Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 54


__ADS_3

Perjalan pulang Aylen yang masih enggan berbicara dengan Aran.


"Kamu lapar gak." Aran khawatir Airin lapar.


"Makasih yah pak Aran atas perhatianya, tapi aku gak lapar."Airin dengan kalimat formal.


Aran tersenyum dengan tingkah barusan.


"Kamu kenapa." Merasa aneh.


"Gak apa apa." Wajah terkesan jutek.


"Abis lomba mau liburan ke bandung gak? Mama nelfon tadi malam sama ka Sean." Aran mengalihkan pembicaraan.


"Maaf yah pak, aku gak bisa ikut." Airin terus berbicara formal.


Bahkan sampai mereka sampai di rumah.


Sean dan lusi berada di sekolah sebagai pengawas dari kampus. Atau mungkin sebentar lagi pulang.


Saat tiba Airin segera turun tanpa memperdulikan Aran.


Aran mengejarnya sampai mereka berada di dalam rumah. Menarik pergalang Airin.


"Kamu kenapa." Aran dengan suara lembut.


Airin menangis layaknya anak kecil.


"Sikap kamu pas masuk di kantor tadi aneh banget." Aran segera membawa Airin ke dalam pelukanya.


"Kamu bisa cerita kalau mau." Aran masih mengelus lembut di sana.

__ADS_1


Airin terus menagis, tanpa bicara.


Tanpa sadar pintu terbuka, Sean dan Lusi melihat keduanya berpelukan.


"Ka Sean." Sapa Aran. Mendengar itu Airin segera menarik diri.


"Ka Sean, kak Lusi." Sapa Airin segera masuk ke kamar.


Merasa malu dengan apa yang di lihat oleh kedua kaka iparnya.


Aran terus tersenyum melihat tingkah Airin.


Sean menatap Aran, keduanya saling tersenyum.


Hal itu membuktikan kalau perkataan Sean tadi malam ada kemajuan.


Bukan lagi pasangan baru yang menikah, akan tetapi bisa di katakan mereka yang sama sekali belum saling bersentuhan merasa layaknya pasangan baru.


Mereka ini di jodohkan, pacaran setelah menikah namun entah apa yang terjadi masih sama sama enggan merasa saling memiliki.


"Airin." Panggilnya setelah memutar handle pintu yang terkunci dari dalam.


"Di kunciin pintu nie ee." Ejek Sean kemudian tertawa. Berujung dapat cubitan dari Lusi.


"Apaan sih kamu." Menyeret Sean ke kamar.


"Airin pintunya buka donk." Aran terus mengetuk.


Pintu terbuka setelah Airin habis mandi.


Aran duduk di sofa setengah berbaring.

__ADS_1


"Bapak." Memanggil pelan pelan. Beberapa kali sampai kesal, Airin berjalan mendekati kursi.


Aran terlelap di sana. Airin tak kehabisan akal.


Airin berjalan menuju dapur, mengabil es batu dan mencapurnya dengan sedikir air.


Airin merendam tanganya ke dalam air es beberapa lama. Setelah itu menempelkan tanganya ke wajah Aran.


Meletakanya hampir 3 detik Aran bereaksi. Memegang kedua tangan Airin.


"Dingin banget tangan kamu." Aran dengan bola mata yang merah bicara.


"Biar bapak bangun." Airin masih menggunakan baju mandi.


"Kenapa keluar pakai baju mandi sih, ka Sean lihat bagimana.' Aran membawa Airin masuk kedalam kamar.


"Lmeari aku macet, gak bisa kedorong, tadi sempat bangunin bapak, aku manggil beberapa kali tapi bapak gak bangun." Airin menjelaskan.


"Maaf yah banguninya pakai cara ini." Tangan Airin masih berada dalam genggaman Aran.


"Tuh tangan kamu sampai merah." Aran meletaknya kembali ke wajahnya.


"Eh dingin lho pak." mencoba manarik tanganya.


"Biar dinginya berkurang." Setelah di rasa cukup Aran mencoba menggeser pintu lemari yang macet.


"Ini lemarinya ganti aja, biar sekalian bajju aku masuk ke dalam juga." Kalimat Aran membuat kupu kupu di hati Airin berterbangan.


"Apa apaan ini." Airin bahkan sulit untuk tidak tersenyum malu.


"Apa kami bakal jadi pasangan pada umumnya." Masih bertanya dalam hatinya. Airin berharap hal itu

__ADS_1


Jangan lupa like dan comentarnya.


Klikl Favorite ya


__ADS_2