Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 12


__ADS_3

Airin masih belum


berani minum, dirinya hanya memesan lecy squas, sebagai Pelepas dehaga.


Sementara Anara dan Emma benar benar minum alcohol bersama 2 lainya teman


sekelas mereka.


Airin pergi ke


kamar mandi, bau alcohol sedikit menggangu penciumanya. Berada di toilet wanita


membuatnya merasa aman. Sampai dirinya mendengar suara ******* dari seorang


Wanita. Setelah Airin memperhatikan sekitar ternyata kalau di samping toiletnya


ada sepasang kekasih yang tengah melakukan hubungan terlarang. Namun entahlah.


Airin ingin


segera keluar, tak tahan dengan dengan suara wanita yang terdengar begitu


kehabisan nafas. Niat ingin bernafas sejenak malah mendapat hal yang lebih parah.


Saat akan keluar


dari kamar mandi Airin bertemu dengan laki laki yang memakai pakaian serba


hitam, bahkan wajahnya tak nampak. Dirinya merasa ketakutan. Terlihat dari


caranya berjalan sampai menendang tong sampah.


Auhh itu pasti


sakit, dan akan menimbulkan bekas. Bukan! Rasa khawatir Arin membuantnya tak


nyamaan.


“Guys, balik


yok.” dari wajahnya terlihat tak ada mimik senang.


“Eh, lho itu anak


Tk apa.” Kata Emma setengah sadar.


“Nar, sadar


donk.” Airin terlihat benar benar tak nyaman. “Anara.” Airin berteriak.


Diantara mereka


menatapnya asal suara. Beberapa saat dirinya jadi pusat perhatian.


“Rin, lho kenapa


sih? Apa yang lho khawatirin.” Kata Emma dengan rasa kesal pada Airin.


“Ngebut pliss.”


kecemasa Airin membuatnya terlihat ketakutan.


“Ini juga aku


ngebut, cuman gw takut kalau lebih ngebut lagi.  Masih sayang nyaewa gue” Kata Emma.


Airin terus

__ADS_1


terusan melihat jam di ponselnya. Waktu terus berjalan, perasaanya semakin


cemas.


”What happen.”


Anara memperhatikan wajjah airin yang penuh ketakutan. Airin menggeleng cemas.


“Guys tangks


yeah.” Ucapaan Airin kala mobil Emma berhenti di depan rumahnya.


Airin mencoba


membuka pintu dengan pelan. Berharap kalau pak Aran sudah tertidur.


Airin


menghidupkan layer ponselnya lalu melihat kearah sofa.


Gawat.


Aran tak berada


di sofa. Jangan bilang klau aran keluar, Airin tak mau berada di rumah sendiri.


Karena aran mematikan lampu di ruang tengah, hal itu membuat Airin parno.


Dirinya berlari masuk ke dalam kamar.


Namun demi apa,


ponselnya jatuh dan kondisi kamat gelap gulita.


Airin berteriak,


lantai yang bisa di gapainya. Seingat Airin dirinya tak akan pernah mematikan


lampu sampai gelap. Seharusnya lampu tidurnya menyala.


Suara Airin


terdengar gemetar, tangisnya yang semakin menjadi


“Dad,  I am to be


scary.” Airin menggerutu.


“Pak Aran, bapak


di mana.” suara Airin memanggil dengan sedih. Ketakutan penuh menyelimuti


jiwanya.


Langkah kaki


terdengar dari suara tangga. Dan layar ponsel menyela yang mendekati Airin.


”Airin.” Aran


memanggil dari jauh. Tangis Airin pecah ketika suara Aran terdengar.  Mendekat pada tubuh yang gadis yang


ketakutan.


”Hey gak apa


apa.” Aran mencoba menghibur. Merangkul Airin dan membawa ke sofa

__ADS_1


Hendak berdiri


setelah Airin duduk, tapi tangan Aran di gengam kuat. Hal itu membuat Aran ikut


duduk di sebelah Airin. Sorot mata nya mengatakan jangan meninggalkanya.


Tubuhnya terasa dingin dan berkeringat. Dia tahu kalau sekarang gadis ini


sangat ketakutan.


Tangan Aran


menyeka keringat Airin dengan kelembutan. Setelah itu menutupi tubuh Airin dengan


kain bulu yang khusus di sofa.


Menepuk pundaknya


bebepa saat sampai Aran bertanya.“Mau minum sesuatu.” Tawar Aran.


Aran melepaskan


tangan Airin yang memegang erat dirinya secara perlahan. Kemudia meninggalkan


Airin beberapa saat. Dirinya Kembali dengan segelas susu hangat.


“k


Kamu minum dulu.


” Aran membangunkan Airin. “Ini hangat ko.” kali ini suara Aran terdengar


lembut.


“Maaf yah, aku


gak tahu kamu takut gelap.” suara Aran terlanjut lembut, dirinya bahkan merasa


bersalah.


Airin


mengengguk.wajahnya merona. ”Mau pindah di kamar aja.” tawar Aran melihat


Airin telah menghabiskan susunya.


Airin dengan


wajah yang imut kembali mengangguk. ”Bisa jalan.” tanya aran khawatir. Dengan wajah di tekuk Airin mencoba berdiri.


Melirik gelas


susu yang di buatkanya. Aran berjalan menyimpan Kembali gelas susu tadi ke


dapur. Dirinya Kembali lagi lagi dengan membawa minyak oles.


Aran menyikap


selimut yang menutupi kaki Airin, jelas di sana juga terlihat ada memar. Saat


Aran menyentuhnya, Airin sedikit meringis.


”Benarkan ini


pasti terasa sakit.”  tangnya pindah ke


bagian telapak dan tak menyentuh pergelangaan kaki yang memar itu

__ADS_1


__ADS_2