Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Ban 61


__ADS_3

"Airin, kenapa kau sangat pandai membuatku khawatir dengan mudah dan cara mu sangat efektif. Apa dia sengaja! Kalau iya, aku akui dia benar benar hebat. Menyebalkan." Kata Aran menggerutu.


Aran keluar kamar, di mana saat Airin masuk ke dalam rumah.


"Habis dari mana Airin." Kata Aran melewati nya, menuju dapur.


Mengambil minnum. Tentunya ini hanya alasan.


"Dari sama teman." Jawab Airin singkat masuk ke kamar.


Padahal Aran mencoba ingin bicara dengan nya.


Hanya bisa pasrah dengan keadaan.


"Nanti juga ada waktunya." Pikir Aran kembali ke kamarnya.


Rasanya kesal, bercampur gelisa. Menyerahkan pada waktu namun tak tahu kapan semua akan berakhir.


Waktu terus berjalan, Airin semakin banyak menghabiskan waktunya di cafe milik Endi bersama Zaka. Dan itu tanpa sepengetahuan Aran.


Aran masih berusaha memberesakan nama Airin. Berusaha hampir 1 bulan di bantu Ema., Reynad, dan Willson.


Ghana dan Shena juga kadang turut membantunya.


Aran masih memeriksa beberapa data bocor yang sampai masuk ke osis pengelola digital.

__ADS_1


Siapa yang membocorkan ini?


Ema memang bbagian penyiaran di osis namun dirinya kaget ketika mendapatkan sebaran pdf yang itu adalah peringatan kejadian sewaktu dia SMP.


"Rey, gw rasa kalau pdf nya tersebar seharusnya ada pdf lho juga, karena kallian kan berangan." Ema berfikir logis.


"Itu juga udah gw bahas barenng Wilson, makanya kecuigaan kita ini tuh yang tahu probllem Airin sam gw waktu SMP." Reynald membenarkan.


"Apa perlu gw kasih tau pak Aran." Saraan Ema.


"Sebaikanya jangan dulu deh." Wilson merasa belum saat nya.


"Kita diskusikan sama Anara duu kali yah." Ema merogoh sakunya.


"Lho ngerasa apa yang gw curigain gak sih." Willson melirik Reynald.


"Dari awal sih gw." Keduanya 1 pikiran.


"Kalian kenapa sih." Ema sedikit merinding.


Mereka segera mencari Anara. Tak menemukanya di kelas, kantin perpustakaan dan ruangan lainya.


Masing masing dari mereka menghubungi nomor ponse Anara.


"Gak diangkat juga." Reynald dengan kesal bertanya. Ema menggeleng sedih.

__ADS_1


Ada apa dengan Anara? Mengapa kawan kawan nya memburunya. Apakah berkaitan dengan kejadian yang menimpa Airin?


Aran masih berada di ruangan kepala sekolah. Masih membahas soal kejadian tersebarnya surat peringatan Airin.


"Aku sendiri tak menyangka ini bakalan segawat ini." Hartono selaku kepalla sekolah ternyata panik dengan keadaan gentin ini.


"Seharusnya ini sudah di lenyapkan dari sejak lama? Itu hanya sebuah formalitas yang menimpa Airin. Bagaimana bisa sampai kacau begini! Kallau hanya para murid mungkin masih bisa di atasi, tetapi para orang tua murid yang mengetahui hal ini mereka ada yang sampai menyewa pengacara." Hartono menjelaskan dengan penuh tekanan.


"Bahkan dewan direksi pengawasan sampai memberi peringatan langsung, aku sendiri bingung dengan masalah ini." Lanjutnya menjelaskan. "Temukan penyebarnya, kita bisa cuci tangan dengan itu."


Penjelasan dari kepala sekolah masuk akal. Cukup mencari siapa yang menyebarkan surat peringatn itu pada semua siswa dan orang tua siswa.


Sekolah yang tak pernah muridnya bermasalah dan di juluki sekolah dengan adab yang tinggi.


Tak bisa lebih lama, kalau kasus Airin sampai tak terseesaikan maka statusnya sebagai murid bermasalah dan kampus akan mempertimbangkan dengan ketat dirinya sebagai mahasiswa nantinya.


Aran harus memutar otak.


Bagaimana dengan kepindahan Airin?


Apakah ia sampai harus pindah sekolah seperti Reno.!


Aran merenung di ruanganya, pembicaraan dengan pak Hartono hanya arah tanpa adanya solusi, terlalu banyak perkiraan.


Ponselnya berdering kala itu, panggilan dari Reynald mengallihkan kecemasanya.

__ADS_1


__ADS_2