Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 33


__ADS_3

Perjalan pulang Airin


beberapa kali menggaruk di berbagai tempat. Bahkan sampai di rumah Aran harus


tetap memegang tangannya.


”Bahaya kalau di


garuk.” Airin hanya menatap dengan sedikit kesal.


”Apa apaan dia. Tajam


sekali hidungnya, aku kira taddi itu ciuman.”berjalan malas mengikuti langkah Aran.


”Duduk dulu, aku ambilin air.” Aran berjalan dan terus melirik Airin. Memberikan


air minum dan obat untuk segera di telan.


”Kenapa gak


ngasih tahu kalau kamu, alergi kacang kacangan.”  Aran membantu mengoles salep pada bagian yang


kemerahan. Airin menunduk tanpa bicara.


”Alergi kacang


kenapa masih di makan almond nya.” suara Aran terdengar lembut dalam keadaan


marah sekalipun.


Tangan Airin


beberapa kali mencoba menyentuh kulit yang terasa gatal.


”Bahaya.”  Aran kembali menarik tangaan Airin. Gadis itu


hanya bisa mengembungkan mulutnya.


Setelah


memberikan salep pada bagian leher, Aran kembali mengoles pada bagian are bibir


dan dagu Airin yang menyebar kemerahan paraah.


”Tahan dikit yah,


ini agak perih.” mengoles dengan lembut, dan meniupnya perlahan.


Airin menatap


wajah Araan, bahkan tak berkedip. Laki laki itu fokus memberikan salep dan


terus meniupnya. Airin tersenyum diam diam. Aran kemudian menarik wajah


sedikit, tatapan mereka bertemu, sedikit lebih lama. Sebelum Airin kembali


melepar bola matanya ke sembarang arah.


Berbeda dengan Airin


yang mencari objek ruangan, Aran terlihat menatapnya dengan hangat. Senyumanya


bahkan tidak pudar.


”Apa in sudah


selesai.” bertanya dengan kaku, sorot matanya liar.


Aran kembali


meniup bagian bibir Airin. Rasanya seperti tertangkap basa.


”Ini sudah cukup,


besok pagi kalau alerginya masih ada, obatnya di minum lagi.” Aran memasukan


obatan kedalam plastik.


”Aku akan tidur


cepat.” Airin berdiri kemudia melangkah ke kemarnya. Aran kembali bersikap


biasa. Dirinya menatap Airin yang terlihat buru buru masuk ke dalam kamar.


Tak lama Zaka


mengirimkan pesan.

__ADS_1


”Bagaimana


keadaan adik sepupuh.” Zaka memberikan emotikon khawatir.


”Dia alergi kacang almon, tapi sudah membaik.” Aran membalas seadanya.


“Baguslah. Apa


kau berencana melaporkan kasus ini ke pengadilan.” Aran membaca pesan Zaka


dengan wajah bingung. Sebelum akhirnya mengerti.


”Akan ku tutup,


selama lamanya.” Aran membalas dengan memberikan emotikon ketuk palu.


”Kemana perginya


Aran yang penyabar.” Zakaa memblasnya dengan asap menggempul..


Aran tersenyum. Dirinya menatap plastik obat,


menyimpanya di nakas. Kemudian berjalan menuju kamarnya.


Melewati malam


panjang dengan kejadian singkat yang membekas. Aran terlelap dalam pikiranya


yang terlalu berat. Entah apa yang membuatnya tak bisa tidur lebih awal.


Bangun terlalu


cepat bahkan selagi fajar belum sepenuhnya menyapa. Hari libur, Aran berencana


akan pergi karena ada urusan. Menyiapkan makanan Airin, tak lupa keterangan.


Mungkin Aran akan mengirikanya pesan nanti. Tepat jam 7 aran keluar dari rumah.


Dirinya sudah


janji akan bertemu dengan Lusi. Kakak iparnya. Di apartemen yang baru.


”Kebiasanmu yang


tidak menunda waktu, aku agak malas melakukanya.” lusi telah bersiap dengan


”Istriku jangan


di bawah kemana mana. Aku ini gak bisa jauh jauhnya darinya.” Sean keluar


menggunakan baju tidur dengan rambut berantakan.


”Dasar bucin.” Aran


hanya bisa berkata dengan kesal dan tersenyum.


”Sean, berkas kamu


aku titip sekalian sama Aran, aja yah.” lusi terlihat fokus dengan berkas yang


menumpuk.


”Iya sayang.” Sean


menjawab manis dan tersenyum pada lusi. ”Aku serahkan semuanya sama kamu.”


masih dengan senyuman hangat.


”Halah kamu pasti


gak mau repot aja kan.” Aran bersuara yang langsung di setujui lusi.


”Kamu benar.”


lusi menginyakan walau terlihat sebuk.


Sean menyepitkan


matanya menataap Aran. Laki laki itu terlihat kesal. Aran melirik jam dirinya


kemudian mengirimkan pesan padaa airin.


“Aku keluar


sebentar, sarapan mu panaskan di microwafe.” pesan Aran sedikit terlalu chesy.


”Aran kalau kamu

__ADS_1


pulangnya telat, gak apa apa.” lusi bertanya dengan rasa tak enak.


”Memangnya ada


apa kak.” Aran sedikit tak nyaman.


”Aku harus


mengantarkan beberapa laporan peninjauan ke kantor. Gak ada waktu kalau nunggu


besok.” Lusi tengah menimbang nimbang.


”Iya gak apa


apa.” Aran setuju tanpa protes.


Saat langit sudah


hampir gelap, aran segera mengantarkkan lusi kembali ke rumahnya. Tanpa rencana


untuk berlama lama.


Dirinya kembali


melaju menuju rumah, tahu Airin takut saat berada sendirian di rumah.


Membayangkanya saja membuat Aran tak tenang.


Ketika masuk ke


halaman, melihat lampu dii bagian koridor tak menyala membuat nya khawatir.


Segera masuk ke dalam rumah.


”Airin.”


panggilnya. Tak ada jawaban. Menyalakan semua lampu, berjalan menuju kamar Airin.


Mengetuk beberapa


kali. ”Airin.” panggilnya tak ada jawaban. Membuka pintunya perlahan.


”Tak meligat Airin


ketika berada di kamar, memeriksa kamar mandi. Mengelurkan ponselnya dan


memanggil.


Beberapa saat


belum di angkat. Sebelum mendengar suara mobil kemudian melihat dari jendela.


Airin keluar dari


mobil. Aran terlihat khawatir berjalan menuju pintu.


”Dari mana.” Aran


bertanya ketika airin baru masuk.


”Abis main sama


teman.” Airin sedikit merasa aneh, melepaskan dengan perlahan.


”Kamu baca pesan


aku gak.” Aran mulai mengintrogasinya.


”Iya.” Airin


mengangguk. Berjalan dengan rasa kaku.


”Kenapa gak


bilang kalau kamu keluar.” Aran menahan amarahnya.


”Sebenarnya aku


mau ngechat, tapi lupa.” Airin melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya.


Aran


memperhatikan dengan perasaan aneh.


Dirinya mengunci


pintu kembali berjalan ke dalam kamarnya di lantai atas.

__ADS_1


__ADS_2