Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 39


__ADS_3

Paginya, Aran terlihat buru buru setelah mandi. Melaju menuju apartemen Lusi. Sekitar 30


menit menuju ke sana, dan 30 menitnya lagi kembali ke rumah.


Mereka sampai saat matahaari baru akan menyapa. Suara yang terdengar dari luar membuat Airin yang


 tengah mengatur makanan di meja, merasa penasaran.


Menatap sejenak makanannya, membayangkan respon Aran yang kagum padanya kemudian memberikan


ciuman di kening membuat Airin senyum sendiri. Baru beberapa langkah akankeluar, terlihat lusi yang tengah menarik kopernya.


Airin kaget berbalik badan segera masuuk ke dalam kamarnya, mencoba sembunyi di sana.


”Airin.” suara Lusi membuat langkahnya di depan pintu tertahan.


”Ka Lusi.” Airin melangkah masuk ke dalam pelukannya.


”Hy adik ipar.” Sean mengcak rambut Lusi yang sudah rapi dengan seragam sekolah.


”Nginep beberapa hari boleh kan, soalnya bolak balik apartemen jauh.” lusi mendekap Airin yang


mengangguk dalam pelukan.


”Jangan di rusakin sean.” lusi dngan nada ketus.


”Adik ipar ini pinter masak juga.” Sean menghampiri meja makan yang memang kursinya tepat


dengan jumblah mereka.


Aran yang baru masuk, melirk Airin yang setengah badannya berada dalam pelukan Lusi.


”Kamu udah siap.” Aran menyadari eksperi Airin.


”Iya.” Airin melepaskan diri. Melangkah masuk ke dalam kamar.


Sean melahap makanan tanpa ragu sebelum dirinya menatap Aran, dan Lusi bergantian dengan

__ADS_1


wajah kecut.


Tangan Aran segera mentup mulut Sean. Tak lama Airin keluar dari kamar. Dan akan ikut


duduk di kursi untuk sarapan.


”Rin, kita agak buruan yah, ada rapat jam 8.” Aran berdiri dengan terburu buru.


Airin kembali berdiri tegap. Dengan wajah bingung dan senyuman bimbang mengikuti langkah Aran


setelah berpamitan pada Lusi dan Sean.


Di perjalanan yang hampir sampai di sekolah, Aran memberikan sepotong sandwich.


”Ternyata kamu bisa masak.” Aran dengan senyuman khasnya.


”Aku baru mencoba nya tadi. Setelah menonton di youtube tadi malam.” melihat ekspresi Aran,


membuatnya yakin kalau masakannya enak.


”Apa daunya hancur pak.” Aran penasaran dengan hasil masakanya sendiri. Harusnya tadi dia memakanya


bersama.


”Enggak.” Aran  memegang bibirnya. ”Cara nya gitu aja sih sebenarnya.” keduanya lalu tertawa


kecil.


Memasuki sekolah. Airin segera ke kelas.


Di sambut Ema.


”Surprise" bertepatan dengan ledakan kembang api.


Airin panik dan gemetar karena kaget.


”kita berlima lolos.” berjalan sambil berpelukan.

__ADS_1


”Apa kita perlu merayakanya di club.” Ema memberi ide asal.


”Why not.” wilson hanya duduk dan memperhatikan mereka.


“What do you thingk.” Rey bertanya pada Wilson.


“Its not good idea.” Airin berjalan menuju kursinya dengan sedikit  cemas.


”Hy come on.” Ema mencoba membujuk.


“What happen.” Anara merasa Airin tak biasanya.


”Pak Aran gak bakal izinin aku pergi.” Airin tak mau membahasnya, dan malah membuka buku.


”Airin. My dad and my mom same. Kalau aku pamit pergi ke clubing yah gak bakal di bolehin sekalipun nangis darah.” Anara merenggut.


“Calm  down. You have body guard.” Ema melirik Wilson dan Reynald, di ikuti Anara dan Airin.


Paham dengan maksud Ema. Keduanya mengangguk setuju. Reynald terlihat tertekan. Tak maumengambil resiko.


Mereka menyusu strategi. Setelah pulang sekolah, Airin memikirkan dengan gugup bagaimana


rencana mereka. Akhir akhir ini dirinya sering pergi dengan alasan kerja


kelompok atau sekedar main.


Airin mencoba keluar dari kamarnya. Berjalan dengan pelan menuju kamar Aran. Di sana terlihat tengah berberes beres.


”Pak Aran mau kemana.” mengamati dengan jeli. Mengintip dari lubang kunci.


”Ka Lusi sama ka Sean kemana yah.” Airin masih mencoba mengintip. Dirinya berlari kecil menghindaripintu kala Aran. melangkah ke arah pintu.


Laki laki itu menuruni anak tangga menuju ke luar tanpa membawa apapun. Airin mengikutinya.


Sampai mereka bertemu di ruangan tamu.


”Airin.” Aran melihat tingkah anehnya.

__ADS_1


__ADS_2