisa terdiam mematung, pemeran utama yang tak
memiliki panggung pentas untuk dirinya.
Malam Kembali
menyapa, kini Airin berada di rumahnya dengan suasana yang biasanya. Hanya saja
kini ada cincin pernikahan di jari manisnya.
“I am married
now.” Kata Airin menatap tangannya yang di lingkari cincin. Wajahnya datar.
Situasi Airin
membingungkan. Senang, sedih, meratapi semua berada dalam keadanya yang benar
benar ambigu.
Semakin larut,
dirinya memikirkan semua kejadian seharian ini.
Menikah tanpa
persiapan, dan semua terlalu cepat. Lelaki tampan yang mampan itu, wanita mana
__ADS_1
yang ragu dengan kedepanya. Seperti kata Bakrie. Hanya saja ini semua terlalu
cepat.
Huff…
Mata Airin
semakin berat, dan akhirnya lepa dalam pikiran yang melayang semu.
Tidurlah Airin
kejadian hari ini terlalu begitu menguras pikiran dan tenaga yang masih belum
bisa kamu pahami dengan usia yang remaja itu. Kamu butuh istirahan sejenak.
Gadis itu terlihat nyenyak.
Semua kejadian
terlalu cepat dan tiba tiba. Bagi Sebagian orang yang hidup tak ingin ribet
dalam perencanaan. Dan itu dianggap merepotkan.
Sementara Aran
yang sedang berada di hotel dengan mempersiapkan segelanya bersama Bakrie
tengah sibuk. Kedua lelaki itu benar
benar menggunakan waktu dengan teramat baik.
Keduanya yang
masih berada di hotel tanpa sepengetahuan Airin. Gadis yang kini terlelap di
kamarnya itu mengira ia sedang bersama dengan papahnya. Nyatanya dia sendirian
di rumah.
“Semua sudah
beres.” Kata Bakrie. Lelaki paruh bayah yang masih bugar itu terlihat dengan
raut wajah yang terlihat pasrah.
Malaju di
kegelapan malam yang sunyi, menuju bandara. Keberangkatan Bakrie di percepat.
Dirinya bahkan tak tega membangun kan Airin untuk melihatnya pergi.
Keputusan Bakrie
sudah sangat bulat. Dirinya bahkan berkali kalli untuk meyakinkan perasaanya
dengan pilihan yang sulit ini.
“Jaga anakku. Dia
hartaku satu satu nya.” Kata Bakrie Ketika mereka berada di depan tangga
pesawat. mata yang terlihat sedih itu begitu nampak. Bahkan angin yang kencang
tak bisa membuat air mata itu menghilang.
Aran mengangguk.
Kedunya berjabat tanggan sebelum Bakrie menghilang di balik pintu pesawat yang
akan lepas landas itu.
Sekarang apa?
Tinggal bagaimana menyakinkan Airin dan bicara padanya.
__ADS_1