Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 7


__ADS_3

Tak ada jawaban. Airin bahkan menyapa sebanyak 3 kali. Terlihat sebuah mobil civic hitam


mendekat pada keduanya. Dengan rasa penasaran siapa yang mengendarai mobiil


yang menghampiri mereka.


Sosok laki laki


yang dewasa mendekat pada Airin dan Wilson. ”Airin, ayo masuk.” suara yang


berat dan sedikit serak itu membuat Wilson menatap tajam. Airin segera


melepaskan tanganya dari gengaman jemari Wilson. Kaki mungil gadis yang memakai


seragam itu segera masuk dengan wajah yang banyak pertanyan.


Beberapa kali Airin


menghela nafas, peganganya terlampau erat pada tali sidbell.  Tak ada pembicaraan, walaupun Airin dengan sejuta


pertanyaan, sementara Aran terlihat serius saat mengemudi.


Arin melirik Aran


sejenak, karena jalanan yang ia lewati bukan ke rumahnya. Perasaan was was


membuat Airin berfikir kalau dirinya sedang di culik. Tangan Airin perlahan membuka


pintu mobil. “Oh ****.” Airin menggerutu. Kenapa ini tidak mau terbuka. Beberapa kali wajah Airin merenggut curiga


dan kesal pada Aran.


Mencoba diam


setelah menimbulkan suara suara aneh, Airin kembali melirik aran dengan perasaan


aneh.


”Restoruant.”Airin


berkata heran.


Jalan yang mereka


lewati tidaklah asing, kala Airin tahu kalau ini menuju restorant yang semalam bersama


dengan papahnya.


Mobil itu


memasuki halaman parkir setelah kecurigaan Airin benar.


Aran segera


keluar dari mobil dan Airin mengekor dari belakang.


Aran bahkan


membuka pintu untuk Airin, saat setelah ia menggenggam tangan Airin membawanya


masuk.


Di sana terlihat


ayahnya dengan beberapa orang lainya. Dan ada Amanda juga.


Ayahnya terlihat


begitu gagah dengan pakaian formal, begitu juga yang lain. Kecuali Aran dan


dirinya.


“Dad.” Airin paham


setelah melihat situasi. Bakrie terlihat mengangguk dan tersenyum. Seolah mengiyakan

__ADS_1


kecemasan Airin.


“Kau putriku satu


satu, papah meminta maaf karena harus menikahkanmu secapatnya.” Kata Bakrie


dengan wajah yang sedih.


“Dady don’t joke.” Airin hampir tak percaya. “You say two


weeks. And give time to prepare.” Rasanya


Airin kehabisan energi.


“Maafkan papah,


kerana kamu harus menikah muda. Dan ini impian papah untuk memiliki anak yang


menikah muda.” Kata Bakrie di tengah merontaknya batin Airin.


”You lie me.” Airin seakan bermimpi.


Airin bahkan


masih memakai seragam sekolah. Kecewa, bingung dan putus asa membuat Airin tak


bisa melakukn apa apa.


Hiasan make up


yang tipis membuat Airin benar benar seperti bonek hidup. Bakrie yang terlalu


tiba tiba mengambil keputusan membuat semuanya tak punya persiapan matang.


Pernikahan yang


benar benar tertutup, bahkan tak sampai 10 orang yang menghadiri acara


pernikahan mereka.


ucapakan, seorang anak yang bercita cita dan ingin menjadi Wanita karir yang sukses


kini harus bertatuskan istri orang.


Semuanya terlihat


bahagia, terlebih Bakrie, kemana raut wajah menyesalnya tadi. Apakah sudah di


telan kulit mati. Airin hanya bisa terdiam mematung, pemeran utama yang tak


memiliki panggung pentas untuk dirinya.


Malam Kembali


menyapa, kini Airin berada di rumahnya dengan suasana yang biasanya. Hanya saja


kini ada cincin pernikahan di jari manisnya.


“I am married


now.” Kata Airin menatap tangannya yang di lingkari cincin. Wajahnya datar.


Situasi Airin


membingungkan. Senang, sedih, meratapi semua berada dalam keadanya yang benar


benar ambigu.


Semakin larut,


dirinya memikirkan semua kejadian seharian ini.


Menikah tanpa


persiapan, dan semua terlalu cepat. Lelaki tampan yang mampan itu, wanita mana

__ADS_1


yang ragu dengan kedepanya. Seperti kata Bakrie. Hanya saja ini semua terlalu


cepat.


Huff…


Mata Airin


semakin berat, dan akhirnya lepa dalam pikiran yang melayang semu.


Tidurlah Airin


kejadian hari ini terlalu begitu menguras pikiran dan tenaga yang masih belum


bisa kamu pahami dengan usia yang remaja itu. Kamu butuh istirahan sejenak.


Gadis itu terlihat nyenyak.


Semua kejadian


terlalu cepat dan tiba tiba. Bagi Sebagian orang yang hidup tak ingin ribet


dalam perencanaan. Dan itu dianggap merepotkan.


Sementara Aran


yang sedang berada di hotel dengan mempersiapkan segelanya bersama Bakrie


tengah sibuk.  Kedua lelaki itu benar


benar menggunakan waktu dengan teramat baik.


Keduanya yang


masih berada di hotel tanpa sepengetahuan Airin. Gadis yang kini terlelap di


kamarnya itu mengira ia sedang bersama dengan papahnya. Nyatanya dia sendirian


di rumah.


“Semua sudah


beres.” Kata Bakrie. Lelaki paruh bayah yang masih bugar itu terlihat dengan


raut wajah yang terlihat pasrah.


Malaju di


kegelapan malam yang sunyi, menuju bandara. Keberangkatan Bakrie di percepat.


Dirinya bahkan tak tega membangun kan Airin untuk melihatnya pergi.


Keputusan Bakrie


sudah sangat bulat. Dirinya bahkan berkali kalli untuk meyakinkan perasaanya


dengan pilihan yang sulit ini.


“Jaga anakku. Dia


hartaku satu satu nya.” Kata Bakrie Ketika mereka berada di depan tangga


pesawat. mata yang terlihat sedih itu begitu nampak. Bahkan angin yang kencang


tak bisa membuat air mata itu menghilang.


Aran mengangguk.


Kedunya berjabat tanggan sebelum Bakrie menghilang di balik pintu pesawat yang


akan lepas landas itu.


Sekarang apa?


Tinggal bagaimana menyakinkan Airin dan bicara padanya.

__ADS_1


__ADS_2