
Airin masih terbayang, bagaimana tanggapan Aran terhadapnya.
”Apa bapak gak suka musik yah.” kesal bagaimana mengingat jawabanya kala itu.
Dari kejauhan Airin melirik nakal pada Aran, yang terlihat termenung. Di ruangan yang sudah 7 kali
mereka datangi dengan hari berbeda jawabannya tetap sama.
”Kamu hebat mainya.” Tersenyum dengan kepala mengangguk.
”Wah kamu jago mainya.” tersenyum dan memberikan dua jempol.
”Hebat banget ternyata.”menganggukan kepala.
”Keren.”menganggukan kepala dan memberikan 2 jempol.
”Hebat.” tak lupa dengan anggukan kepala.
”Bagus .” tersenyum.
”Makin jago mainya.” memberikan 2 jempolnya.
Mengingat semua ucapan Aran membuat Airin kesal setenagah mati. Melintas senyuman Aran yang sama
saja dan sorot mata yang terlihat biasa.
”Apa apaan, sih pak tua sialan.” Airin menggerutu kesal. Rasanya ingin berhenti bermain musik.
Tiba tiba Airin kepikiran bagaimana kalau dirinya ikut dalam lomba TOBI.
Masih memakirkanya.
Airin masih menginta jelas ketika dia bersama dengan Reynald dan Reno saat menjadi
perwakilan o2sn tingkat SMP. Waktu mereka menjadi perwakilan terkuat yang akan
bertanding, namun karena kesalahannya yang salah dalam perhitungan cairan
membuat kelompok mereka tereliminasi.
O2sn tingkat SMP, membuat cairan yang bereaksi terhadap obat, perhituangan Airin keliru yang
berujung fatal. Akibatnya Reno, yang bertanggung jawab sebagai ketua kelompok
di eliminasi, dan sekolah pihak sekolah tak mau mengakui nya maka dengan harus
__ADS_1
memindahkan nya ke sekolah lain agar tidak mencemari nama baik sekolah. Hal itu
adalah kesalahan Airin.
Mengingat kejadian itu dirinya ragu, dan akan mengorbankan orang lain lagi. Lagi lagi Airin
menangis, untung saja ini sudah larut malam. Jadi tak akan di ketahui oleh Aran.
Mata yang sembab dan bengkak membuatnya merasa haus setelah menangis dalam diam. Dirinya
berjalan keluar dari kamar menuju dapur.
”Airin.” suara pangggilan itu membuatnya berdiri kaku. Tak menjawab nya dan segera mengambil air.
Menunggu gelasnya penuh, agar bisa segera kembali masuk kedalam kamar.
”Kamu lapar.” Aran bertanya tepat di hadapan Airin. Gadis itu menunduk sambil menggeleng.
Aran merasa aneh. Sedikit menunduk, melihat wajah Airin. Kaget melihat matanya yang sembab. Gadis
itu berlari, Aran menahan menarik pergelangan tangan Airin, membawanya masuk ke
dalam pelukan.
Airin kembali menangis, suaranya terdengar. Tangan lebar Aran mengelus kepala gadis itu
”Maaf Airin.” Aran kecewa pada dirinya sendiri. Suara gadis itu semakin kuat.
Ini pelukan layaknya pasangan sungguhan mereka yang pertama kali. Sentuhan fisik yang keduanya sadar. Aran memeluk karena merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga Airin, sementara gadis itu
merasa bersalah karena ulahnya Reno, sampai di keluarkan dari sekolah.
Malam itu membuat pasangan ini sedikit terbuka. Airin lebih dulu menceritakan masalahnya. Aran
mendengarkanya, mengamati. Keduanya bercerita di sofa depan tv. Mereka saling
memberi solusi, namun aran bukanya menceritakan kisah pilu nya terhadap Airin.
”Tapi hubungan kamu sama Reno, baik baik aja kan.” Aran sangat mengamati. Airin mengangguk.
”kita boleh menyesali perbuatan tapi gak ada hak untuk membatasi diri. Kamu termasuk clinge
dengan diri kamu sendiri.” Aran mulai bicara dengan nada serius. ” Airin kamu
enggak menindas dia, mau sampai kapan kamu mengubur kemampuanmu, dia tidak di
__ADS_1
berhentikan tapi di pindahkan. Kehidupanya masih berlanjut.” Dengan tatapan
hangat yang memberi tahu, Airin berfikir secara rasional.
Kalimat Aran tadi malam membuat Airin memutuskan apa yang harus di capainya. Jika harus
menyamakan poisisnya dengan Aran, maka dirinya harus bisa berdiri dengan bangga
dan menjadi paling menonjol.
Kali ini Airin memasang alaram dobble. Bangun tepat jam 05:40. Lekas berbenah dan segera
bersiap. Setelahnya keluar dari kamar dan membuat sarapan sebisanya.
Aran turun dari tangga ketika, Airin tengah menyeduh susu.
”Pagi sayang.” Aran menyapa tanpa sadar. Airin mengengbungkan pipinya menahan senyuman.
”Kamu ada rencana.” berjalan mendekat dan duduk di kursi untuk sarapan. Airin mengangguk
mengolesi roti Aran dengan selai kacang.
”Mau berangkat sekarang.” Aran bertanya dengan sedikit bingung.
”Ini makan dulu pak.” meletakan roti di piring Aran. Laki laki itu memakannya segera. Terlihat bagaimana
Aran khawatir, saat gadis yang laergi
itu mengoleskan selai kacang.
Senyuman Airin tak pudar bahkan saat keduanya sampai di sekolah.
Aran masih merasa heran dengan sikap Airin. Gadis remaja itu turun dari mobil dengan rona di
wajahnya.
Aran ketika memasuk ruangannya bertemu dengan Ghana.
”Pak Aran, nanti sebagai panitia olahraga ambil baju sama bu Shena.” Aran mengangguk. Dirinya
kemudian teringat dengan siswa yang akan mengikuti lomba TOBI.
Aran mempersiapkan berkasnya segera. Tanpa menunggu lama memanggil semua para siswa
yang sudah di tunjuk.
__ADS_1
10 siswa berprestasi, diantaranya Anara, Emma, Wilson, Reynal , dan Airin. Dan 5 siswa
lainya dari kelas 1 dan 2.