Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 13


__ADS_3

Aran mengoleskanya dengan pelan. Setelah itu Kembali menarik selimut untuk menutupi kaki Airin. Aran berjalan ke dekat nakas, dirinya meletakan minyak oles, tak


sengaja menatap wajah imut gadisnya. Tanganya bergerak menyikapi anak rambut yang nakal di wajah Airin.


Ibu jarinya turun menyentuh bibir mungil hingga senyumnya terukir. Astaga sadar Aran.


Lelaki itu segera


berdiri, sempat bertolak pinggang, menatap kembali wajah yang membuat candu, Aran hendak


berjalan keluar namun baru beberapa langkah kembali menatap wajah Airin dan


berakhir dengan mengusap kasar wajahnya.


Aran berakhir


mandi untuk waktu yang lama. Entah apa yang terjjadi sepertinya tindakannya


tepat. Sampai pagi hari Aran yang hanya menggunakan baju tidur segera bangun


ketika cahaya matahari masuk memalui cela kaca yang menghampiri wajahnya.


Mengusapnya perlahan


sebelum teringat dengan Airin. Lalaki itu segera kembali melihat Airin di


kamar. Hal pertama yang Aran lakukan menghidupkan lampu utama kemudian


mematikan lampu tidur. Mendekat pada gadis yang masih terlelap itu.


”Airin.” Aran


membangunkan nya dengan pelan, tanganya merasakan hangat pada tubuh Airin.


Berkali kali memastikan dengan menyamakan suhu tubuhnya.


“Aduh badanya


panas.”  Aran meletakan thermometer pada


ketiak Airin.

__ADS_1


Aran mencoba


untuk mengompres dengan air hangat. Untuk beberapa lama tubuh Airin baru


meresponya.


“Airin.” Aran


memanggil. ”Badan kamu demam, jjadi hari ini gak pergi kesekolah dulu.” Aran


terlihat sibuk memeras handuk.


”Bapak gak pergi


ngajar.” Airin bertanya dengan suara nafas sesak. Aran menggelengg.


”Kalau aku pergi,


kamu siapa yang nemenin.” kata Aran menyimpan kembali handuk kompres ke dahi


Airin.


”kamu mau sarapan


”Bubur aja.”


Airin menarik selimut dengan perlahan, wajahnya sedikit tersenyum.


Aran menggegam


tangan Airin beberapa saat. Kemudian Kembali mengganti handuk kompres dan


membersihkan tubuh Airin, tanpa menyentuh bagian tertentu.


”Tungguin yah,


Abis sarapan langsung minum obatnya.” kata Aran membawa kembali air bekas


membasuh.


Setelah semua sudah

__ADS_1


di lakukan Aran menelfon pihak sekolah


untuk memberi tahu kalau dirinya tengah tidak masuk mengajar. Niat hati ingin mengizinkan Airin malah menyelamatkan dirinya,


mengingat kalau pihak sekolah tak ada yag tahu tentang pernikahan mereka. Ya


ampun Aran.


Bell pintu


terdengar, lelaki itu berjalan untuk mengambil pesananya. Segera meletakanya ke


dalam piring kemudian memberikanya pada Airin.


”Kamu bisa


setengah duduk gak.” Airin mengangguk. Segera bangun, melihat istrinya kerepotan


Aran membantu dengan mengganjal bantal.


”Buburnya di aduk


atau enggak.” Airin kembali menggeleng. Aran mulai mencoba buburnya lebih dulu


sebelum memberikanya pada Airin.


Awalnya Airin


terlihat ragu. ”Itu bekas sendok dari mulutnya.” Airin ingin berteriak namun


ketika Aran menyupainya mulut nya terbuka dengan pasrah.


Wah Aran sangat


sangat bertanggung jawab.


Aran teringat kala Airin hari pertama demam, dirinya khawatir lalu menelfon ibunya, dengan saran dari Anna,  kemudian  Aran, mengikutinya al hasil Airin sembuh dari demamnya dengan cepat.


mengingat jelas kata kata ibunya.


"Di kompres air dingin, tapi jangan yang dingin banget. Periksa suhunya tiap 2 jam. kalau handuknya udah setenngah lembab kompresin lagi. Kalau demanya gak turun sampai besok pagi bawa ke dokter." pesan Anna yang melintas di benak Aran. bersyukurnya memiliki ibu yang tahu segalanya

__ADS_1


Meski panik malam itu tapi sedikit membuat hati Aran lega. Mengikutinya sampai ke club dengan rasa khawatir. Betapa beratnya tanggung jawab pada seorang anak perempuan.


__ADS_2