
Bakrie tengah mempersiapkan pasport nya untuk ke Swish. Dirinya di temani oleh Amanda, sekertaris utusan dari kelurga Amerta.
“Apa ini semua sudah sesuai dengan prosedur.” Suara yang terdengar memastikan
“Apa masih ada yang kau butuhkan." kalimat yang cukup bagi Bakrie ketika mendengarnya. Itu sangat jelas dan mengimintidasi.
Bangunan klasic tua di era modern, penambahan beberapa lukisan dan pohon sungguhan di beberapa
sudut ruangan menjadi saksi betapa kaya nya pak Themi. Sampai menyewa seorang dokter lulusan terbaik universitas ternama selama 3 tahun.
“Aku akan secepatnya membuat Airin menikah lebih dulu.” nada ucapann yang begitu yakin.
Keduanya berjalan keluar dari ruangan setelah menanda tangi beberapa berkas dan proses penerbangannya ke luar negeri. Selebihnya Pasport bagian Amanda yang mengurusnya.
”Aku akan kembali dalam beberapa waktu mendekat. Hal itu bisa jadi lebih lambat bisa juga menjadi terlalu cepat.” ucapan yang mudah di pahami Bakrie.
Setelah pertemuanya Amanda yang singkat, Bakrie segera melaju ke rumah Madi. Mereka telah melakukan perbincangan untuk berjumpa dari jauh hari sebelumnya.
“Selamat datang bakrie, setelah 10 tahun tak bertemu, rasanya aku begitu merindukan mu.” Kata
Ahmadi memeluk erat sahabatnya itu
“Jangan lah kau tanya aku, jelas aku begitu meridukan masa masa kita dulu.” Kata bakrie setelah keduanya berpelukan.
Selebihnya tawa menggelegar di ruangan. “Duduklah dulu, akan ku panggil Anna.”
Mempersilahkan “ Anna, keluarkan kopi terbaikmu! Sambutlah sahabatku Bakrie
ini. Jamukan makanan yang istimewa.” Suara Madi berteriak dengan lembut
Usai berkata, seorang wanita yang tidak lagi muda namun tetap terlihat mempesona itu menampakan
diri. Senyuman yang memabukan itu benar benar, lukisan indah tuhan pada Wanita
yang sudah memiliki anak dewasa.
“Ka, Bakrie lama tak jumpa.” Sapa hangat. Dirinya tersenyum dengan membawa nampan berisi dua
cangkir dengan aroma kopi.
Bakrie membalas senyuman seadanya.
“Kau buatlah makanan yang enak Anna, tak elok rasanya sahabatku tak ku hidangkan makanan.”
Kata Madi dengan wajah penuh bahagia.
__ADS_1
Anna mengangguk patuh lalu Kembali tanpa mendapat sepatah kata pun dari bakrie.
“Aran.” Panggil Madi. “Sini biar ku kenalkan pada sahabat papa. Bakrie namanya.” Kata Madi.
Aran lekas duduk berhadapan diantara Bakrie dan Madi.
“Jadi inilah sahabat papa yang anaknya akan menikah dengan mu.” berkata terlampau gembira.
Aran tersenyum. Dirinya bahkan sudah berulang kali menolak ucapan Madi. Sejak Aran masih berada
di jakarta sedang melanjutkan s2 dirinya harus pulang karena permintaan sang ibu.
Aran yang tak mau terlalu membebani kedua orang tuannya! Dengan terpaksa harus berpisah dari kekasihnya
yang berada di jakarta.
Aran diam. Terlalu kaku untuk berkata.
“Pacarmu yang di jakarta itu putuskan saja.” ucapan itu terdengar egosi.
“Aran memiliki kekasih.? Tanya Bakrie dengan wajah tak enak.
“Iyya. Kekasih yang orang jakarta itu, belum mau menikah, padahal mereka sudah berpacaran hampir 6 tahun lamanya.” kalimat yang jelas singkat dan padat.
“Sementara kau tahu sendiri kalau Sean, menikah 3 tahun tapi belum juga memiliki anak. Aku
Bakrie terdiam. Kalimat bagaimana yang harus di ucapkan? Suasanannya terasa aneh.
“Ayo minum kopi khas buatan Anna ini.” menghirup aroma kopi dengan penuh nikmat terlihat dari keduanya punya kebaiasan yang sama.
”Rupaya kebiasaan kita masih sama yeah.” suara tawa membuat mereka bernostalgia masa lalu.
“Jadi nak Aran, kedatangan saya ke sini karena dulu saya dan papah mu berjaji akan menikahkan
anak kami, kalau mereka sepasang perempuan dan laki laki.” Bakrie memegang ponselnya untuk beberapa saat.
”Kau bisa melihatnya dulu.” menyerahkan ponsel pada Aran, di layarnya terdapat foto
Airin.
”Ah, tak perlu di perlihatkan, aku tahu Airin anak yang cantik. Terlebih dia anak Anne.” Madi
terlihat tanpa penolakan pada calon menantunya.
“Aku hanya mempercayakan anakku padamu. Di tanganmu.” Ada harapan besar di balik kalimat ini.
__ADS_1
“Dia umur berapa.” Tanya Aran menatap layar ponsel.
Bakrie tersenyum. ”Dia baru naik kelas 1 SMA.” mencoba menerima respon Aran
“Mungkin papa mu sudah memberitahukan alasanya padamu. Hanya 3 tahun, setelah itu aku menjemputnya." Kalimat Itu seperti pisau yang membelah daging.
“Hanya 3 tahun perjanjiannya selesai.” wajah Aran tak kalah serius. Antara sanggup dan ragu ragu.
”Kau tetang saja Bakrie, akan aku jaga dia dan tidak akan sampai di ceraikan.” Madi terdengar
serius dengan nada bercanda.
“Hidanganya sudah siap. Kalian sudah di tunggu meja makan.” suara Anna memecah ketegangan
diantara mereka.
Aran berjalan bersama papahnya lebih dulu.
“What this things love.” Wajah Bakrie terlihat menyapa.
Ucapan Bakrie membuat langkah Anna berhenti.
“Aku menemukan kebahagianku. Dan itu memang cukup sulit di awal tapi aku berhasil.” melirik
Bakrie dengan ekor matanya, tanpa berbalik
Bakrie menyeringai.
“Aku harap Aran juga begitu.” Bakrie berkata dengan nada harapan.
“Jangan membahas masa lalu, kita sudah terlalu tua untuk persoalkan masalah cinta. Kita bukan
anak muda lagi.” Kata Anna.
“Its not love.” Ucap bakrie.
“Apapun masalahmu, jangan bawa cinta abadi ku dengan Ahmadi! Aku mencintanya sekarang.”
Anna berkata dengan mata yang berkaca kaca sebelum pergi lebih dulu.
Cihh.
“Cinta abadi. Tai kucing.” Bakrie menggerutu. Dirinya Kembali melangkah masuk. Untuk menikmati makanan yang sudah di sajikan.
Makan bersama. Mengobrol sedikit dengaan pembicaraan yang santai. Sebelum panggilan ponsel Bakrie
__ADS_1
terdengar.
“Anggkat saja. Tidak apa apa.” suara itu terdengar santai.