
Airin bangun, posisinya tak lagi sama. Kemana Aran?
Masih mengumpukan nyawa, rasanya malu, Arann bangun lebih dulu darinya.
Istri macam apa ini?
Airin beranjak dari tempat tidur, Mencari ponselnya. Jam 6;15 sudah harus bersiap.
Melangkah malas, kakinya terasa berat masuk ke dalam kamar mandi.
Suara teriakan nya memenuhi rauangan.
"Pintunya kenapa gak di kunci." Airin bersuara cukup keras. Nafasnya tak beraturan.
Apa yang baru saja dia lihat. Ya ampun itu teralu memalukan.
Tak lama Aran keluar dari kamar mandi, mendapati Airin yang sedang pucat di baik pintu.
"Ensel pintu nya tadi macet."Katanya setelah keluar dari kamar mandi. Berhenti sebentar bicara dengan wanita yang baru saja berteriak.
Airin tak menunduk, wajahnya kemerahan. Tanpa bicara, segera masuk ke kamar mandi.
Selang beberapa lama, Airin memastikan Aran tak berada di kamar.
Rasanya akan sangat repot kalau mengganti baju ada sosok Aran.
__ADS_1
Mengeluarkan kepalanya lebih dulu, mengamati sudut ke sudut ruangan.
Rasanya cukup aman.
Airin melangkah, kakinya baru menginjak lantai, pintu kamar terbuka, di mana Aran baru saja masuk membawa segelas jus.
Break, suara pintu yang kembai mengagetkan Aran.
"Aku gak apa apa pak." Teriaknya mengagetkan.
Aran memasang wajah kebingungan.
"Aku simpan jus nya di meja, tadi mama udah buatin. Diminum yah." Aran bicara dengan sangat lembut. Sebellum keluar kamar.
"Iya pak." Sahut Airin dengan suara gemetar.
Perasaan gelisa itu mendominasi, pergerakanya.
Tak banyak drama saat memakai baju, menghabiskan jusnya lalu keluar kamar.
Aran menunggu Airin di meja meja makan, melihat Airin telah siap Aran, segera pamit dan Airin mengikuti untuk bersalaman pada Anna dan Ahmadi.
Apa yang terjadi tadi pagi masih terus membayangi Airin. Lirikkan matanya mulai mencuri curi pandang pada bagian Aran yang tertentu.
"Pernah jadi murid baru." Tanya Aran di perjalan mereka menuju sekolah. Airin menggeleng.
__ADS_1
"Pernah punya teman yang pindahan." Masih satu tujuan dari pertanyaan yang sebelumnya. Airin menggeleng.
"Nanti jawabnya yang seadanya aja yah." Kata Aran memberi tahu. Airin mengangguk.
"Misal nya, kayak gini." Aran memperaktekan dengan nada wanita. Keduanya tertawa gemas.
"Hy perkenalkan, nama saya Airin lunania, sebelumnya saya berasa dari school of merta." Airin memperkenakan diri sesuai dengan intruksi dari Aran.
"Hy Airin, kamu bisa duduk di samping aku kok." Tawar salah satu teman wanitanya.
Rasanya cukup senang, di sambut oleh beberapa orang yang bahagia karena kedatanganya.
Airin melangkah menuju tempat duduk kenalanya yang bersedia berbagi.
"Kenalin aku Hafsah anifa." Keduanya bersalaman tangan. Ikuti beberapa orang yang ingin berkenalan denganya.
Ternyata tidak buruk meninggalkan dengan alasan bisa lebih baik.
Kini Airin merasa semua harus di tulis kembali dengan yang baru,
Yang lama akan tetap jadi kenangan, cerita yang pernah ada namun tak perlu larut dalam kisah yang menyakitkan.
"Akan aku mulai kisahku di sini, lembaran baru dengan cerita ku dari sisik baiknya bersama orang orang yang baik juga. Aku tahu ini tidak mudah, tetapi aku tahu dengan cara berbeda aku akan sampai di tujuan cukup meruba jalur tanpa harus memindahkan finishnya." Airin tersenyum menyambut salaman tangan nya.
Hari ini berjalan cukup lancar, semua wajah tersenyum menatap padanya, kebahagian macam apa ini, terlalu indah.
__ADS_1
Jangan lupa tinggallakan jejak kalian yah, like, comment, dan favorite.