
Perjalan pulang Airin
beberapa kali menggaruk di berbagai tempat. Bahkan sampai di rumah Aran harus
tetap memegang tangannya.
”Bahaya kalau di
garuk.” Airin hanya menatap dengan sedikit kesal.
”Apa apaan dia. Tajam
sekali hidungnya, aku kira taddi itu ciuman.”berjalan malas mengikuti langkah Aran.
”Duduk dulu, aku ambilin air.” Aran berjalan dan terus melirik Airin. Memberikan
air minum dan obat untuk segera di telan.
”Kenapa gak
ngasih tahu kalau kamu, alergi kacang kacangan.” Aran membantu mengoles salep pada bagian yang
kemerahan. Airin menunduk tanpa bicara.
”Alergi kacang
kenapa masih di makan almond nya.” suara Aran terdengar lembut dalam keadaan
marah sekalipun.
Tangan Airin
beberapa kali mencoba menyentuh kulit yang terasa gatal.
”Bahaya.” Aran kembali menarik tangaan Airin. Gadis itu
hanya bisa mengembungkan mulutnya.
Setelah
memberikan salep pada bagian leher, Aran kembali mengoles pada bagian are bibir
dan dagu Airin yang menyebar kemerahan paraah.
”Tahan dikit yah,
ini agak perih.” mengoles dengan lembut, dan meniupnya perlahan.
Airin menatap
wajah Araan, bahkan tak berkedip. Laki laki itu fokus memberikan salep dan
terus meniupnya. Airin tersenyum diam diam. Aran kemudian menarik wajah
sedikit, tatapan mereka bertemu, sedikit lebih lama. Sebelum Airin kembali
melepar bola matanya ke sembarang arah.
Berbeda dengan Airin
yang mencari objek ruangan, Aran terlihat menatapnya dengan hangat. Senyumanya
bahkan tidak pudar.
”Apa in sudah
selesai.” bertanya dengan kaku, sorot matanya liar.
Aran kembali
meniup bagian bibir Airin. Rasanya seperti tertangkap basa.
”Ini sudah cukup,
besok pagi kalau alerginya masih ada, obatnya di minum lagi.” Aran memasukan
obatan kedalam plastik.
”Aku akan tidur
cepat.” Airin berdiri kemudia melangkah ke kemarnya. Aran kembali bersikap
biasa. Dirinya menatap Airin yang terlihat buru buru masuk ke dalam kamar.
Tak lama Zaka
mengirimkan pesan.
__ADS_1
”Bagaimana
keadaan adik sepupuh.” Zaka memberikan emotikon khawatir.
”Dia alergi kacang almon, tapi sudah membaik.” Aran membalas seadanya.
“Baguslah. Apa
kau berencana melaporkan kasus ini ke pengadilan.” Aran membaca pesan Zaka
dengan wajah bingung. Sebelum akhirnya mengerti.
”Akan ku tutup,
selama lamanya.” Aran membalas dengan memberikan emotikon ketuk palu.
”Kemana perginya
Aran yang penyabar.” Zakaa memblasnya dengan asap menggempul..
Aran tersenyum. Dirinya menatap plastik obat,
menyimpanya di nakas. Kemudian berjalan menuju kamarnya.
Melewati malam
panjang dengan kejadian singkat yang membekas. Aran terlelap dalam pikiranya
yang terlalu berat. Entah apa yang membuatnya tak bisa tidur lebih awal.
Bangun terlalu
cepat bahkan selagi fajar belum sepenuhnya menyapa. Hari libur, Aran berencana
akan pergi karena ada urusan. Menyiapkan makanan Airin, tak lupa keterangan.
Mungkin Aran akan mengirikanya pesan nanti. Tepat jam 7 aran keluar dari rumah.
Dirinya sudah
janji akan bertemu dengan Lusi. Kakak iparnya. Di apartemen yang baru.
”Kebiasanmu yang
tidak menunda waktu, aku agak malas melakukanya.” lusi telah bersiap dengan
”Istriku jangan
di bawah kemana mana. Aku ini gak bisa jauh jauhnya darinya.” Sean keluar
menggunakan baju tidur dengan rambut berantakan.
”Dasar bucin.” Aran
hanya bisa berkata dengan kesal dan tersenyum.
”Sean, berkas kamu
aku titip sekalian sama Aran, aja yah.” lusi terlihat fokus dengan berkas yang
menumpuk.
”Iya sayang.” Sean
menjawab manis dan tersenyum pada lusi. ”Aku serahkan semuanya sama kamu.”
masih dengan senyuman hangat.
”Halah kamu pasti
gak mau repot aja kan.” Aran bersuara yang langsung di setujui lusi.
”Kamu benar.”
lusi menginyakan walau terlihat sebuk.
Sean menyepitkan
matanya menataap Aran. Laki laki itu terlihat kesal. Aran melirik jam dirinya
kemudian mengirimkan pesan padaa airin.
“Aku keluar
sebentar, sarapan mu panaskan di microwafe.” pesan Aran sedikit terlalu chesy.
”Aran kalau kamu
__ADS_1
pulangnya telat, gak apa apa.” lusi bertanya dengan rasa tak enak.
”Memangnya ada
apa kak.” Aran sedikit tak nyaman.
”Aku harus
mengantarkan beberapa laporan peninjauan ke kantor. Gak ada waktu kalau nunggu
besok.” Lusi tengah menimbang nimbang.
”Iya gak apa
apa.” Aran setuju tanpa protes.
Saat langit sudah
hampir gelap, aran segera mengantarkkan lusi kembali ke rumahnya. Tanpa rencana
untuk berlama lama.
Dirinya kembali
melaju menuju rumah, tahu Airin takut saat berada sendirian di rumah.
Membayangkanya saja membuat Aran tak tenang.
Ketika masuk ke
halaman, melihat lampu dii bagian koridor tak menyala membuat nya khawatir.
Segera masuk ke dalam rumah.
”Airin.”
panggilnya. Tak ada jawaban. Menyalakan semua lampu, berjalan menuju kamar Airin.
Mengetuk beberapa
kali. ”Airin.” panggilnya tak ada jawaban. Membuka pintunya perlahan.
”Tak meligat Airin
ketika berada di kamar, memeriksa kamar mandi. Mengelurkan ponselnya dan
memanggil.
Beberapa saat
belum di angkat. Sebelum mendengar suara mobil kemudian melihat dari jendela.
Airin keluar dari
mobil. Aran terlihat khawatir berjalan menuju pintu.
”Dari mana.” Aran
bertanya ketika airin baru masuk.
”Abis main sama
teman.” Airin sedikit merasa aneh, melepaskan dengan perlahan.
”Kamu baca pesan
aku gak.” Aran mulai mengintrogasinya.
”Iya.” Airin
mengangguk. Berjalan dengan rasa kaku.
”Kenapa gak
bilang kalau kamu keluar.” Aran menahan amarahnya.
”Sebenarnya aku
mau ngechat, tapi lupa.” Airin melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya.
Aran
memperhatikan dengan perasaan aneh.
Dirinya mengunci
pintu kembali berjalan ke dalam kamarnya di lantai atas.
__ADS_1