Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 26


__ADS_3

Dari luar Aran


menyuruh Airin keluar. Namun gadis itu terlihat mengalihkan pandangnya dengan


wajah cemberut. Aran tersenyum dengan tingkah Airin, layaknya anak kecil.


Dirinya bergerak membuka pintu.


”Aku jelaskan,


tapi ayok turun.” Airin setuju dengan negosiasinya. Keduanya berjalan ke depan


mobil. Di mana Airin bersandar melihat pemadangan.


”Nih.” Aran


memberikanya minuman susu kedelai. Airin mengambilnya, sementara melirik


minuman Aran yang bersoda.


”Aku sama kakanya


Reno temenan, dia dulu sering main ke rumah, tapi pas aku kuliah di JJakarta jadi


jarang banget ketemuan. Kakanya sedang berada di Batam dan akan kembali ke jakarta


menetap di sana” Jelas Aran dengan tetap tersenyum. Ucapan Aran masuk akal


”Jadi bapak jadi


dekat laggi sama Reno.” Airin dengan entangnya berkata. senyuman Aran terlihat


kaku. Meneguk minumanya segera.


”Kalau kamu.”


tanya Aran kemballi dengan penasaran.


”Waktu SMP kami deket


banget. Dia juga sering jemput, dan sama papah di bolehin kalau pergi mainya


sama dia. Tapi pas dia tamat SMP pindah ke Bandung jadi jarang komikasih.” Airin


dengan Wajah sedikit dilema, mengingat kebersamaan mereka.


”Berdua doank.” Aran


menatap dengan mata yang sayu.


”Enggak! Ada Anara,


dan Reynald. Kami kami berempat.” Airin menatap minuman Aran yang terlihat


menggiurkan. Lelaki itu merasa sedikit lega. Kembali meneguk minumanya.


Airin melangkah


ketempat di mana Aran menata cemilanya. ”Ini di mana, tempatnya bagus sekali.” Menyadari


pemandangan alam di  hadapanya.


”Kamu suka


tempatnya.” Aran terus memperhatikan Airin. Gadis itu mengangguk.


”Nanti kalau ke Bandung


lagi kita kesini.” Aran ikut memandangi alam yang terasa sejuk.


”Janji yah pak.” Airin


segera mengambil beberapa gambar pemadanganya. Aran pun ikut mengambil potret.


keduanya foto berdua di ponsel milik Aran. Memakan cemilan sambil bercerita


random sebelum mereka kembali ke rumah.


3 hari setelah


berada di bandung membuat Airin merasa nyaman. Keluarga lengkap yang hangat, dan


bertukar cerita di meja makan adalah suasana yang paling istimewa.


Mendekati meja


makan Airin tak melihat Aran sama sekali.


”Pak Aran mana

__ADS_1


mah.” tanya Airin melirik sekitar.


”Dia gak ngasih


tau kamu.” kata Anna mengambilkan lauk Airin. Gadis ittu menggeleng.


”Aran sama ka Lusi


balik ke Jakarta pagi tadi, mendadak.” sahut Sean.


”Pulangnya juga


sebentar, mereka naik pesawat kok.” Anna menambahkan. Airin membuka ponselnya


ternyata Aran mengirmkanya pesan.


”Jangan lupa ikut


sarapan pagi, aku sengaja tidak membangunkanmu.” Isi pesan Aran membuat bola


mata Airin sedikit kesal.


”Kau mau kaka antar


jalan jalan.”ttawar Aean. Airin menggeleng kaku.


”Permisi om, tante.”


suara yang sangat di kenal Airin menghampiri mereka sampai di meja makan


”Reno.” Ahmadi tersenyum


memanggil.


”Ayok makan.”


tawar Anna.


”Iyya tante, tapi


aku ke sini mau ajak Airin keluar.” semua mata menatap Airin yang saat itu tengah


makan. Airin kembali menatap mereka dengan tatapan polosnya.


”Sebentar aku


dirinya keluar dengan baju setelan yang imut. Sean kembali tertawa melihat


penampilan Airin kala mengingat Aran.


”Sean.” Ahmadi


menatap Sean tajam. Setelah mengizinkan kedua remaja itu pergi wajah mereka


terlihat khawatir.


“Jangan di kasih


tahu Aran mah.” kata Sean terdengar serius.


”Aran bilang


kemarin mereka bertemu di supermarket. Reno teman sekelas Airin waktu SMP.” Sean


merasa cemas.


”Mama takutnya


dia cerita macem macem soal Adinda sama Airin.” Anna sangat khawatir dan cemas.


”Seharusnya sih


enggak, Aran bilang kalau Airin itu sepupuh dari mama.” Sean menjelaskan dengan


sedikit rinci.


”Adinda memangnya


kapan balik ke Jakartanya.” tanya Ahmadi masih dengan ponselnya yang sibuk.


”Lusi sama Aran


berginya barengan karena Adinda bakal balik ke apartemennya yang di Jakarta.


Aran mau mengemasi beberapa yang masih ketinggalan.” Sean mengambil ponselanya


menghubungi lusi.


”Ya hallo.” suara

__ADS_1


Lusi terdengar jelas.


”Kamu udah


sampai, belom.” ke tiga orang yang tengah makan itu terlihat khawatir.


”Ini lagi beres


beres. Ada apa.” tanya Lusi yang membuat Anna menyuruh Sean segera bertanya


soal Aran.


”Aran di mana.”


”Keluar beli


makan.”


”kalian baliknya


jam berapa.”


” kayaknya


setengah jam lagi deh” jawab Lusi setelah melirik jam.


”Adinda belum


nyampe.” Sean sedikit penasaran.


”harusnya sudah


di bandaran sekarang.”


”Aran gak pergi jemput.”


pertanyaan Sean membuat Anna menjitak kepalanya.


”Gak tahu juga


sih, soalnya di perjalanan tadi Aran kayaknya mengabari seseorang deh,  mungkin Adinda.” jelas Lusi yang masih masa


bodo.


”Yaudah. Kamu


hati hati.” Sean menutup panggilanya.


Suana menjadi


sedikit lega, setidaknya saat Aran sampai di bandung Airin sudah berada di


rumah.


Kedua remaja yang


berada di cafe dengan tema kopi itu  terlihat sedang asik bercanda. Mereka bahkan terdengar bercerita masa


lalu yang seru.


”Aku mau ajak


kamu ke kebun buah mau gak.” tawar Reno dengan semangat. Airin mengguk. Mereka


berjalan menuju kebun strobery sekitar 1 kl meter dari temat sekarang.


Sampainya di sana


Reno membayar tiket masuk. Mereka berjalan diantara ratusan buah strobery yang


beragam.


”Jangan makan yang


itu.” Reno mengambil buah dari tangan Airin ketika akan di masukan ke dalam


mulutnya. ”Yang ini, aku udah sering ke sini jadi tau mana yang asem sama


enggak.” Reno berkata dengan yakin. Airin memakannya segera. Gadis itu terus


menerus memakan buah tanpa henti.


Buah strobery


yang besar akan sekali masuk ke dalam mulutnya sementara yang kecil akan masuk


sampai 3. Reno tersenyum memperhatikan Airin sibuk memilih stobery dan langsung


melahapnya.

__ADS_1


__ADS_2