
Aran mengoleskanya dengan pelan. Setelah itu Kembali menarik selimut untuk menutupi kaki Airin. Aran berjalan ke dekat nakas, dirinya meletakan minyak oles, tak
sengaja menatap wajah imut gadisnya. Tanganya bergerak menyikapi anak rambut yang nakal di wajah Airin.
Ibu jarinya turun menyentuh bibir mungil hingga senyumnya terukir. Astaga sadar Aran.
Lelaki itu segera
berdiri, sempat bertolak pinggang, menatap kembali wajah yang membuat candu, Aran hendak
berjalan keluar namun baru beberapa langkah kembali menatap wajah Airin dan
berakhir dengan mengusap kasar wajahnya.
Aran berakhir
mandi untuk waktu yang lama. Entah apa yang terjjadi sepertinya tindakannya
tepat. Sampai pagi hari Aran yang hanya menggunakan baju tidur segera bangun
ketika cahaya matahari masuk memalui cela kaca yang menghampiri wajahnya.
Mengusapnya perlahan
sebelum teringat dengan Airin. Lalaki itu segera kembali melihat Airin di
kamar. Hal pertama yang Aran lakukan menghidupkan lampu utama kemudian
mematikan lampu tidur. Mendekat pada gadis yang masih terlelap itu.
”Airin.” Aran
membangunkan nya dengan pelan, tanganya merasakan hangat pada tubuh Airin.
Berkali kali memastikan dengan menyamakan suhu tubuhnya.
“Aduh badanya
panas.” Aran meletakan thermometer pada
ketiak Airin.
__ADS_1
Aran mencoba
untuk mengompres dengan air hangat. Untuk beberapa lama tubuh Airin baru
meresponya.
“Airin.” Aran
memanggil. ”Badan kamu demam, jjadi hari ini gak pergi kesekolah dulu.” Aran
terlihat sibuk memeras handuk.
”Bapak gak pergi
ngajar.” Airin bertanya dengan suara nafas sesak. Aran menggelengg.
”Kalau aku pergi,
kamu siapa yang nemenin.” kata Aran menyimpan kembali handuk kompres ke dahi
Airin.
”kamu mau sarapan
”Bubur aja.”
Airin menarik selimut dengan perlahan, wajahnya sedikit tersenyum.
Aran menggegam
tangan Airin beberapa saat. Kemudian Kembali mengganti handuk kompres dan
membersihkan tubuh Airin, tanpa menyentuh bagian tertentu.
”Tungguin yah,
Abis sarapan langsung minum obatnya.” kata Aran membawa kembali air bekas
membasuh.
Setelah semua sudah
__ADS_1
di lakukan Aran menelfon pihak sekolah
untuk memberi tahu kalau dirinya tengah tidak masuk mengajar. Niat hati ingin mengizinkan Airin malah menyelamatkan dirinya,
mengingat kalau pihak sekolah tak ada yag tahu tentang pernikahan mereka. Ya
ampun Aran.
Bell pintu
terdengar, lelaki itu berjalan untuk mengambil pesananya. Segera meletakanya ke
dalam piring kemudian memberikanya pada Airin.
”Kamu bisa
setengah duduk gak.” Airin mengangguk. Segera bangun, melihat istrinya kerepotan
Aran membantu dengan mengganjal bantal.
”Buburnya di aduk
atau enggak.” Airin kembali menggeleng. Aran mulai mencoba buburnya lebih dulu
sebelum memberikanya pada Airin.
Awalnya Airin
terlihat ragu. ”Itu bekas sendok dari mulutnya.” Airin ingin berteriak namun
ketika Aran menyupainya mulut nya terbuka dengan pasrah.
Wah Aran sangat
sangat bertanggung jawab.
Aran teringat kala Airin hari pertama demam, dirinya khawatir lalu menelfon ibunya, dengan saran dari Anna, kemudian Aran, mengikutinya al hasil Airin sembuh dari demamnya dengan cepat.
mengingat jelas kata kata ibunya.
"Di kompres air dingin, tapi jangan yang dingin banget. Periksa suhunya tiap 2 jam. kalau handuknya udah setenngah lembab kompresin lagi. Kalau demanya gak turun sampai besok pagi bawa ke dokter." pesan Anna yang melintas di benak Aran. bersyukurnya memiliki ibu yang tahu segalanya
__ADS_1
Meski panik malam itu tapi sedikit membuat hati Aran lega. Mengikutinya sampai ke club dengan rasa khawatir. Betapa beratnya tanggung jawab pada seorang anak perempuan.