
Dari luar Aran
menyuruh Airin keluar. Namun gadis itu terlihat mengalihkan pandangnya dengan
wajah cemberut. Aran tersenyum dengan tingkah Airin, layaknya anak kecil.
Dirinya bergerak membuka pintu.
”Aku jelaskan,
tapi ayok turun.” Airin setuju dengan negosiasinya. Keduanya berjalan ke depan
mobil. Di mana Airin bersandar melihat pemadangan.
”Nih.” Aran
memberikanya minuman susu kedelai. Airin mengambilnya, sementara melirik
minuman Aran yang bersoda.
”Aku sama kakanya
Reno temenan, dia dulu sering main ke rumah, tapi pas aku kuliah di JJakarta jadi
jarang banget ketemuan. Kakanya sedang berada di Batam dan akan kembali ke jakarta
menetap di sana” Jelas Aran dengan tetap tersenyum. Ucapan Aran masuk akal
”Jadi bapak jadi
dekat laggi sama Reno.” Airin dengan entangnya berkata. senyuman Aran terlihat
kaku. Meneguk minumanya segera.
”Kalau kamu.”
tanya Aran kemballi dengan penasaran.
”Waktu SMP kami deket
banget. Dia juga sering jemput, dan sama papah di bolehin kalau pergi mainya
sama dia. Tapi pas dia tamat SMP pindah ke Bandung jadi jarang komikasih.” Airin
dengan Wajah sedikit dilema, mengingat kebersamaan mereka.
”Berdua doank.” Aran
menatap dengan mata yang sayu.
”Enggak! Ada Anara,
dan Reynald. Kami kami berempat.” Airin menatap minuman Aran yang terlihat
menggiurkan. Lelaki itu merasa sedikit lega. Kembali meneguk minumanya.
Airin melangkah
ketempat di mana Aran menata cemilanya. ”Ini di mana, tempatnya bagus sekali.” Menyadari
pemandangan alam di hadapanya.
”Kamu suka
tempatnya.” Aran terus memperhatikan Airin. Gadis itu mengangguk.
”Nanti kalau ke Bandung
lagi kita kesini.” Aran ikut memandangi alam yang terasa sejuk.
”Janji yah pak.” Airin
segera mengambil beberapa gambar pemadanganya. Aran pun ikut mengambil potret.
keduanya foto berdua di ponsel milik Aran. Memakan cemilan sambil bercerita
random sebelum mereka kembali ke rumah.
3 hari setelah
berada di bandung membuat Airin merasa nyaman. Keluarga lengkap yang hangat, dan
bertukar cerita di meja makan adalah suasana yang paling istimewa.
Mendekati meja
makan Airin tak melihat Aran sama sekali.
”Pak Aran mana
__ADS_1
mah.” tanya Airin melirik sekitar.
”Dia gak ngasih
tau kamu.” kata Anna mengambilkan lauk Airin. Gadis ittu menggeleng.
”Aran sama ka Lusi
balik ke Jakarta pagi tadi, mendadak.” sahut Sean.
”Pulangnya juga
sebentar, mereka naik pesawat kok.” Anna menambahkan. Airin membuka ponselnya
ternyata Aran mengirmkanya pesan.
”Jangan lupa ikut
sarapan pagi, aku sengaja tidak membangunkanmu.” Isi pesan Aran membuat bola
mata Airin sedikit kesal.
”Kau mau kaka antar
jalan jalan.”ttawar Aean. Airin menggeleng kaku.
”Permisi om, tante.”
suara yang sangat di kenal Airin menghampiri mereka sampai di meja makan
”Reno.” Ahmadi tersenyum
memanggil.
”Ayok makan.”
tawar Anna.
”Iyya tante, tapi
aku ke sini mau ajak Airin keluar.” semua mata menatap Airin yang saat itu tengah
makan. Airin kembali menatap mereka dengan tatapan polosnya.
”Sebentar aku
dirinya keluar dengan baju setelan yang imut. Sean kembali tertawa melihat
penampilan Airin kala mengingat Aran.
”Sean.” Ahmadi
menatap Sean tajam. Setelah mengizinkan kedua remaja itu pergi wajah mereka
terlihat khawatir.
“Jangan di kasih
tahu Aran mah.” kata Sean terdengar serius.
”Aran bilang
kemarin mereka bertemu di supermarket. Reno teman sekelas Airin waktu SMP.” Sean
merasa cemas.
”Mama takutnya
dia cerita macem macem soal Adinda sama Airin.” Anna sangat khawatir dan cemas.
”Seharusnya sih
enggak, Aran bilang kalau Airin itu sepupuh dari mama.” Sean menjelaskan dengan
sedikit rinci.
”Adinda memangnya
kapan balik ke Jakartanya.” tanya Ahmadi masih dengan ponselnya yang sibuk.
”Lusi sama Aran
berginya barengan karena Adinda bakal balik ke apartemennya yang di Jakarta.
Aran mau mengemasi beberapa yang masih ketinggalan.” Sean mengambil ponselanya
menghubungi lusi.
”Ya hallo.” suara
__ADS_1
Lusi terdengar jelas.
”Kamu udah
sampai, belom.” ke tiga orang yang tengah makan itu terlihat khawatir.
”Ini lagi beres
beres. Ada apa.” tanya Lusi yang membuat Anna menyuruh Sean segera bertanya
soal Aran.
”Aran di mana.”
”Keluar beli
makan.”
”kalian baliknya
jam berapa.”
” kayaknya
setengah jam lagi deh” jawab Lusi setelah melirik jam.
”Adinda belum
nyampe.” Sean sedikit penasaran.
”harusnya sudah
di bandaran sekarang.”
”Aran gak pergi jemput.”
pertanyaan Sean membuat Anna menjitak kepalanya.
”Gak tahu juga
sih, soalnya di perjalanan tadi Aran kayaknya mengabari seseorang deh, mungkin Adinda.” jelas Lusi yang masih masa
bodo.
”Yaudah. Kamu
hati hati.” Sean menutup panggilanya.
Suana menjadi
sedikit lega, setidaknya saat Aran sampai di bandung Airin sudah berada di
rumah.
Kedua remaja yang
berada di cafe dengan tema kopi itu terlihat sedang asik bercanda. Mereka bahkan terdengar bercerita masa
lalu yang seru.
”Aku mau ajak
kamu ke kebun buah mau gak.” tawar Reno dengan semangat. Airin mengguk. Mereka
berjalan menuju kebun strobery sekitar 1 kl meter dari temat sekarang.
Sampainya di sana
Reno membayar tiket masuk. Mereka berjalan diantara ratusan buah strobery yang
beragam.
”Jangan makan yang
itu.” Reno mengambil buah dari tangan Airin ketika akan di masukan ke dalam
mulutnya. ”Yang ini, aku udah sering ke sini jadi tau mana yang asem sama
enggak.” Reno berkata dengan yakin. Airin memakannya segera. Gadis itu terus
menerus memakan buah tanpa henti.
Buah strobery
yang besar akan sekali masuk ke dalam mulutnya sementara yang kecil akan masuk
sampai 3. Reno tersenyum memperhatikan Airin sibuk memilih stobery dan langsung
melahapnya.
__ADS_1