Pak Aran Suami Idaman

Pak Aran Suami Idaman
Bab 22


__ADS_3

Sore harinya


mereka bersiap siap untuk berangkat. Airin menggunakan sepasang baju yang


blezernya sepanjang dengan celana sampai di lutut.


”Di bandung


dingin lho.” kata Aran ketika melihat penampilan Airin dengan koper pink dan


boneka kesayanganya. Kalimat Aran membuat Airin mengangguk tanpa paham.


”Aku udah pernah


ke bandung ko.” Airin sedikit tak paham dengan maksud Aran.


Mereka bersiap


berangkat, setelah Aran memastikan segalanya, dari menguci rumah dan beberapa


keperluan nya nanti di sana.


”Oh iya kamu


ingat gak sama cowok yang waku itu ngasih aku dasi.” perjalanan mereka di


bumbui perbincangan ringan. Airin terlihat berfikir.


”Emm, temen bapak


yang ganteng itu.” Airin berkata dalam mengingat. Aran sedikit merengut.


”Iya, namanya Sean.


Nanti kamu bakal bertemu denganya di sana.” kata Aran membuat Airin masih


mengingat. Ingatan moment pernikahan mereka yang singkat membuat Airin sedikit


tak fokus dengan beberapa orang yang hadir.


Di jalan Airin


beberapa kali tertidur.  Dan Aran


menyempatkan hal itu untuk menatap Airin lebih lama. Sesekali dirinya


menyingkirkan anakkan rambut yang bandel.


Dirinya menurunkan kursi agar Airin tidur


dengan nyaman, dan juga mempermudah Aran melirik Airin dari cermin tengah.


Idenya pak guru


memang beda.


Hampir petaang


mereka sampai. Di jalan Airin sempat bangun tapi Kembali tidur. Dan saat


memasuki  halaman rumah baru Aran


membangunkan Airin.


”Airin, kita udah


sampai.” Aran membangunkan dengan lembut setelah membawa koper mereka masuk.


Airin membuka matanya perlahan.


Airin menggeliat


sebentar. ”Jadi ini rumah bapak.” yang masih setengah sadar.


”Bukan di sini,


coba lihat kedepan.” Airin mengikuti ucapan Aran. Dan benar saja di sana ada


beberapa orang yang terlihat berjalan mendekat.


”Wah, rumah bapak


kayak resort yah.” reaksi Airin diangggap berlebihan. Sampai membuka mulutnya.


”Eh anak mama


udah datang.” Anna merangkul Airin yang melirik pada Aran. Membalasnya dengan


senyuman.


Airin berjalan


dalam pelukan Anna masuk kedalam rumah.


”Kamu perlu


nutrisi banget, tapi tenang aja mama udah masakin makanan enak.” Anaa terus


berceloteh sepanjang jalan.


Sementara Aran


dan Ahmadi tersenyum melihat tingkah Anna.


Ibu yang memiliki

__ADS_1


anak laki laki semua tentu saja sangat ingin memiliki anak perempuan.


”Sean, Lusi,


lihat siapa yang datang.” Anna setengah berteriak membawa Airin ke meja makan.


”Wah, kamu


ternyata imut banget yah.” sambut Sean dengan senyuman yang hampir sama dengan Aran.


”Eh awas, itu


istri aku yeah.” kata Aran tiba tiba. Airin melirik Aran dengan malu.


”Pinter banget


sih milihnya.” sahut Lusi, yang membuat Aran terlihat sok keren.


”Sini duduk, kamu


kan baru sampai jaddi harus makan yang banyak.” Anna mengambilkan nasi dan lauk


yang banyak.


Airin menatap nya


dengan cemas, piring nya terlalu penuh.


”Makan yang


banyak.” kata Anna dengan semangat.


Yang lain


memperhatikan tingkah Anna yang terlihat sangat senang.


”Duh aku punya


saingan nih.” Lusi berkata dengan mimik di buat buat.


”Aku sudah selesai


mengurusmu, kau selalu merasa tertekan dengan perhatianku, itu membuatku


sedih.”  ucapan Anna membuat keluarga


besar itu tertawa.


”Entahlah mah,


apa aku harus bersyukur atau sedih.” Lusi berkata dengan nada gembira.


”Tatapan mu


Perbincangan hangat keluarga itu terasa indah.


Beberapa saat


setelah mereka selesai menyantap makanan, Airin berbaring di kamar milik Aran


dengan sulit bergerak.


”Aku merasa


perutku akan meledak.” Airin hampir menangis.


”Kenapa kau


menghabiskannya.” Aran memberikan minyak angin.


Dengan suara


tangis yang di buat buat Airin mmulai mengoleskan minyak pada perutnya.


”Tunggu sampai 15


menit. Perutmu akan membaik. Lampunya aku kasih yang redup yah” kata Aran


sebelumnya dirinya keluar dengan membawa selimut.


Airin hanya bisa


berbaring menghadap langit langit kamar. Lirikan matanya memperhatikan ruangan Aran


yang luas dan klasik. Tak banyak pernak pernik seperti kamarnya, namun itu terasa


nyaman.


Karena perjalan Airin


kebanyakaan tidur, saat tengah malam dirinya kesulitan untuk menutup mata. Rasa


jenuh membuat nya kembali mengambil ponselnya, dan mencari  kesibukan di sana.


”Ini wilson


kenapa sih, gangu banget tahu.”Merasa kesal. Menatap layar ponsel  lebih banyak pesan dari wilson dari pada yang


lainya.


Ponselnya kembali


berbunyi hingga membuat Airin kaget.


”Hiss.” Airin

__ADS_1


merasa kesal dan akan membanting ponselnya, namun berubah pikiran.


”Apaan sih.” Airin


menjawab ketus tanpa melihat camera.


“Akhirnya di


angkat juga.” Kalimat wilson membuat Airin menatapnya dengan tajam.


”Besok aku


jemput.”  wilson terdengar ramah.


“Gak mau.” Airin


menolak cepat.


”Gak ada alasan.”


suara wilson terdengar egois.


Airin melirik


malas. ”Bye aku mau tidur.” kalimat yang membuat Airin segera memutuskan


panggilan.


”Ah, selalu


merusak mood aku.” Airin meukul ranjang berlaki kali.


Saat pintu


terbuka, Airin berakting tertidur. Dengan layar ponsel masih menyala. Aran


tertawa melihatnya terlebih suara dengkuranya terdengar di buat buat.


Aran meliriknya


dengan senyuman,hingga langkahnya keluar dari kamar. Mendengar suara pintu


tertutup Airin melirik beberapa saat, kemudian mencari ponselnya lagi untuk


membalas pesan Anara.


Tangan baru


melihat layar ponnsel pintu kembali terbuka, dirinya dengan cepat berakting.


Namun kali ini handphone nya berada di atas dadanya.


”Uhh, kenapa


masuk lagi sih.” Airin mencoba tetap menutup mata.


Aran kembali


meliriknya, cahaya yang remang di kamarnya dapat melihat jelas bola mata Airin


yang bergerak.


Aran dengan


sengaja berlama lama untuk mengerjai Airin.


”Aku simpan di


bagian mana yah.” Aran bersuara dengan menatap wajah Airin. Dirinya sengaja


menimbulkan bunyi barang agar Airin merasa Aran tengah mencari sesuatu.


”Kayaknya di


nakas deh.” langkahnya mendekat ke ranjang.


”Bapak nyari


apaan yah.” Airin merasa penasaran.


Perlahan Airin


mencoba melirik, membuka sedikit matanya, gawat nyata nya Aran tepat berada di


depan wajahnya. Mata Airin terbuka lebar, keduanya saling menatap, sebelum Airin


kembali bergerak memalingkan wajahnya.


Aran terus


tersenyum. Kemudian berjalan keluar.


”Bodoh, akkkk.”


sekarang Airin merasa malu. Dirinya ketahuan berbohong. ”Bagaimana aku


menghadapiinya besok.” Airin dengan menyesal bergumam. Meratapi kesalahanya


tanpa  henti.


Ponselnya dalam


gengaman namun sama sekali di gunakan. Uring uringan di tempat tidur karena


kelalaian menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2