
“Oke deal." Ucapan Bakrie tadi malam membuat Airin berfikir keras semalaman. Dampaknya Airin bangun kesiangan
“Dady iiiiiii. I am let.” Teriak Airin dari kamar setelah mendengar dering ponselnya.
Benar benar pagi yang kacau. Bagaimana bisa dirinya bangun dengan matahari yang hampir setengah jalan. Rasanya sedang mengejar waktu.
Oh my good.
Airin berlari menuju kelas. Dirinya bahkan sama sekali tidak meminta uang jajan. Pagi hari
yang terlalu cepat.
“Ahh shick.” Airin berlari sambil menghindari Emma. Bendahara kelas yang menagihnya kemarin.
“Don’t look t me. Pliss. Pliss pliss.” Airin seakan membaca mantra. Langkah begitu cepat
masuk ke dalam kelas.
Entah bagaimana
di pikirnya Emma akan melihatnya, jelas saja gadis itu sedang duduk dengan buku
novel di tanganya. Memang susah kalau bukan pembaca. Airin sangat tak sadar
dengan situasi.
Sampai dirinya masuk ke dalam kelas, dan Kembali bertemu dengan anara. Anak dengan segala
informasih terpercaya.
“Morning girl” sapa Anara.
‘Hm morning.” Airin berkata tanpa menoleh. Segera duduk dengan wajah yang terlihat kacau.
“Are you oke.” Tanya Wilson, anak pintar dengan segudang prestasi. Bertanya pun tanpa
ekspresi
“Yes.” Kata airin tanpa melihat.
“But your face look so troubled.” Matanya menatap dengan wajah serius
“You blind.” Airin Airin menatap kesal dengan tatapan malas.
“Owhhh. Hey men.” Reynald menghampiri kedunya. “Did I miss the news.” Gaya arogan membuat semua orang tak terlalu memperdulikan ucapanya.
Tingkah Airin membuat pupil mata Wilson membesar. Dirinya membuka halaman dengan sarkas.
“He is not my girlfriend. But be careful with my best friend.” Kata Reynald. Suara itu
masih terdengar lembut.
Wilson hanya menatap wajah lelaki yang baru saja bicara dengan tatapan merendahkan.
“Hay Wilson. Apa kau lupa lagi menyikat gigi mu, because I just smelled pee around here.” Anarah
seolah mencari cari bau.
Para siswa yang mendengranya tertawa. Rahang Wilson mengeras, dengan tatapan mata tajam dirinya pergi meninggalkan kelas dengan wajah datar.
__ADS_1
Amarah membuat wilson tak fokus dengan langkahnya sampai menabrak Emma di pintu masuk. Gadis
bak barbie itu terlihat ketakutan saat melihat Wilson sampai akhirnya lelaki yang tengah marah itu melanjutkan langkahnya.
“Hey, did you just save me.” Intonasi bernada pujian dari Reynald.
“Eemm, doo you think its free.” Anara telihat penuh maksud.
“Yeah.” Sahut Reynald, kagum.
"Just throw brain out.” Kata Anara mengejek. “Aku mau cemilan tanpa msg, sama lecy thea yang less sugar, because I am diet, and salad buah no milk.” Jelas Anara.
“Oh ****.” Reynald terlihat pasrah. “ money.” Kata Reynald akhirnya.
Anarah terlihat keheranan, begitu juga dengan Reynald yang
melihat tatapan aneh Anara.
“I really think you’re throwing your brain.” Tertawa. Anarah
mengangguk tak habis pikir. Terlebih Reynald paham ucapan Anara.
”Tititp, lecy thea. Sekalian.” suara bernada santai itu, terdengar. Dan Reynald hanya bisa
pasrah dengan ucapan Emma
Reynald kacung
Hahahahaha author tertawa.
Setengah hari sudah
“Apa aku terlihat butuh tumpangan.”Airin tersenyum. Ucapan barusan membuat Wilson ikut
tersenyum.
”Stay cool. This is free.” Suara datar namun tetap memaksa.
”Tangks.” Airin hanya berkata tanpa niat masuk ke mobil Wilson.
”Oh come on Airin, I am being kind.” Suara Wilson meyakinkan.
Airin menggela nafas. “Get out of my sight.” Wajahnya terlihat
tertekan.
“Aku tuh heran
banget sama kamu, kaya pintar aja sok jual mahal.” kalimat Wilson terdengar
merendahkan.
Memang terbilang
jauh bukan, kalau Wilson yang pertama mendapat juara umum di sekolah sementara
Anara yang ke 2, dan Emma ke 3 lalu, Reynald ke 4 dan Airin yang ke 5. Benar
benar tertinggal sangat jauh.
__ADS_1
Kalimat wilson membuat Airin kesal setengah mati. Mencoba menahan emosi dengan menjauh
beberapa langkah.
Wilson pun merasa
kesal karena tak di hiraukan, akhirnya dia keluar dari dalam mobil, dan menarik
tangan Airin.
“Kenapa kau
sangat menyebalkan. Kau bahkan tidak lebih pintar dari pada aku, jadi berhenti
menganggap dirimu itu bisa lebih baik.” ucap Wilson dengan wajah menyeramkan.
Airin merinding
ketakutan pada wilson. Genggamanya membuat pergelangan Airin terasa sakit.
“Remove your hand.” Suara Airin gemetar. Tatapannya mulai berair.
“Sick girl.” Wilson tertawa.
“Let go of my hand.” Airin kesal. “Do you know somethink,,
gak ada satu pun orng yang bangga sama lho. Walaupun lo itu juara dunia sekalipun, gak ada yang bakal bangga.” Airin berceloteh kesal kala tanganya di tarik. Kakinya menahan sekuat tenaga agar tak bergerak.
Suara wilson tertawa membuat takut Airin. Gengaman tanganya semakin terasa kuat. Ucapan yang
berhasil memancing emosi seorang Wilson
“Oh ya. Emangnya lho
pernah ngerasain juara 1? Orang kaya lho ini pasti iri banget sama gw kan. Emangnya
lho bisa kayak gw” wilson berteriak dengan sarkas.
“Yes i cant.” Airin mejawab lantang ucapan Wilson.
Keduanya saling menatap.
.”Wajah Wilson mengejek ucapan barusan. Tatapan Wilson sangat
merendahkan.
Kala keduanya saling menatap dengan kesal, dering ponsel mengalihakan perhatian keduanya.
“Who is that.” Tanya Wilson tanpa bas abasi.
“I don’t know. Gak adanama.” Jawab Airin.
“Gak usah di angkat.” Wilson
Kembali menarik tangan Airin.
“You not my dad.” Kata Airin. Jari nya dengan cekatan menggeser layer hijau.
”Hallo.” Airin menyapa lebih dulu.
__ADS_1
Hy guys jangan lupa tanda cintanya yeah.