
Airin masih belum
berani minum, dirinya hanya memesan lecy squas, sebagai Pelepas dehaga.
Sementara Anara dan Emma benar benar minum alcohol bersama 2 lainya teman
sekelas mereka.
Airin pergi ke
kamar mandi, bau alcohol sedikit menggangu penciumanya. Berada di toilet wanita
membuatnya merasa aman. Sampai dirinya mendengar suara ******* dari seorang
Wanita. Setelah Airin memperhatikan sekitar ternyata kalau di samping toiletnya
ada sepasang kekasih yang tengah melakukan hubungan terlarang. Namun entahlah.
Airin ingin
segera keluar, tak tahan dengan dengan suara wanita yang terdengar begitu
kehabisan nafas. Niat ingin bernafas sejenak malah mendapat hal yang lebih parah.
Saat akan keluar
dari kamar mandi Airin bertemu dengan laki laki yang memakai pakaian serba
hitam, bahkan wajahnya tak nampak. Dirinya merasa ketakutan. Terlihat dari
caranya berjalan sampai menendang tong sampah.
Auhh itu pasti
sakit, dan akan menimbulkan bekas. Bukan! Rasa khawatir Arin membuantnya tak
nyamaan.
“Guys, balik
yok.” dari wajahnya terlihat tak ada mimik senang.
“Eh, lho itu anak
Tk apa.” Kata Emma setengah sadar.
“Nar, sadar
donk.” Airin terlihat benar benar tak nyaman. “Anara.” Airin berteriak.
Diantara mereka
menatapnya asal suara. Beberapa saat dirinya jadi pusat perhatian.
“Rin, lho kenapa
sih? Apa yang lho khawatirin.” Kata Emma dengan rasa kesal pada Airin.
“Ngebut pliss.”
kecemasa Airin membuatnya terlihat ketakutan.
“Ini juga aku
ngebut, cuman gw takut kalau lebih ngebut lagi. Masih sayang nyaewa gue” Kata Emma.
Airin terus
__ADS_1
terusan melihat jam di ponselnya. Waktu terus berjalan, perasaanya semakin
cemas.
”What happen.”
Anara memperhatikan wajjah airin yang penuh ketakutan. Airin menggeleng cemas.
“Guys tangks
yeah.” Ucapaan Airin kala mobil Emma berhenti di depan rumahnya.
Airin mencoba
membuka pintu dengan pelan. Berharap kalau pak Aran sudah tertidur.
Airin
menghidupkan layer ponselnya lalu melihat kearah sofa.
Gawat.
Aran tak berada
di sofa. Jangan bilang klau aran keluar, Airin tak mau berada di rumah sendiri.
Karena aran mematikan lampu di ruang tengah, hal itu membuat Airin parno.
Dirinya berlari masuk ke dalam kamar.
Namun demi apa,
ponselnya jatuh dan kondisi kamat gelap gulita.
Airin berteriak,
lantai yang bisa di gapainya. Seingat Airin dirinya tak akan pernah mematikan
lampu sampai gelap. Seharusnya lampu tidurnya menyala.
Suara Airin
terdengar gemetar, tangisnya yang semakin menjadi
“Dad, I am to be
scary.” Airin menggerutu.
“Pak Aran, bapak
di mana.” suara Airin memanggil dengan sedih. Ketakutan penuh menyelimuti
jiwanya.
Langkah kaki
terdengar dari suara tangga. Dan layar ponsel menyela yang mendekati Airin.
”Airin.” Aran
memanggil dari jauh. Tangis Airin pecah ketika suara Aran terdengar. Mendekat pada tubuh yang gadis yang
ketakutan.
”Hey gak apa
apa.” Aran mencoba menghibur. Merangkul Airin dan membawa ke sofa
__ADS_1
Hendak berdiri
setelah Airin duduk, tapi tangan Aran di gengam kuat. Hal itu membuat Aran ikut
duduk di sebelah Airin. Sorot mata nya mengatakan jangan meninggalkanya.
Tubuhnya terasa dingin dan berkeringat. Dia tahu kalau sekarang gadis ini
sangat ketakutan.
Tangan Aran
menyeka keringat Airin dengan kelembutan. Setelah itu menutupi tubuh Airin dengan
kain bulu yang khusus di sofa.
Menepuk pundaknya
bebepa saat sampai Aran bertanya.“Mau minum sesuatu.” Tawar Aran.
Aran melepaskan
tangan Airin yang memegang erat dirinya secara perlahan. Kemudia meninggalkan
Airin beberapa saat. Dirinya Kembali dengan segelas susu hangat.
“k
Kamu minum dulu.
” Aran membangunkan Airin. “Ini hangat ko.” kali ini suara Aran terdengar
lembut.
“Maaf yah, aku
gak tahu kamu takut gelap.” suara Aran terlanjut lembut, dirinya bahkan merasa
bersalah.
Airin
mengengguk.wajahnya merona. ”Mau pindah di kamar aja.” tawar Aran melihat
Airin telah menghabiskan susunya.
Airin dengan
wajah yang imut kembali mengangguk. ”Bisa jalan.” tanya aran khawatir. Dengan wajah di tekuk Airin mencoba berdiri.
Melirik gelas
susu yang di buatkanya. Aran berjalan menyimpan Kembali gelas susu tadi ke
dapur. Dirinya Kembali lagi lagi dengan membawa minyak oles.
Aran menyikap
selimut yang menutupi kaki Airin, jelas di sana juga terlihat ada memar. Saat
Aran menyentuhnya, Airin sedikit meringis.
”Benarkan ini
pasti terasa sakit.” tangnya pindah ke
bagian telapak dan tak menyentuh pergelangaan kaki yang memar itu
__ADS_1