
Sore harinya
mereka bersiap siap untuk berangkat. Airin menggunakan sepasang baju yang
blezernya sepanjang dengan celana sampai di lutut.
”Di bandung
dingin lho.” kata Aran ketika melihat penampilan Airin dengan koper pink dan
boneka kesayanganya. Kalimat Aran membuat Airin mengangguk tanpa paham.
”Aku udah pernah
ke bandung ko.” Airin sedikit tak paham dengan maksud Aran.
Mereka bersiap
berangkat, setelah Aran memastikan segalanya, dari menguci rumah dan beberapa
keperluan nya nanti di sana.
”Oh iya kamu
ingat gak sama cowok yang waku itu ngasih aku dasi.” perjalanan mereka di
bumbui perbincangan ringan. Airin terlihat berfikir.
”Emm, temen bapak
yang ganteng itu.” Airin berkata dalam mengingat. Aran sedikit merengut.
”Iya, namanya Sean.
Nanti kamu bakal bertemu denganya di sana.” kata Aran membuat Airin masih
mengingat. Ingatan moment pernikahan mereka yang singkat membuat Airin sedikit
tak fokus dengan beberapa orang yang hadir.
Di jalan Airin
beberapa kali tertidur. Dan Aran
menyempatkan hal itu untuk menatap Airin lebih lama. Sesekali dirinya
menyingkirkan anakkan rambut yang bandel.
Dirinya menurunkan kursi agar Airin tidur
dengan nyaman, dan juga mempermudah Aran melirik Airin dari cermin tengah.
Idenya pak guru
memang beda.
Hampir petaang
mereka sampai. Di jalan Airin sempat bangun tapi Kembali tidur. Dan saat
memasuki halaman rumah baru Aran
membangunkan Airin.
”Airin, kita udah
sampai.” Aran membangunkan dengan lembut setelah membawa koper mereka masuk.
Airin membuka matanya perlahan.
Airin menggeliat
sebentar. ”Jadi ini rumah bapak.” yang masih setengah sadar.
”Bukan di sini,
coba lihat kedepan.” Airin mengikuti ucapan Aran. Dan benar saja di sana ada
beberapa orang yang terlihat berjalan mendekat.
”Wah, rumah bapak
kayak resort yah.” reaksi Airin diangggap berlebihan. Sampai membuka mulutnya.
”Eh anak mama
udah datang.” Anna merangkul Airin yang melirik pada Aran. Membalasnya dengan
senyuman.
Airin berjalan
dalam pelukan Anna masuk kedalam rumah.
”Kamu perlu
nutrisi banget, tapi tenang aja mama udah masakin makanan enak.” Anaa terus
berceloteh sepanjang jalan.
Sementara Aran
dan Ahmadi tersenyum melihat tingkah Anna.
Ibu yang memiliki
__ADS_1
anak laki laki semua tentu saja sangat ingin memiliki anak perempuan.
”Sean, Lusi,
lihat siapa yang datang.” Anna setengah berteriak membawa Airin ke meja makan.
”Wah, kamu
ternyata imut banget yah.” sambut Sean dengan senyuman yang hampir sama dengan Aran.
”Eh awas, itu
istri aku yeah.” kata Aran tiba tiba. Airin melirik Aran dengan malu.
”Pinter banget
sih milihnya.” sahut Lusi, yang membuat Aran terlihat sok keren.
”Sini duduk, kamu
kan baru sampai jaddi harus makan yang banyak.” Anna mengambilkan nasi dan lauk
yang banyak.
Airin menatap nya
dengan cemas, piring nya terlalu penuh.
”Makan yang
banyak.” kata Anna dengan semangat.
Yang lain
memperhatikan tingkah Anna yang terlihat sangat senang.
”Duh aku punya
saingan nih.” Lusi berkata dengan mimik di buat buat.
”Aku sudah selesai
mengurusmu, kau selalu merasa tertekan dengan perhatianku, itu membuatku
sedih.” ucapan Anna membuat keluarga
besar itu tertawa.
”Entahlah mah,
apa aku harus bersyukur atau sedih.” Lusi berkata dengan nada gembira.
”Tatapan mu
Perbincangan hangat keluarga itu terasa indah.
Beberapa saat
setelah mereka selesai menyantap makanan, Airin berbaring di kamar milik Aran
dengan sulit bergerak.
”Aku merasa
perutku akan meledak.” Airin hampir menangis.
”Kenapa kau
menghabiskannya.” Aran memberikan minyak angin.
Dengan suara
tangis yang di buat buat Airin mmulai mengoleskan minyak pada perutnya.
”Tunggu sampai 15
menit. Perutmu akan membaik. Lampunya aku kasih yang redup yah” kata Aran
sebelumnya dirinya keluar dengan membawa selimut.
Airin hanya bisa
berbaring menghadap langit langit kamar. Lirikan matanya memperhatikan ruangan Aran
yang luas dan klasik. Tak banyak pernak pernik seperti kamarnya, namun itu terasa
nyaman.
Karena perjalan Airin
kebanyakaan tidur, saat tengah malam dirinya kesulitan untuk menutup mata. Rasa
jenuh membuat nya kembali mengambil ponselnya, dan mencari kesibukan di sana.
”Ini wilson
kenapa sih, gangu banget tahu.”Merasa kesal. Menatap layar ponsel lebih banyak pesan dari wilson dari pada yang
lainya.
Ponselnya kembali
berbunyi hingga membuat Airin kaget.
”Hiss.” Airin
__ADS_1
merasa kesal dan akan membanting ponselnya, namun berubah pikiran.
”Apaan sih.” Airin
menjawab ketus tanpa melihat camera.
“Akhirnya di
angkat juga.” Kalimat wilson membuat Airin menatapnya dengan tajam.
”Besok aku
jemput.” wilson terdengar ramah.
“Gak mau.” Airin
menolak cepat.
”Gak ada alasan.”
suara wilson terdengar egois.
Airin melirik
malas. ”Bye aku mau tidur.” kalimat yang membuat Airin segera memutuskan
panggilan.
”Ah, selalu
merusak mood aku.” Airin meukul ranjang berlaki kali.
Saat pintu
terbuka, Airin berakting tertidur. Dengan layar ponsel masih menyala. Aran
tertawa melihatnya terlebih suara dengkuranya terdengar di buat buat.
Aran meliriknya
dengan senyuman,hingga langkahnya keluar dari kamar. Mendengar suara pintu
tertutup Airin melirik beberapa saat, kemudian mencari ponselnya lagi untuk
membalas pesan Anara.
Tangan baru
melihat layar ponnsel pintu kembali terbuka, dirinya dengan cepat berakting.
Namun kali ini handphone nya berada di atas dadanya.
”Uhh, kenapa
masuk lagi sih.” Airin mencoba tetap menutup mata.
Aran kembali
meliriknya, cahaya yang remang di kamarnya dapat melihat jelas bola mata Airin
yang bergerak.
Aran dengan
sengaja berlama lama untuk mengerjai Airin.
”Aku simpan di
bagian mana yah.” Aran bersuara dengan menatap wajah Airin. Dirinya sengaja
menimbulkan bunyi barang agar Airin merasa Aran tengah mencari sesuatu.
”Kayaknya di
nakas deh.” langkahnya mendekat ke ranjang.
”Bapak nyari
apaan yah.” Airin merasa penasaran.
Perlahan Airin
mencoba melirik, membuka sedikit matanya, gawat nyata nya Aran tepat berada di
depan wajahnya. Mata Airin terbuka lebar, keduanya saling menatap, sebelum Airin
kembali bergerak memalingkan wajahnya.
Aran terus
tersenyum. Kemudian berjalan keluar.
”Bodoh, akkkk.”
sekarang Airin merasa malu. Dirinya ketahuan berbohong. ”Bagaimana aku
menghadapiinya besok.” Airin dengan menyesal bergumam. Meratapi kesalahanya
tanpa henti.
Ponselnya dalam
gengaman namun sama sekali di gunakan. Uring uringan di tempat tidur karena
kelalaian menyebalkan.
__ADS_1